FinanSaya.com – Harga emas kembali menjadi perhatian setelah mencatat reli lebih dari 5 persen dalam tiga hari. Kenaikan itu membawa emas ke level tertinggi sejak 18 Juni 2026. Di tengah penguatan tersebut, pendiri sekaligus analis senior RM Capital, Rashad Hajiyev, mengeluarkan prediksi harga emas yang sangat agresif.
Ia memperkirakan emas dapat melonjak hingga US$8.000 per ons pada kuartal pertama 2027. Target tersebut jauh di atas harga emas yang saat ini berada di sekitar US$4.257 per ons. Jika proyeksi itu tercapai, emas masih perlu naik sekitar 88 persen dari level tersebut.
Hajiyev mendasarkan pandangannya pada breakout teknikal terbaru dan pola historis pergerakan emas.
Prediksi Harga Emas Muncul setelah Breakout
Menurut Hajiyev, emas baru saja keluar secara meyakinkan dari pola bullish descending wedge. Pola tersebut terbentuk selama sekitar enam bulan sebelum harga menembus area konsolidasi.
Hajiyev membandingkan kondisi saat ini dengan breakout emas pada pertengahan 2025. Saat itu, emas keluar dari fase konsolidasi sekitar 130 hari.
Setelah breakout tersebut, harga emas disebut naik sekitar 65 persen hanya dalam 157 hari. Pola historis itulah yang menjadi salah satu dasar proyeksi Hajiyev.
Dalam prediksi harga emasnya, ia menilai breakout Agustus 2026 dapat membuka peluang reli besar berikutnya. Bahkan jika kenaikan hanya mencapai 70 persen, emas masih dapat bergerak menuju sekitar US$7.000 per ons.
US$4500 Jadi Resistance Penting
Meski bullish, Hajiyev tetap menyoroti satu level penting yang harus ditembus emas. Level itu berada di sekitar US$4.500 per ons.
Resisten US$4.500 menjadi ujian terdekat sebelum pasar mulai membicarakan target yang jauh lebih tinggi. Jika emas mampu menembus area tersebut dengan kuat, momentum bullish dapat memperoleh konfirmasi tambahan untuk prediksi harga emas.
Sebaliknya, kegagalan menembus US$4.500 dapat membuat emas kembali masuk fase konsolidasi. Harga juga berisiko mengalami koreksi sebelum mencoba bergerak lebih tinggi.
Dengan demikian, target prediksi harga emas di US$8.000 bukan skenario otomatis. Breakout awal memang memberi sinyal positif, tetapi emas masih perlu menunjukkan kekuatan lanjutan di atas resistance terdekat.
Target US$8000 Butuh Kenaikan 88 Persen
Dengan asumsi harga emas berada di US$4.257 per ons, target US$8.000 membutuhkan kenaikan sekitar 87,9 persen.
Jika emas hanya mencapai target alternatif US$7.000, kenaikannya tetap besar. Dari level US$4.257, target tersebut berarti emas naik sekitar 64 persen.
Karena itu, beberapa bulan ke depan akan menjadi periode penting. Pasar akan menguji apakah breakout enam bulan benar-benar mampu berkembang menjadi reli jangka panjang menuju 2027.
UBS Juga Melihat Ruang Kenaikan
Pandangan bullish akan prediksi harga emas tidak hanya datang dari Hajiyev. UBS Group AG juga memperkirakan harga emas masih dapat bergerak lebih tinggi.
Namun, target UBS lebih konservatif. UBS memproyeksikan harga emas dapat mencapai sekitar US$5.200 per ons pada Juni 2027.
Perbedaan target ini menunjukkan besarnya ketidakpastian dalam membaca arah harga komoditas. Hajiyev melihat skenario kenaikan yang sangat agresif, sementara UBS memperkirakan penguatan yang lebih terbatas.
Baca Juga: ETF Emas Perdana Resmi Melantai di BEI
Bank Sentral Masih Borong Emas
Salah satu faktor fundamental yang menopang prediksi harga emas adalah permintaan bank sentral global.
Pembelian emas oleh bank sentral masih tinggi. China menjadi salah satu negara yang banyak disorot dalam tren akumulasi tersebut.
Berdasarkan analisis yang mengutip data Metals Focus, Refinitiv GFMS, dan World Gold Council, pembelian bank sentral mencapai sekitar 289 metrik ton pada kuartal kedua 2026.
Angka itu meningkat sekitar 62 metrik ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Permintaan besar dari bank sentral dapat memberi dukungan struktural bagi emas. Ketika bank sentral menambah cadangan emas, pasokan yang tersedia di pasar dapat menyempit dan minat terhadap logam mulia sebagai aset cadangan ikut terlihat.
Mengapa Emas Diburu Bank Sentral
Emas memiliki karakter berbeda dibandingkan obligasi pemerintah atau mata uang fiat. Logam mulia tidak memiliki risiko kredit dari penerbit tertentu.
Secara historis, emas juga sering digunakan sebagai aset cadangan ketika ketidakpastian ekonomi atau geopolitik meningkat.
Bank sentral dapat memakai emas untuk mendiversifikasi cadangan devisa. Langkah itu juga dapat mengurangi ketergantungan terhadap mata uang tertentu.
Jika tren pembelian bank sentral berlanjut, permintaan institusional dapat menjadi bantalan tambahan bagi harga. Faktor ini menjadi salah satu alasan mengapa sejumlah analis tetap optimistis terhadap prospek emas.
Namun, permintaan bank sentral tetap bukan satu-satunya faktor. Harga emas juga dipengaruhi dolar AS, suku bunga riil, inflasi, arus modal investor, dan kondisi geopolitik. (Sol)




