FinanSaya.com – Ada orang yang penghasilannya meningkat lalu menaikkan standar hidupnya. Namun, ada pula orang yang menaikkan gaya hidup bahkan ketika kemampuan finansialnya belum berubah. Masalahnya, penampilan tersebut belum tentu menggambarkan isi rekening sebenarnya. Inilah yang sering terjadi ketika seseorang memaksakan terlihat kaya.
Bukan sekadar membeli barang bagus, tetapi menggunakan konsumsi untuk membangun citra bahwa hidupnya lebih sukses, lebih mapan, atau lebih tinggi statusnya daripada kondisi keuangan yang sebenarnya.
Membeli barang mahal tidak otomatis salah. Seseorang boleh membeli produk premium karena kualitas, kenyamanan, hobi, atau memang mampu. Persoalan muncul ketika memaksakan terlihat kaya membuat seseorang mengorbankan tabungan, menambah utang konsumtif, dan hidup dalam tekanan agar citra tersebut terus terlihat meyakinkan.
Memaksakan terlihat kaya adalah kondisi ketika seseorang mengeluarkan uang di luar kemampuan finansialnya untuk menciptakan kesan mapan di mata orang lain.
Bentuknya bisa bermacam-macam. Membeli kendaraan mahal dengan cicilan terlalu berat. Memakai kartu kredit atau paylater untuk barang yang tidak sanggup dibayar tunai. Mengikuti gaya hidup teman meskipun anggaran tidak cukup. Mengutamakan merek yang terlihat prestisius dibanding fungsi barang. Atau terus mengeluarkan uang untuk mempertahankan citra sukses.
Masalah utamanya bukan pada barangnya, melainkan pada motif dan dampaknya.
Jika seseorang membeli barang mahal karena sudah direncanakan, mampu membayar, tidak mengganggu kebutuhan penting, dan tidak menambah utang berbahaya, keputusan itu bisa saja wajar.
Namun, jika pembelian dilakukan karena takut terlihat biasa saja, takut dianggap kalah, atau ingin mendapatkan pengakuan, keputusan tersebut perlu diperiksa ulang.
Barang Bisa Menjadi Simbol Status
Memaksakan terlihat kaya untuk menunjukkan posisi sosial bukan hal baru.
Ekonom Thorstein Veblen membahasnya dalam buku The Theory of the Leisure Class melalui konsep conspicuous consumption atau konsumsi mencolok. Dalam konsep ini, konsumsi tidak selalu dilakukan semata-mata untuk memperoleh fungsi barang. Barang juga dapat digunakan sebagai sarana menunjukkan kekayaan, kedudukan, atau status sosial.
Artinya, jam tangan tidak hanya berfungsi menunjukkan waktu. Mobil tidak hanya dipakai untuk berpindah tempat. Pakaian tidak hanya berfungsi menutupi tubuh. Dalam konteks tertentu, merek, harga, dan eksklusivitas sebuah barang ikut membawa pesan mengenai siapa pemiliknya di mata orang lain.
Jacqueline K. Eastman, Ronald E. Goldsmith, dan Leisa Reinecke Flynn dalam penelitian Status Consumption in Consumer Behavior mendefinisikan status consumption sebagai kecenderungan membeli barang dan jasa karena status atau prestise sosial yang diberikan kepada pemiliknya.
Dengan kata lain, seseorang mungkin membeli sesuatu bukan karena benar-benar membutuhkan kualitas tambahannya, tetapi karena ingin mendapatkan makna sosial yang melekat pada produk tersebut.
Di sinilah risiko memaksakan terlihat kaya muncul. Barang tidak lagi hanya menjadi alat pakai, tetapi menjadi alat pembuktian.
Manusia Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Memaksakan terlihat kaya juga dapat berawal dari kebiasaan membandingkan diri dengan lingkungan.
Psikolog Leon Festinger dalam penelitian A Theory of Social Comparison Processes menjelaskan bahwa manusia memiliki dorongan untuk mengevaluasi dirinya, termasuk dengan membandingkan diri dengan orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, perbandingan ini mudah masuk ke wilayah keuangan.
Seseorang melihat temannya mengganti kendaraan, lalu merasa mobilnya sendiri terlalu tua. Rekan kerja mulai menggunakan ponsel kelas premium, sehingga ponsel yang sebelumnya masih berfungsi tiba-tiba terasa tidak cukup bagus. Teman liburan ke luar negeri, lalu liburan sederhana terasa kurang membanggakan.
Masalah muncul ketika standar hidup seseorang tidak lagi ditentukan oleh kebutuhan dan kemampuan sendiri, melainkan oleh apa yang dimiliki orang lain.
Perbandingan semacam ini dapat menciptakan perlombaan tanpa garis akhir. Ketika seseorang akhirnya membeli barang yang dulu membuatnya minder, lingkungan mungkin kembali menghadirkan standar baru yang lebih tinggi.
Hari ini ponsel. Besok kendaraan. Lusa restoran. Setelah itu liburan. Jika terus diikuti, keuangan pribadi bisa habis untuk mengejar citra yang selalu bergerak hanya untuk memaksakan terlihat kaya.
Barang Bisa Dipakai untuk Menutupi Rasa Tidak Aman
Memaksakan terlihat kaya tidak selalu berasal dari kesombongan. Dalam beberapa kondisi, konsumsi justru dapat menjadi cara menutupi rasa tidak aman.
Seseorang yang belum merasa cukup sukses dapat berusaha menampilkan simbol-simbol kesuksesan. Orang yang merasa tertinggal dari teman sebaya bisa membeli barang mahal agar merasa setara. Orang yang merasa kurang dihargai dapat mencari rasa percaya diri melalui pakaian, kendaraan, atau aksesori tertentu.
Ottmar L. Braun dan Robert A. Wicklund dalam penelitian Psychological Antecedents of Conspicuous Consumption membahas hubungan antara ketidakamanan identitas dan penggunaan simbol material. Dalam konteks tertentu, barang dapat dipakai untuk memperkuat identitas yang ingin ditampilkan.
Baca Juga: Ingin Kaya, Tapi Malas Belajar Keuangan
Naomi Mandel, Derek Rucker, Jonathan Levav, dan Adam Galinsky dalam penelitian The Compensatory Consumer Behavior Model juga menjelaskan bahwa konsumsi dapat digunakan untuk merespons kesenjangan antara bagaimana seseorang melihat dirinya saat ini dan bagaimana ia ingin melihat dirinya.
Dengan kata lain, membeli barang mahal terkadang bukan sekadar perkara memiliki barang. Orang tersebut sedang membeli simbol tentang kehidupan yang ingin ia miliki.
Masalahnya, simbol tidak selalu menyelesaikan rasa tidak aman. Barang baru mungkin memberi rasa percaya diri sesaat. Namun, jika sumber ketidakamanan tidak disentuh, dorongan membeli barang berikutnya dapat muncul lagi.
Kekayaan Sering Diukur dari Apa yang Terlihat
Masalah lain muncul ketika seseorang menjadikan kepemilikan materi sebagai indikator utama keberhasilan.
Marsha L. Richins dan Scott Dawson dalam penelitian A Consumer Values Orientation for Materialism and Its Measurement membagi materialisme sebagai nilai konsumen ke dalam beberapa unsur, termasuk menjadikan kepemilikan sebagai ukuran kesuksesan, menempatkan akuisisi sebagai pusat kehidupan, dan melihat kepemilikan sebagai jalan menuju kebahagiaan.
Ketika barang menjadi ukuran kesuksesan, tekanan untuk terlihat kaya semakin besar.
Kesuksesan finansial akhirnya dinilai melalui sesuatu yang mudah terlihat: kendaraan, pakaian, restoran, perjalanan, tempat tinggal, atau gawai.
Padahal, banyak komponen terpenting dalam kesehatan keuangan justru tidak terlihat orang lain.
Dana darurat tidak terlihat saat seseorang berjalan di pusat perbelanjaan. Portofolio investasi tidak terlihat saat ia duduk di kafe. Utang yang sudah lunas tidak menghasilkan simbol yang bisa dipamerkan. Hidup di bawah kemampuan juga tidak selalu terlihat menarik di media sosial.
Justru karena hal-hal penting itu tidak terlihat, banyak orang lebih mudah tergoda memaksakan terlihat kaya daripada membangun kekayaan yang sebenarnya.
Terlihat Kaya Bisa Berbeda dengan Menjadi Kaya
Memaksakan terlihat kaya dan menjadi kaya adalah dua hal berbeda.
Terlihat kaya membutuhkan sesuatu yang dapat dilihat orang lain: barang, merek, kendaraan, gaya hidup, tempat nongkrong, atau perjalanan. Menjadi kaya sering dibangun melalui hal-hal yang tidak terlihat: mengendalikan pengeluaran, menabung konsisten, menghindari utang konsumtif, memiliki dana darurat, berinvestasi, dan menjaga arus kas.
Orang yang terlihat sederhana belum tentu tidak punya uang. Bisa jadi ia memilih menyimpan kekayaannya dalam bentuk aset yang tidak mencolok.
Sebaliknya, orang yang terlihat mewah belum tentu benar-benar aman secara finansial. Bisa saja sebagian gaya hidupnya dibayar dengan cicilan, utang, atau tekanan arus kas bulanan.
Jika seseorang terlihat kaya tetapi tidak punya dana darurat, sulit membayar tagihan, dan selalu cemas menunggu gaji berikutnya, maka citra luarnya tidak sejalan dengan kesehatan finansialnya.
Dampak Memaksakan Terlihat Kaya
Memaksakan terlihat kaya dapat menimbulkan beberapa dampak serius.
Pertama, tabungan sulit terbentuk. Uang yang seharusnya dialihkan untuk dana darurat atau investasi habis untuk pengeluaran yang sifatnya pencitraan.
Kedua, utang konsumtif meningkat. Barang yang belum mampu dibeli tunai akhirnya dibayar dengan cicilan, kartu kredit, atau paylater.
Ketiga, biaya hidup menjadi berat. Setelah gaya hidup naik, seseorang harus terus mengeluarkan uang untuk mempertahankan standar yang sudah ditampilkan.
Keempat, tekanan mental bertambah. Ada rasa takut citra yang dibangun terbongkar. Seseorang harus terus terlihat mampu meskipun kondisi sebenarnya rapuh.
Kelima, tujuan finansial jangka panjang tertunda. Membeli rumah, menyiapkan pendidikan anak, membangun usaha, atau mencapai kebebasan finansial menjadi semakin jauh karena uang habis untuk simbol status jangka pendek. (Sol)




