FinanSaya.com – Kota Surabaya mencatat inflasi tahunan atau year-on-year sebesar 3,88 persen pada Juni 2026. Angka inflasi Surabaya tersebut berada di atas inflasi Provinsi Jawa Timur yang pada periode sama tercatat 3,36 persen.
Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Jawa Timur mencatat inflasi tahunan Jawa Timur pada Juni 2026 sebesar 3,36 persen dengan Indeks Harga Konsumen atau IHK 112,17. Inflasi bulanan atau month-to-month tercatat 0,30 persen, sedangkan inflasi tahun kalender atau year-to-date sebesar 1,74 persen.
Dalam daftar 11 kabupaten/kota IHK di Jawa Timur, Surabaya berada di kelompok daerah dengan tekanan harga cukup tinggi. BPS mencatat angka IHK Surabaya pada Juni 2026 sebesar 112,68, dengan inflasi tahunan 3,88 persen dan inflasi bulanan 0,46 persen.
Inflasi Surabaya di Atas Rata-Rata Jatim
Posisi inflasi Surabaya hanya lebih rendah dari Sumenep yang mencatat inflasi tahunan tertinggi di Jawa Timur, yakni 4,48 persen dengan IHK 116,19. Sementara itu, inflasi terendah terjadi di Kabupaten Tulungagung sebesar 2,57 persen dengan IHK 112,34.
Sejumlah daerah lain mencatat lebih rendah dibanding inflasi Surabaya. Kota Malang berada di level 3,16 persen, Kota Madiun 3,26 persen, Jember 3,13 persen, Kabupaten Gresik 2,75 persen, Kota Kediri 2,92 persen, Kabupaten Bojonegoro 2,94 persen, dan Banyuwangi 2,60 persen.
Data tersebut menunjukkan inflasi Surabaya lebih tinggi dibanding rata-rata provinsi. Pada saat yang sama, Jawa Timur secara umum masih mencatat kenaikan harga di hampir seluruh kelompok pengeluaran.
BPS menyebut inflasi tahunan Jawa Timur terjadi karena kenaikan indeks pada kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 4,01 persen; transportasi 5,87 persen; kesehatan 2,13 persen; pendidikan 1,92 persen; serta penyediaan makanan dan minuman/restoran 2,20 persen.
Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 10,34 persen. Kelompok ini memberi andil 0,73 persen terhadap inflasi tahunan Jawa Timur.
Transportasi dan Pangan Menekan Harga
Kelompok transportasi menjadi salah satu penekan utama inflasi Jawa Timur pada Juni 2026. Kelompok ini mengalami inflasi tahunan 5,87 persen dan memberikan andil 0,72 persen terhadap inflasi tahunan.
Komoditas dari kelompok transportasi yang dominan menyumbang inflasi tahunan antara lain angkutan udara sebesar 0,38 persen, bensin 0,20 persen, mobil 0,05 persen, sepeda motor 0,04 persen, pemeliharaan atau service 0,02 persen, serta pelumas atau oli mesin 0,01 persen.
Baca Juga: Inflasi Pelan-Pelan dan Rasa Aman yang Menipu
Kenaikan transportasi menjadi penting bagi pembacaan inflasi Surabaya karena kota ini menjadi pusat mobilitas, perdagangan, jasa, dan perjalanan di Jawa Timur. Kenaikan bensin dan angkutan udara dapat bersentuhan langsung dengan biaya perjalanan masyarakat dan aktivitas distribusi.
Tekanan lain datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Pada Juni 2026, kelompok ini mencatat inflasi tahunan 4,01 persen dan memberi andil 1,10 persen terhadap inflasi Jawa Timur.
Komoditas yang dominan menyumbang inflasi tahunan dari kelompok makanan antara lain beras 0,17 persen, minyak goreng 0,16 persen, daging sapi dan cabai rawit masing-masing 0,10 persen, bawang merah 0,08 persen, serta rokok kretek mesin dan daging ayam ras masing-masing 0,07 persen.
Meski begitu, kelompok makanan justru menjadi penahan inflasi secara bulanan. BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberi andil deflasi bulanan 0,11 persen, terutama karena turunnya harga daging ayam ras, cabai rawit, sawi hijau, telur ayam ras, udang basah, cabai merah, dan bayam.
Emas Perhiasan Beri Andil Besar
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga memberi tekanan besar. BPS mencatat kelompok ini mengalami inflasi tahunan 10,34 persen dan memberikan andil 0,73 persen terhadap inflasi Jawa Timur.
Penyumbang dominan dari kelompok tersebut adalah emas perhiasan dengan andil 0,62 persen. Komoditas lain yang ikut menyumbang inflasi adalah pasta gigi sebesar 0,02 persen, serta shampo, bedak, dan pembalut wanita masing-masing 0,01 persen.
Dengan inflasi Surabaya sebesar 3,88 persen, tekanan harga di kota tersebut tidak hanya terkait pangan. Data BPS menunjukkan dorongan inflasi juga berasal dari transportasi, emas perhiasan, pendidikan, makanan siap santap, hingga kebutuhan rumah tangga.
BPS mencatat pada Juni 2026, seluruh 11 kabupaten/kota IHK di Jawa Timur mengalami inflasi tahunan, dengan rentang inflasi dari 2,57 persen di Kabupaten Tulungagung hingga 4,48 persen di Sumenep. (Sol)




