FinanSaya.com – Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat inflasi Jawa Timur pada Juni 2026 mencapai 3,36 persen secara tahunan atau year-on-year. Angka tersebut menunjukkan tekanan harga lebih tinggi dibanding periode yang sama dalam dua tahun sebelumnya.
Dalam Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Jawa Timur, inflasi tahunan pada Juni 2025 tercatat 2,02 persen, sedangkan Juni 2024 sebesar 2,21 persen. Pada Juni 2026, inflasi tahun kalender atau year-to-date juga naik menjadi 1,74 persen dari 1,32 persen pada Juni 2025 dan 0,81 persen pada Juni 2024.
BPS mencatat Indeks Harga Konsumen atau IHK Jawa Timur naik dari 108,52 pada Juni 2025 menjadi 112,17 pada Juni 2026. Secara bulanan atau month-to-month, inflasi pada Juni 2026 berada di level 0,30 persen.
Inflasi Jawa Timur Lebih Tinggi dari Dua Tahun Lalu
Kenaikan harga pada Juni 2026 terjadi di hampir seluruh kelompok pengeluaran. Kelompok dengan inflasi tertinggi adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 10,34 persen.
Kelompok transportasi juga mencatat kenaikan tinggi, yakni 5,87 persen. Setelah itu, makanan, minuman, dan tembakau naik 4,01 persen, kesehatan 2,13 persen, pendidikan 1,92 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran 2,20 persen.
Dari sisi andil, tekanan terbesar terhadap inflasi Jawa Timur berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,10 persen. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberi andil 0,73 persen, sedangkan transportasi menyumbang 0,72 persen.
BPS juga mencatat sejumlah kelompok lain ikut memberi andil inflasi Jawa Timur secara tahunan. Penyediaan makanan dan minuman/restoran menyumbang 0,24 persen, pendidikan 0,14 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,12 persen, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,11 persen.
Emas Bensin dan Angkutan Udara Menekan Harga
Sejumlah komoditas menjadi pendorong utama inflasi tahunan pada Juni 2026. BPS mencatat emas perhiasan, angkutan udara, bensin, beras, minyak goreng, daging sapi, cabai rawit, bawang merah, dan rokok kretek mesin masuk dalam daftar komoditas penyumbang inflasi.
Tekanan dari transportasi terlihat cukup kuat. Kelompok ini mencatat inflasi tahunan 5,87 persen dengan andil 0,72 persen terhadap inflasi tahunan Jawa Timur.
Di kelompok transportasi, angkutan udara memberi andil 0,38 persen dan bensin 0,20 persen. Komoditas lain yang ikut menyumbang adalah mobil 0,05 persen, sepeda motor 0,04 persen, pemeliharaan atau service 0,02 persen, serta pelumas atau oli mesin 0,01 persen.
Tekanan besar juga datang dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Kelompok ini mencatat inflasi tahunan 10,34 persen dan memberi andil 0,73 persen terhadap inflasi Jawa Timur.
Penyumbang dominan inflasi Jawa Timur dari kelompok tersebut adalah emas perhiasan dengan andil 0,62 persen. Komoditas lain yang ikut menyumbang adalah pasta gigi 0,02 persen, serta shampo, bedak, dan pembalut wanita masing-masing 0,01 persen.
Baca Juga: Inflasi Kota Surabaya Lebih Tinggi dari Rata-Rata Jatim
Pangan Masih Jadi Penyumbang Utama
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberi andil terbesar terhadap inflasi tahunan Jawa Timur, yakni 1,10 persen. Dalam kelompok ini, beras menyumbang 0,17 persen dan minyak goreng 0,16 persen.
Komoditas lain yang dominan dalam inflasi Jawa Timur adalah daging sapi dan cabai rawit masing-masing 0,10 persen, bawang merah 0,08 persen, serta rokok kretek mesin dan daging ayam ras masing-masing 0,07 persen. Cabai merah memberi andil 0,05 persen, sedangkan air kemasan dan tahu mentah masing-masing 0,04 persen.
Meski pangan menekan inflasi tahunan, beberapa komoditas justru menjadi penahan inflasi bulanan. BPS mencatat daging ayam ras, cabai rawit, sawi hijau, telur ayam ras, udang basah, cabai merah, dan bayam memberi andil deflasi month-to-month.
Pada saat yang sama, komoditas yang dominan mendorong inflasi bulanan antara lain bensin, angkutan udara, bawang merah, bawang putih, beras, daging sapi, wortel, dan emas perhiasan.
Sumenep Tertinggi, Surabaya di Atas Rata-Rata
Seluruh 11 kabupaten/kota IHK di Jawa Timur mengalami inflasi tahunan pada Juni 2026. Sumenep mencatat inflasi tertinggi sebesar 4,48 persen dengan IHK 116,19.
Inflasi terendah terjadi di Kabupaten Tulungagung sebesar 2,57 persen dengan IHK 112,34. Kota Surabaya mencatat inflasi tahunan 3,88 persen dengan IHK 112,68, lebih tinggi dari rata-rata provinsi.
Daerah lain mencatat inflasi lebih rendah dari Surabaya, seperti Kota Malang 3,16 persen, Kota Madiun 3,26 persen, Jember 3,13 persen, Kabupaten Gresik 2,75 persen, Kota Kediri 2,92 persen, Kabupaten Bojonegoro 2,94 persen, dan Banyuwangi 2,60 persen.
Dengan perkembangan tersebut, inflasi Jawa Timur pada Juni 2026 berada dalam rentang 2,57 persen di Kabupaten Tulungagung hingga 4,48 persen di Sumenep, berdasarkan daftar 11 kabupaten/kota IHK BPS Jawa Timur. (Sol)




