Inflasi Pelan-Pelan dan Rasa Aman yang Menipu

|

3 Views
Inflasi Pelan-Pelan dan Rasa Aman yang Menipu

FinanSaya.com – Inflasi pelan-pelan sering tidak terasa seperti ancaman besar. Harga makan naik Rp2.000, ongkos kirim naik sedikit, biaya langganan bertambah, telur dan beras naik perlahan, lalu uang bulanan terasa makin cepat habis. Karena kenaikannya kecil dan bertahap, banyak orang baru sadar setelah daya belinya turun cukup jauh.

Berbeda dengan rupiah melemah. Begitu kurs dolar naik tajam, orang langsung panik. Angkanya terlihat jelas. Hari ini Rp15.800 per dolar, besok Rp16.200, lalu ramai dibahas di media sosial. Pelemahan rupiah terasa seperti peristiwa besar, cepat, dan mudah ditunjuk.

Padahal, dari sisi kehidupan harian, inflasi pelan-pelan juga bisa sangat serius. Bank Indonesia menjelaskan inflasi sebagai kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam jangka waktu tertentu. BI juga menyebut bahwa kenaikan satu atau dua barang saja belum bisa disebut inflasi kecuali meluas atau menyebabkan kenaikan harga barang lain.

Masalahnya, manusia sering lebih takut pada bahaya yang terlihat dramatis daripada bahaya yang bekerja diam-diam. Rupiah melemah terlihat seperti alarm. Inflasi pelan-pelan terasa seperti kebiasaan baru.

Apa Itu Inflasi Pelan-Pelan?

Inflasi pelan-pelan adalah kenaikan harga yang terjadi bertahap, tidak selalu mengejutkan dalam satu waktu, tetapi terus mengurangi kemampuan uang untuk membeli barang dan jasa.

Contohnya sederhana. Tahun lalu, uang Rp100.000 cukup untuk membeli beberapa kebutuhan dapur. Tahun ini, dengan uang yang sama, isi belanjaannya berkurang. Bukan karena nominal uang berubah, tetapi karena harga barang naik.

BI menjelaskan bahwa saat inflasi terjadi, nilai uang yang kita pegang menurun karena dengan jumlah uang yang sama kita bisa membeli lebih sedikit barang.

IMF juga menjelaskan bahwa ketika nilai uang menurun, daya belinya ikut turun dan harga naik. Dengan kata lain, inflasi bukan hanya soal harga yang bertambah mahal, tetapi juga soal uang yang kehilangan sebagian kemampuannya.

Inilah yang membuat inflasi pelan-pelan berbahaya. Ia jarang membuat panik dalam sehari, tetapi bisa mengubah kualitas hidup dalam beberapa tahun.

Kenapa Rupiah Melemah Lebih Cepat Membuat Panik?

Rupiah melemah lebih mudah membuat orang takut dibandingkan inflasi pelan-pelan, karena angkanya langsung terlihat. Kurs bisa dipantau setiap hari. Dolar AS juga sering dianggap sebagai simbol kekuatan ekonomi global, sehingga ketika rupiah melemah terhadap dolar, banyak orang langsung mengaitkannya dengan krisis, harga impor naik, BBM mahal, utang luar negeri, atau ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja.

Pelemahan rupiah juga punya efek psikologis yang kuat. Angka kurs terlihat seperti skor pertandingan. Jika rupiah menguat, terasa menang. Jika rupiah melemah, terasa kalah.

Inflasi berbeda. Inflasi tidak selalu muncul sebagai satu angka yang mudah dirasakan semua orang. BPS memang mengukur inflasi melalui data harga dan Indeks Harga Konsumen, tetapi pengalaman tiap rumah tangga bisa berbeda. BPS menyediakan statistik harga seperti Indeks Harga Konsumen, inflasi, dan indeks harga lain untuk memantau perubahan harga dalam perekonomian.

Keluarga yang banyak membeli beras, telur, susu, transportasi, atau sewa rumah bisa merasakan tekanan berbeda dari orang lain. Karena itu, inflasi sering terasa personal, menyebar, dan tidak selalu langsung dipahami sebagai masalah besar.

Inflasi Terasa Biasa karena Datang Sedikit Demi Sedikit

Salah satu alasan orang kurang takut pada inflasi pelan-pelan adalah karena otak manusia cepat beradaptasi.

Ketika harga kopi naik dari Rp18.000 menjadi Rp20.000, banyak orang mengeluh sebentar lalu terbiasa. Ketika ongkos makan siang naik dari Rp25.000 menjadi Rp30.000, orang menyesuaikan. Ketika biaya langganan digital naik Rp10.000, sebagian orang tetap membayar karena kenaikannya terasa kecil.

Masalahnya, kenaikan kecil yang terjadi di banyak pos bisa menjadi besar jika dijumlahkan.

Kenaikan Rp2.000 per makan terlihat kecil. Namun, jika terjadi setiap hari selama sebulan, dampaknya terasa. Kenaikan Rp20.000 pada beberapa tagihan bulanan juga bisa menekan anggaran. Belum lagi jika harga kebutuhan pokok, transportasi, pendidikan, dan kesehatan ikut naik.

Inflasi jarang terasa sebagai satu pukulan keras. Ia lebih sering terasa seperti bocor kecil di banyak tempat. Awalnya tidak mengganggu. Lama-lama, seluruh anggaran ikut basah.

Daya Beli Turun Meski Nominal Gaji Tetap Sama

Masalah terbesar dari inflasi adalah daya beli turun. Gaji mungkin tetap Rp5 juta. Saldo rekening terlihat sama. Namun, barang dan jasa yang bisa dibeli dengan uang itu makin sedikit.

Inilah alasan banyak orang merasa “gaji tidak turun, tapi hidup makin berat.”

Jika gaji naik lebih lambat daripada harga kebutuhan, secara riil pendapatan melemah. Orang masih menerima nominal yang sama atau bahkan sedikit lebih besar, tetapi kemampuan belinya turun.

Contohnya, jika pengeluaran bulanan dulu Rp4 juta dan sekarang menjadi Rp4,7 juta untuk gaya hidup yang sama, maka ada tekanan Rp700.000 yang harus ditutup. Jika penghasilan tidak naik, orang akan mengambil dari tabungan, mengurangi kualitas hidup, menunda kebutuhan penting, atau memakai utang.

Di titik ini, inflasi pelan-pelan bukan lagi teori ekonomi. Ia menjadi masalah dapur, masalah transportasi, masalah sekolah anak, masalah cicilan, dan masalah kesehatan mental.

Rupiah Melemah dan Inflasi Bisa Saling Berhubungan

Walau berbeda, rupiah melemah dan inflasi bisa saling berhubungan.

Ketika rupiah melemah, barang impor menjadi lebih mahal dalam rupiah. Bahan baku impor, energi, pangan tertentu, alat produksi, obat, perangkat elektronik, dan komponen industri bisa ikut terdampak. Jika biaya impor naik, produsen bisa menaikkan harga jual. Dari sini, tekanan inflasi dapat muncul.

Baca Juga: Daya Beli Rupiah Bisa Dijaga dengan Kebiasaan Ini

Namun, hubungan ini tidak selalu otomatis dan tidak selalu langsung. Dampaknya tergantung banyak hal,yakni seberapa besar ketergantungan impor, kondisi permintaan, margin perusahaan, kebijakan pemerintah, stok barang, subsidi, dan respons bank sentral.

Bank Indonesia memiliki tujuan mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Dalam halaman data inflasi, BI juga menegaskan tujuan tunggal tersebut, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah.

Stabilitas nilai rupiah tidak hanya berarti kurs terhadap mata uang asing, tetapi juga berkaitan dengan kestabilan harga barang dan jasa di dalam negeri. Karena itu, nilai tukar dan inflasi sama-sama penting untuk kesehatan ekonomi.

Kenapa Kurs Lebih Dramatis di Mata Publik?

Ada beberapa alasan kenapa rupiah melemah lebih sering menjadi sumber kepanikan publik dibanding inflasi pelan-pelan.

Pertama, kurs punya angka tunggal yang mudah viral. Saat dolar melewati angka tertentu, orang langsung membagikan tangkapan layar. Angka kurs terasa konkret.

Kedua, kurs punya memori krisis. Banyak orang Indonesia masih mengaitkan pelemahan rupiah dengan krisis 1998 atau periode tekanan ekonomi besar. Karena itu, setiap pelemahan tajam bisa memicu ketakutan lama.

Ketiga, kurs terasa seperti simbol martabat ekonomi. Rupiah yang melemah sering dianggap sebagai tanda negara kalah kuat, meski penyebab nilai tukar bisa sangat kompleks.

Keempat, dampak kurs sering dibayangkan langsung. Orang berpikir barang impor mahal, liburan luar negeri mahal, utang dolar berat, dan harga elektronik naik.

Sementara itu, inflasi bekerja lebih lambat. Orang tidak selalu membuka data IHK setiap bulan. Mereka hanya merasakan uang belanja makin tipis, tetapi tidak selalu menghubungkannya dengan pola besar bernama inflasi.

Inflasi Pelan-Pelan Lebih Mudah Diremehkan

Karena inflasi pelan-pelan tidak selalu meledak dalam sehari, banyak orang meremehkannya.

Mereka menganggap kenaikan harga kecil sebagai hal biasa. “Namanya juga harga naik.” “Semua juga naik.” “Nanti juga terbiasa.” Kalimat seperti ini membuat inflasi dianggap sebagai nasib, bukan risiko yang perlu dikelola.

Padahal, inflasi yang stabil rendah memang bisa menjadi bagian normal ekonomi. Namun, bagi keuangan pribadi, inflasi tetap perlu dihitung. Jika tujuan keuangan jangka panjang tidak memperhitungkan kenaikan biaya, target bisa meleset.

Misalnya, biaya pendidikan anak. Jika hanya menabung berdasarkan harga hari ini, dana yang terkumpul beberapa tahun lagi bisa kurang. Begitu juga dana pensiun. Uang yang terlihat besar hari ini bisa menjadi kurang cukup jika biaya hidup terus naik selama bertahun-tahun.

Itulah sebabnya inflasi pelan-pelan perlu ditanggapi dengan strategi, bukan kepanikan. Ia tidak selalu harus ditakuti secara berlebihan, tetapi tidak boleh diabaikan.

Cara Hadapi Inflasi Pelan-Pelan

Menghadapi inflasi pelan-pelan hanya membutuhkan kesadaran dan penyesuaian.

Pertama, pantau pengeluaran rutin. Catat pos yang paling cepat naik, seperti makanan, transportasi, sewa, listrik, pendidikan, langganan, dan cicilan.

Kedua, bedakan kebutuhan dan kebiasaan. Ada pengeluaran yang benar-benar perlu. Ada juga yang hanya karena terbiasa.

Ketiga, naikkan dana darurat secara berkala. Jika biaya hidup naik, dana darurat lama mungkin sudah tidak cukup.

Keempat, jangan hanya menyimpan semua dana jangka panjang dalam bentuk tunai. Untuk tujuan jangka panjang, pertimbangkan instrumen yang sesuai profil risiko agar nilai uang punya peluang tumbuh.

Kelima, tingkatkan penghasilan. Menghemat penting, tetapi ada batasnya. Dalam jangka panjang, kemampuan menaikkan pendapatan sangat membantu melawan inflasi.

Keenam, hitung tujuan keuangan dengan asumsi kenaikan biaya. Dana pendidikan, dana pensiun, dan target besar lain perlu memperhitungkan inflasi.

Ketujuh, jangan panik pada rupiah melemah, tetapi pahami dampaknya. Jika banyak kebutuhanmu terkait barang impor atau biaya luar negeri, siapkan strategi lebih awal. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya