Urban Farming Surabaya Bidik Panen Jelang Nataru

|

3 Views
Urban Farming Surabaya Bidik Panen Jelang Nataru

FinanSaya.com – Pemerintah Kota Surabaya mengarahkan program urban farming untuk memperkuat ketahanan pangan dari lingkungan perkotaan.

Memasuki tahun kelima, Surabaya Urban Farming Competition atau SUFC 2026 tidak hanya diposisikan sebagai lomba. Program ini didorong menjadi gerakan masyarakat untuk meningkatkan produksi pangan dan membantu menjaga pasokan komoditas.

Tahun ini, cabai rawit dan bawang merah menjadi komoditas utama yang dibudidayakan. Target panennya dipasang pada awal Desember 2026.

Program yang digelar Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Surabaya itu resmi diluncurkan di Graha Sawunggaling, Jumat (4/9/2026).

Urban Farming Disinergikan dengan Kampung Pancasila

Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kota Surabaya Anna Fajriatin mengatakan SUFC 2026 akan disinergikan dengan program Kampung Pancasila.

Sinergi itu terutama masuk pada pilar lingkungan. Lomba Kampung Pancasila akan melibatkan seluruh 1.361 RW di Surabaya.

“Di tahun 2026 ini akan menjadi sebuah sinergi yang hebat. Program dari Dinas Ketahanan Pangan melalui Urban Farming Competition akan bersinergi dengan Lomba Kampung Pancasila,” kata Anna.

Menurut Anna, kolaborasi tersebut diharapkan membuat kegiatan menanam tidak berhenti sebagai kompetisi tahunan.

Pemkot ingin kegiatan urban farming ini menjadi gerakan bersama di tingkat kewilayahan, mulai dari rumah tangga hingga RW.

“Urban farming ini tidak hanya menjadi kegiatan lomba, tetapi menjadi gerakan bersama di setiap wilayah. Dengan keterlibatan 1.361 RW, kita ingin membangun ketahanan pangan mulai dari lingkungan masing-masing,” tuturnya.

Cabai Rawit dan Bawang Merah Jadi Fokus

Kepala DKPP Surabaya Nanik Sukristina mengatakan SUFC 2026 mendorong masyarakat memanfaatkan ruang-ruang yang tersedia di kawasan perkotaan.

Ruang yang bisa digunakan untuk urban farming meliputi pekarangan rumah, lahan aset, fasilitas umum, hingga lahan yang belum termanfaatkan.

“Ketahanan pangan kita mulai dari skala rumah tangga. Setelah itu, secara bertahap bisa dikembangkan ke skala yang lebih luas, misalnya tingkat RW,” kata Nanik.

Pada tahun ini, cabai rawit dan bawang merah dipilih sebagai komoditas utama. Keduanya kerap menjadi perhatian karena termasuk kebutuhan dapur yang banyak dikonsumsi masyarakat.

Dengan menanam dari lingkungan terdekat, warga diharapkan memiliki pengalaman langsung dalam memproduksi sebagian kebutuhan pangan.

Empat Kategori SUFC 2026

SUFC 2026 memiliki empat kategori lomba.

Kategori tersebut adalah Urban Farming Terintegrasi atau Terpadu, Kuantitas Bawang Merah, Kuantitas Cabai Rawit, dan Urban Farming Pemula.

Kategori urban farming terpadu menjadi pembeda karena tidak hanya menilai pertanian. Di dalamnya juga terdapat unsur perikanan dan peternakan.

Dengan kategori tersebut, peserta dapat mengembangkan model pemanfaatan lahan yang lebih beragam.

Bagi kelompok tani, kegiatan budidaya difokuskan pada cabai rawit dan bawang merah. Panitia menyediakan 30 bibit bawang merah dan satu paket benih cabai rawit.

Sementara itu, media tanam dan perlengkapan budidaya disiapkan secara mandiri oleh peserta.

Penanaman Dimulai 6 September

Penanaman dan pemeliharaan dalam SUFC 2026 dimulai pada 6 September 2026.

Selama kompetisi, DKPP Surabaya bersama stakeholder dan mitra pendukung akan melakukan monitoring serta pendampingan.

Penilaian tidak hanya bertumpu pada hasil akhir. Proses pemeliharaan dan produktivitas sesuai kategori juga menjadi bagian dari penilaian.

Baca Juga: Sejarah Pajak di Dunia Berawal dari Hasil Panen

Dengan pola tersebut, peserta dinilai dari konsistensi mengelola tanaman, bukan hanya jumlah panen pada akhir kompetisi.

“Yang ingin kita dorong adalah bagaimana masyarakat bisa ikut memperkuat ketahanan pangan melalui urban farming. Pengetahuan dan pengalaman selama kompetisi diharapkan dapat diterapkan dan dikembangkan di lingkungan masing-masing, sehingga produksi pangan bisa terus berjalan,” ujarnya.

Panen Diharapkan Bantu Pasokan Akhir Tahun

Rangkaian SUFC 2026 dirancang agar panen berlangsung pada awal Desember.

Momentum itu dipilih karena berdekatan dengan periode akhir tahun, ketika permintaan masyarakat biasanya meningkat menjelang Natal dan Tahun Baru.

Nanik berharap panen cabai rawit dan bawang merah dari kegiatan ini dapat menambah pasokan di tingkat lokal.

“Panen tersebut diharapkan dapat turut menekan angka inflasi. Menjelang akhir tahun, Natal dan Tahun Baru, biasanya terjadi peningkatan permintaan yang dapat mendorong kenaikan harga komoditas seperti cabai dan bawang merah,” jelasnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa SUFC 2026 tidak hanya diarahkan sebagai kegiatan lingkungan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga stabilitas pasokan pangan.

Meski begitu, dampak terhadap inflasi tetap bergantung pada volume produksi, kondisi pasar, dan pergerakan harga komoditas pada periode tersebut.

Lahan Kota Dibuat Lebih Produktif

Melalui pengembangan urban farming, Pemkot Surabaya ingin mengubah ruang-ruang kecil di kawasan perkotaan menjadi area produktif.

Pekarangan rumah, fasilitas umum, dan lahan yang belum dimanfaatkan dapat menjadi bagian dari sumber produksi pangan skala lingkungan.

Gerakan ini juga memberi kesempatan kepada warga untuk belajar teknik budidaya dan pengelolaan tanaman pangan.

Jika pengetahuan dari kompetisi diterapkan setelah lomba selesai, produksi pangan lokal dapat terus berjalan di lingkungan masing-masing.

“Sinergi dengan Kampung Pancasila juga diharapkan membuat gerakan menanam terus berkembang dan memberikan manfaat setelah kompetisi berakhir,” pungkasnya.

SUFC 2026 diluncurkan pada 4 September 2026 dengan fokus cabai rawit dan bawang merah, penanaman mulai 6 September, target panen awal Desember, serta keterlibatan seluruh 1.361 RW melalui sinergi Kampung Pancasila. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya