Penjualan Eceran Surabaya Diprediksi Minus

|

1 Views
Penjualan Eceran Surabaya Diprediksi Minus

FinanSaya.com – Kinerja penjualan eceran Surabaya diproyeksikan kembali melemah pada Agustus 2026.

Bank Indonesia memperkirakan Indeks Penjualan Riil atau IPR Surabaya terkontraksi 5,5 persen secara tahunan.

Kontraksi tersebut lebih dalam dibandingkan realisasi Juli 2026 yang masih minus 2,4 persen.

Jika prakiraan itu terealisasi, Surabaya menjadi satu-satunya kota dalam cakupan Survei Penjualan Eceran BI yang masih berada di zona negatif pada Agustus 2026.

Penjualan Eceran Surabaya Turun Lebih Dalam

Data BI menunjukkan tekanan terhadap ritel Surabaya belum sepenuhnya mereda.

Pada Juli 2026, IPR Surabaya masih terkontraksi 2,4 persen secara tahunan. Pada Agustus, kontraksinya diperkirakan melebar menjadi 5,5 persen.

Secara indeks, IPR Surabaya tercatat 472,3 pada Juli dan diprakirakan turun menjadi 467,9 pada Agustus.

Pergerakan bulanan juga menunjukkan pelemahan. Pada Juli, penjualan eceran Surabaya masih tumbuh 3,3 persen secara bulanan setelah Juni naik 1,7 persen.

Namun, pada Agustus 2026, BI memperkirakan kinerja bulanan Surabaya kembali turun 1,0 persen.

Satu-Satunya Kota yang Diproyeksi Negatif

Posisi penjualan eceran Surabaya cukup menonjol karena kota lain dalam survei BI diperkirakan masih mencatat pertumbuhan positif.

Jakarta diproyeksikan tumbuh 2,3 persen secara tahunan. Bandung diperkirakan tumbuh 10,7 persen, Medan 21,6 persen, serta Semarang dan Purwokerto 8,2 persen.

Banjarmasin diperkirakan tumbuh 0,9 persen, Makassar 2,9 persen, Manado 24,1 persen, dan Denpasar 6,8 persen.

Dengan angka tersebut, Surabaya menjadi pengecualian di tengah proyeksi pertumbuhan kota lain.

Manado menjadi wilayah dengan proyeksi pertumbuhan tertinggi, disusul Medan dan Bandung.

Nasional Masih Tumbuh

Kinerja penjualan eceran Surabaya juga bergerak berlawanan dengan arah nasional.

Secara nasional, BI memproyeksikan IPR Agustus 2026 tetap tumbuh 0,5 persen secara tahunan dengan indeks sebesar 224,6.

Pertumbuhan nasional terutama ditopang kelompok suku cadang dan aksesori yang diperkirakan naik 10,1 persen secara tahunan.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga diprakirakan tumbuh 0,7 persen secara tahunan.

Meski indeks nasional Agustus sedikit lebih rendah dibandingkan Juli yang sebesar 224,9, penjualan eceran nasional masih bertahan di zona pertumbuhan.

Kondisi ini berbeda dengan Surabaya yang diproyeksikan tetap berada di zona kontraksi.

Pemulihan Nasional Belum Terlihat di Surabaya

Pada Juli 2026, penjualan eceran nasional sudah kembali tumbuh 1,1 persen secara tahunan.

Sebelumnya, pada Juni 2026, penjualan eceran nasional masih terkontraksi 3,0 persen.

Baca Juga: ULN Bank Indonesia Melonjak 36 Persen dalam Sebulan

Artinya, secara nasional sudah terjadi pembalikan arah dari kontraksi menjadi pertumbuhan.

Namun, pemulihan tersebut belum tercermin di Surabaya. Pada Juli, IPR Surabaya masih minus 2,4 persen secara tahunan.

Agustus bahkan diperkirakan kembali melemah lebih dalam menjadi minus 5,5 persen.

Dengan demikian, ritel Surabaya masih tertinggal dibandingkan pola pemulihan nasional yang mulai membaik.

Tekanan Terlihat sejak Kuartal II

Tekanan pada IPR Surabaya mulai terlihat sejak kuartal II 2026.

Pada Januari, pertumbuhan IPR Surabaya masih mencapai 10,9 persen secara tahunan. Februari naik menjadi 13,2 persen, lalu Maret menguat lagi menjadi 14,5 persen.

Namun, arah kinerja berubah pada April.

IPR Surabaya berbalik terkontraksi 3,7 persen secara tahunan. Kontraksi kemudian memburuk menjadi minus 7,9 persen pada Mei dan minus 6,2 persen pada Juni.

Pada Juli, tekanan sempat mengecil menjadi minus 2,4 persen.

Namun, prakiraan Agustus menunjukkan kontraksi kembali melebar. Jika benar terjadi, penjualan eceran Surabaya berada di zona negatif selama lima bulan berturut-turut sejak April 2026.

Kinerja Triwulanan Ikut Berbalik

Perubahan arah ritel Surabaya juga terlihat dari data triwulanan.

Pada kuartal I 2026, IPR Surabaya masih tumbuh 12,9 persen secara tahunan.

Namun, pada kuartal II 2026, pertumbuhan berbalik menjadi minus 5,9 persen.

Untuk kuartal III 2026, berdasarkan data dan prakiraan yang tersedia dalam laporan, pertumbuhan tercatat minus 4,0 persen.

Perbandingan ini menunjukkan pelemahan tidak hanya terjadi dalam satu bulan.

Tekanan sudah terlihat setelah kinerja kuat pada awal tahun, kemudian berlanjut memasuki kuartal berikutnya.

SPE BI Survei 700 Pengecer

Survei Penjualan Eceran merupakan survei bulanan BI untuk memperoleh informasi dini mengenai arah konsumsi.

Sejak Januari 2015, survei dilakukan terhadap sekitar 700 pengecer di 10 kota, termasuk Surabaya.

Metode yang digunakan adalah purposive sampling.

IPR dihitung menggunakan bobot komoditas dan bobot kota berdasarkan pangsa konsumsi rumah tangga.

Pada Agustus 2026, BI memproyeksikan penjualan eceran Surabaya terkontraksi 5,5 persen secara tahunan, dengan IPR turun dari 472,3 pada Juli menjadi 467,9, sementara IPR nasional masih diperkirakan tumbuh 0,5 persen dengan indeks 224,6. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya