Sensus Ekonomi 2026 di Surabaya Sasar Ratusan Ribu UMKM

|

8 Views
Sensus Ekonomi 2026 di Surabaya Sasar Ratusan Ribu UMKM

FinanSaya.com – Sensus ekonomi 2026 di Surabaya mulai berjalan dengan dukungan Pemerintah Kota Surabaya. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi bahkan menjadi salah satu responden saat petugas Badan Pusat Statistik mendatangi rumah dinas wali kota di Jalan Sedap Malam, Rabu, 17 Juni 2026.

Dalam pendataan tersebut, tiga petugas sensus datang langsung dan didampingi Kepala BPS Kota Surabaya, Arrief Chandra Setiawan. Eri mengatakan sensus ekonomi 2026 diperlukan untuk mendapatkan gambaran kondisi ekonomi masyarakat secara lebih akurat.

“Alhamdulillah malam hari ini ada sensus ekonomi yang dilakukan BPS. Jadi, petugas sensus menanyakan apa yang ada di dalam rumah, salah satu contohnya,” kata Eri.

Menurut Eri, hasil sensus dapat menunjukkan tingkat perekonomian setiap rumah tangga. Data itu juga bisa membantu pemerintah melihat posisi masyarakat dalam kelompok desil tertentu, sehingga pembaruan data perlu dilakukan secara berkala.

“Jadi ini menunjukkan hasil sensus ekonomi 2026 ini adalah tingkat perekonomian dari setiap rumah, apakah masuk dalam desil, mungkin bisa nanti dijadikan desil 1, 2, 3, 4, 5 atau 6,” ujarnya.

Sensus Ekonomi 2026 Sasar UMKM Surabaya

Eri menyampaikan apresiasi kepada BPS yang telah melakukan pendataan terhadap dirinya dan keluarga dalam sensus ekonomi 2026 ini. Ia berharap langkah tersebut menjadi contoh bagi masyarakat agar bersedia menerima petugas dan memberikan keterangan yang dibutuhkan.

Ia mengakui sebagian warga mungkin merasa jenuh karena kerap menjadi objek pendataan. Namun, Eri menilai pembaruan data tetap dibutuhkan agar program pemerintah lebih tepat sasaran.

“Updating data itu memang harus dilakukan beberapa kali, agar memastikan ketika yang menerima bantuan itu adalah tepat sasaran,” katanya.

Petugas sensus ekonomi dari BPS Kota Surabaya saat mendatangi rumah dinas Wali Kota Surabaya

Eri juga meminta warga Surabaya menjawab pertanyaan petugas BPS dengan terbuka. Menurutnya, data yang akurat tidak hanya membantu pemerintah memetakan pergerakan ekonomi kota, tetapi juga membuat penyaluran bantuan lebih transparan.

“Saya atas nama Pemerintah Kota Surabaya nyuwun ngapuro kepada warga Surabaya, mohon ikhlas hatinya nanti teman-teman BPS ketika bertanya kepada njenengan terkait sensus ekonomi nyuwun tolong dijawab,” pesannya.

Sementara itu, Kepala BPS Kota Surabaya Arrief Chandra Setiawan mengatakan sensus ekonomi 2026 menargetkan pendataan seluruh skala usaha di Kota Pahlawan. Sasaran pendataan mencakup usaha besar, usaha menengah, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah.

Baca Juga: Sensus Ekonomi Jatim Bakal Door to Door, Ini Tanggalnya

BPS mencatat sekitar 1.402 usaha besar dengan omzet di atas Rp50 miliar menjadi sasaran pendataan. Selain itu, ada sekitar 13.000 usaha menengah dan kurang lebih 490.000 UMKM yang juga akan didata.

“Kita akan mendata sebanyak 1.402 usaha besar yang memiliki omzet sekitar Rp50 miliar ke atas, dan sekitar 13.000 usaha menengah serta kurang lebih 490.000 itu UMKM yang kecil,” kata Arrief.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi bersama petugas BPS Surabaya saat menempelkan stiker sensus ekonomi 2026 di rumah dinas

BPS Surabaya Kerahkan 1980 Petugas

Untuk mendukung pelaksanaan sensus ekonomi 2026, BPS Surabaya melibatkan sekitar 1.980 petugas dan pengawas. Pendataan telah dimulai sejak 1 Mei 2026, sedangkan metode door to door berlangsung mulai 15 Juni hingga 31 Agustus 2026.

Arrief menjelaskan, sensus ekonomi berbeda dengan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional atau DTSEN. Jika DTSEN lebih berfokus pada aspek sosial, sensus ekonomi merupakan program nasional yang dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia setiap 10 tahun sekali.

“Jadi DTSEN kemarin itu Kota Surabaya sebagai pilot project. Kalau sensus ekonomi seluruh di Indonesia. Ini project 10 tahun sekali,” ujarnya.

Hingga pertengahan Juni 2026, pendataan terhadap usaha besar telah mencapai sekitar 800 perusahaan, termasuk sektor perbankan dan berbagai perusahaan besar lainnya. Untuk pendataan door to door, dalam dua hari pertama BPS telah menjangkau sekitar 8.000 usaha.

Arrief menyebut tantangan di lapangan masih ada, terutama karena sebagian responden merasa terlalu sering didata. Kondisi itu disebut sebagai respondent burden atau kejenuhan responden.

Meski demikian, BPS Surabaya optimistis pendataan dapat berjalan dengan pendekatan persuasif dan dukungan Pemkot Surabaya. Dengan basis data yang lebih lengkap, sensus ekonomi 2026 diharapkan membantu pemerintah membaca struktur usaha, pergerakan ekonomi, dan kebutuhan kebijakan yang lebih tepat bagi pelaku usaha di Surabaya. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya