Rupiah Makin Kuat Sehari Pasca Kabar Damai AS-Iran

|

7 Views
Rupiah Makin Kuat Sehari Pasca Kabar Damai AS-Iran

FinanSaya.com – Rupiah makin kuat terhadap dolar Amerika Serikat setelah pasar global merespons positif kabar kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Penguatan tersebut terlihat dari kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR Bank Indonesia yang turun ke level Rp17.719 per dolar AS pada Senin, 15 Juni 2026.

Berdasarkan data Bank Indonesia, JISDOR pada 15 Juni 2026 berada di Rp17.719 per dolar AS. Angka ini lebih rendah dibandingkan posisi 12 Juni 2026 yang berada di Rp17.921 per dolar AS. Dengan demikian, rupiah menguat 202 poin atau sekitar 1,13 persen dalam satu hari perdagangan berdasarkan kurs acuan tersebut.

Penguatan rupiah berlanjut pada perdagangan Selasa, 16 Juni 2026. Berdasarkan tangkapan layar TradingView pukul 10.32 WIB, pasangan USD/IDR berada di level Rp17.695 per dolar AS. Posisi tersebut turun 19 poin atau 0,11 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.714 per dolar AS.

Data intraday ini menunjukkan rupiah masih bergerak menguat setelah JISDOR Bank Indonesia turun ke Rp17.719 per dolar AS pada perdagangan sebelumnya.

Rupiah makin kuat juga terlihat jika dibandingkan dengan posisi beberapa hari sebelumnya. Pada 11 Juni 2026, JISDOR masih berada di Rp17.981 per dolar AS. Sementara pada 10 Juni 2026, kurs acuan BI berada di Rp17.971 per dolar AS.

Bahkan pada 8 Juni 2026, JISDOR sempat berada di Rp18.171 per dolar AS. Jika dibandingkan dengan posisi tersebut, rupiah telah menguat 452 poin terhadap dolar AS berdasarkan data kurs acuan Bank Indonesia.

Rupiah Makin Kuat Setelah Tekanan Mereda

Pergerakan ini memperlihatkan tekanan terhadap mata uang domestik mulai mereda setelah sebelumnya sempat berada di atas level Rp18.000 per dolar AS. Bagi pasar keuangan, penurunan JISDOR menunjukkan kebutuhan dolar mulai lebih terkendali dibandingkan awal pekan sebelumnya.

Sentimen positif bagi rupiah datang dari meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyambut pengumuman bahwa Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati kesepakatan damai. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyebut kesepakatan tersebut sebagai langkah penting untuk mengakhiri konflik.

Baca Juga: Prediksi Depresiasi Dolar Amerika Bisa Buka Ruang Rupiah

Kabar damai AS-Iran menjadi perhatian pasar karena konflik kedua negara sebelumnya meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah, termasuk jalur energi global. Meredanya risiko geopolitik biasanya mendorong pelaku pasar kembali masuk ke aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Dengan latar tersebut, rupiah makin kuat karena sentimen eksternal yang sebelumnya menekan pasar mulai berbalik. Kondisi ini memberi ruang bagi mata uang domestik untuk keluar dari tekanan setelah sempat berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS.

BI-Rate Ikut Topang Rupiah

Selain faktor eksternal, rupiah makin kuat juga ditopang oleh kebijakan moneter Bank Indonesia. BI sebelumnya menaikkan BI-Rate menjadi 5,50 persen pada 9 Juni 2026. Angka tersebut naik dari posisi 5,25 persen pada 20 Mei 2026.

Kenaikan suku bunga acuan tersebut menjadi sinyal bahwa Bank Indonesia berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan dolar AS dan ketidakpastian global. Suku bunga yang lebih tinggi dapat membantu menjaga daya tarik aset rupiah bagi investor.

Selain BI-Rate, Bank Indonesia juga menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 basis poin menjadi 4,50 persen. Suku bunga Lending Facility ikut naik 25 basis poin menjadi 6,25 persen.

Kombinasi meredanya ketegangan geopolitik dan kebijakan moneter domestik yang lebih ketat membuat rupiah mendapat ruang untuk menguat. Namun, pasar masih akan mencermati keberlanjutan tren ini karena pergerakan nilai tukar tetap dipengaruhi data ekonomi global, arah suku bunga Amerika Serikat, dan aliran dana asing.

Rupiah makin kuat juga menjadi sinyal positif bagi pelaku usaha yang memiliki kebutuhan impor atau kewajiban dalam dolar AS. Penguatan nilai tukar dapat membantu menekan beban biaya, meski dampaknya bergantung pada besaran kebutuhan valuta asing masing-masing pelaku usaha.

Untuk pasar keuangan, rupiah makin kuat dapat memperbaiki sentimen terhadap aset domestik, termasuk saham dan obligasi. Kendati demikian, keberlanjutan penguatan tetap bergantung pada stabilitas geopolitik, konsistensi kebijakan Bank Indonesia, serta respons investor terhadap perkembangan global. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya