Prediksi Depresiasi Dolar Amerika Bisa Buka Ruang Rupiah

|

9 Views
Prediksi Depresiasi Dolar Amerika Bisa Buka Ruang Rupiah

FinanSaya.com – Depresiasi dolar Amerika mulai menjadi perhatian analis global seiring penilaian bahwa mata uang Amerika Serikat masih terlalu mahal secara historis. Pelemahan bertahap dolar AS dinilai dapat terjadi jika The Federal Reserve atau The Fed melanjutkan pelonggaran kebijakan dan arus modal global kembali menyesuaikan arah.

Morgan Stanley Investment Management menilai dolar AS masih overvalued berdasarkan standar historis. Dalam outlook 2026, lembaga itu menyebut peluang mata uang semakin menarik karena dolar diperkirakan mengalami depresiasi bertahap saat pelonggaran The Fed berjalan dan arus modal global kembali seimbang.

Pandangan tersebut memperkuat sinyal bahwa dolar AS tidak lagi berada dalam fase penguatan tanpa hambatan. Setelah beberapa tahun menjadi pilihan utama investor global karena suku bunga tinggi dan status aset safe haven, dolar mulai menghadapi tekanan dari ekspektasi penurunan suku bunga, kekhawatiran defisit fiskal AS, dan perubahan arus dana internasional.

Nada lebih tajam disampaikan David Roche, Presiden dan Global Strategist Quantum Strategy. Business Insider melaporkan Roche memperkirakan dolar AS dapat melemah 15 persen hingga 20 persen dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan.

Depresiasi Dolar Amerika dan Risiko Aset AS

Roche menilai pelemahan itu tidak terjadi sebagai keruntuhan mendadak, tetapi tekanan bertahap. Faktor yang disorot mencakup perang dagang, berkurangnya kepercayaan investor asing terhadap aset AS, dan melemahnya minat global untuk membiayai defisit Amerika Serikat.

Business Insider juga mengutip Roche yang menilai perang dagang merusak reputasi keuangan AS dan mendorong investor asing menarik diri dari aset Amerika. Jika tren itu berlanjut, permintaan terhadap dolar berpotensi melemah.

Selain itu, Reuters sebelumnya juga menulis bahwa Goldman Sachs Chief Economist Jan Hatzius melihat dolar masih memiliki ruang untuk turun. Dalam laporan itu, Hatzius menyoroti ketidakpastian tarif, risiko resesi, dan menurunnya minat investor terhadap aset AS sebagai faktor yang dapat menekan mata uang tersebut.

Baca Juga: Suku Bunga Acuan BI Naik, Rupiah Sempat Menguat

Bagi mata uang negara berkembang, depresiasi dolar Amerika biasanya dapat mengurangi tekanan eksternal. Ketika dolar melemah, investor global lebih berani mencari imbal hasil di negara berkembang, terutama jika selisih suku bunga masih menarik dan risiko domestik dapat dikendalikan.

Bagi Indonesia, pelemahan dolar dapat membuka peluang penguatan rupiah melalui beberapa jalur. Tekanan eksternal terhadap kurs bisa berkurang, imbal hasil Surat Berharga Negara dapat kembali menarik bagi investor asing, dan arus modal masuk dapat mendorong permintaan terhadap rupiah.

Rupiah Masih Bergantung Faktor Domestik

Namun peluang rupiah menguat tidak hanya bergantung pada depresiasi dolar Amerika. Reuters melaporkan Bank Indonesia menaikkan suku bunga di luar jadwal pada 9 Juni 2026 sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen untuk menstabilkan rupiah.

Dalam laporan yang sama, Reuters menyebut rupiah melemah 8 persen sepanjang tahun ini dan sempat menyentuh rekor rendah 18.190 per dolar AS sebelum pulih tipis. BI juga disebut memakai cadangan devisa dan kebijakan imbal hasil untuk menahan tekanan pasar.

Selain itu, Bank Indonesia juga telah menggelar komunikasi dengan investor asing dari Eropa, Amerika Serikat, Asia, dan investor domestik setelah kenaikan bunga tersebut. Gubernur BI Perry Warjiyo disebut memimpin dua panggilan investor untuk menjelaskan alasan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Artinya, depresiasi dolar Amerika dapat menjadi momentum bagi rupiah, tetapi belum otomatis membuat rupiah menguat tajam. Rupiah baru berpeluang pulih lebih kuat jika pelemahan dolar disertai masuknya modal asing, stabilitas fiskal, harga energi yang terkendali, dan kepercayaan investor terhadap kebijakan ekonomi Indonesia.

Jika depresiasi dolar Amerika terjadi bersamaan dengan sentimen negatif domestik, tekanan fiskal, harga energi tinggi, atau keluarnya dana asing dari pasar keuangan Indonesia, penguatan rupiah bisa tertahan. Indonesia juga rentan terhadap lonjakan harga energi karena kebutuhan valuta asing untuk impor dapat meningkat.

Dengan demikian, depresiasi dolar Amerika dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat rupiah. Namun momentum itu tetap perlu ditopang stabilitas fiskal, konsistensi kebijakan Bank Indonesia, daya tarik imbal hasil aset rupiah, dan keyakinan investor terhadap prospek ekonomi nasional. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya