FinanSaya.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara setelah nilai tukar rupiah menembus batas psikologis Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026.
Rupiah melemah sejak pembukaan pasar. Nilai tukar bergerak dari Rp17.960 pada awal sesi, lalu menyentuh Rp18.020 per dolar AS dalam waktu kurang dari satu jam. Level tersebut menjadi sorotan karena disebut sebagai pertama kalinya rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS dalam sejarah.
Menteri Keuangan Purbaya mengatakan pelemahan rupiah saat ini masih berada dalam rentang angka yang telah diperhitungkan pemerintah. Meski begitu, ia mengakui kondisi tersebut berdampak pada beban pembayaran utang pemerintah.
“Hanya pada saat rupiah melemah, maka pembayaran utang dalam rupiah meningkat, namun ini masih dalam kisaran perhitungan kami,” ujar Purbaya di Kompleks DPR, Kamis, 5 Juni 2026.
Menurut Menteri Keuangan Purbaya, kondisi fiskal pemerintah masih mampu meredam dampak pelemahan nilai tukar. Ia menegaskan pemerintah tidak tinggal diam dalam menghadapi tekanan rupiah.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah masuk ke pasar obligasi. Pemerintah disebut telah mengucurkan anggaran sekitar Rp8 triliun di pasar obligasi untuk menahan laju pelemahan rupiah dan menjaga imbal hasil surat utang negara tetap menarik bagi investor asing.
“Mungkin Rp8 triliun lebih yang di obligasi. Sebenarnya tidak boleh diomongin, tapi biar Anda tahu saya intervensi sedikit. Hasilnya yield 10 tahun relatif stabil, jadi dampaknya ada ke surat utang kita,” kata Purbaya.
Menteri Keuangan Purbaya Sebut Fiskal Masih Mampu
Pernyataan Menteri Keuangan Purbaya menunjukkan bahwa tekanan rupiah tidak hanya berdampak pada pasar valuta asing, tetapi juga ikut memengaruhi beban pembayaran utang pemerintah.
Saat rupiah melemah terhadap dolar AS, kewajiban dalam valuta asing dapat menjadi lebih berat jika dikonversi ke rupiah. Namun, Purbaya menilai dampaknya masih dapat dikelola dalam perhitungan fiskal pemerintah.
Di sisi lain, stabilitas pasar obligasi menjadi perhatian karena berkaitan dengan minat investor terhadap Surat Utang Negara. Yield obligasi tenor 10 tahun yang relatif stabil disebut menjadi salah satu hasil dari intervensi pemerintah di pasar obligasi.
Baca Juga: Dolar Tembus Rp18.000, Apa Tanggapan Menkeu?
Langkah Stabilisasi Bank Indonesia
Secara terpisah, Bank Indonesia juga memperkuat langkah stabilisasi nilai tukar rupiah. Deputi Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan BI konsisten hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi.
Destry menyebut pelemahan rupiah masih sejalan dengan mata uang regional. Secara year to date, rupiah melemah 7,44 persen. Sementara itu, cadangan devisa tetap terjaga di level 146,2 miliar dolar AS pada akhir April 2026.

“Secara umum, pelemahan rupiah masih sejalan dengan regional. Secara year to date rupiah melemah 7,44 persen, sementara cadangan devisa tetap terjaga di level 146,2 miliar dolar AS pada akhir April 2026,” ujar Destry, Kamis, 5 Juni 2026.
Intervensi BI dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward atau NDF di pasar offshore, transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward atau DNDF di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder.
Sejalan dengan Menteri Keuangan Purbaya, BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-pasar untuk menarik aliran modal masuk ke aset domestik. Selain itu, koordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar terus dilakukan secara intensif.
“Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya terus dilakukan secara intensif,” tutur Destry.
Selain intervensi pasar, BI mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction atau LCT. Skema ini menjadi salah satu upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan.
LCT sudah berjalan dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Menurut Destry, diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema tersebut terus meningkat.
“Diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema LCT terus meningkat pada April 2026 dan mencapai sekitar 22,7 miliar dolar AS, sedangkan total transaksi LCT selama tahun 2026 telah mencapai 25,7 miliar dolar AS,” pungkas Destry.
Dengan rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS, respons pemerintah dan BI menjadi perhatian pasar. Menteri Keuangan Purbaya menekankan dampak pelemahan rupiah terhadap utang masih dalam perhitungan, sementara BI memperkuat intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar. (Sol)




