Opini oleh Solomon Tama
FinanSaya.com – Kepatuhan mutlak sering disamarkan sebagai sikap sopan, rendah hati, mau belajar, dan mudah diarahkan. Di banyak tempat kerja, ada satu narasi yang terdengar bijak, tetapi sebenarnya berbahaya, yakni lebih baik mempekerjakan orang yang patuh dan sopan daripada orang pintar yang banyak tuntutan.
Sekilas, kalimat itu terasa masuk akal. Siapa yang tidak ingin bekerja dengan orang yang sopan, enak diajak bicara, dan tidak membuat suasana kerja menjadi sulit?
Namun, persoalannya muncul ketika sopan santun tidak lagi dimaknai sebagai etika kerja, melainkan sebagai kepatuhan mutlak. Di titik itu, dunia kerja bukan lagi mencari manusia yang kompeten. Yang dicari adalah manusia yang bisa dikendalikan.
Sopan santun tentu penting. Etika kerja juga penting. Tetapi jika semua pertanyaan dianggap pembangkangan, semua negosiasi dianggap kurang loyal, dan semua batas profesional dianggap kesombongan, maka yang sedang dibangun bukan budaya kerja sehat. Yang sedang dibangun adalah ketakutan.
Ketika Kompetensi Dianggap Merepotkan
Kompetensi sering dianggap mahal. Orang yang punya kemampuan tinggi biasanya tahu nilai dirinya. Ia paham bahwa waktu, tenaga, pikiran, pengalaman, dan keterampilannya punya harga.
Ia tidak mudah menerima upah rendah untuk beban kerja yang besar. Ia berani bertanya soal kontrak, jam kerja, tanggung jawab, batasan pekerjaan, dan kesejahteraan.
Sayangnya, keberanian seperti itu sering disalahartikan sebagai arogansi.
Orang yang menanyakan upah dianggap tidak loyal. Orang yang meminta jobdesc jelas dianggap banyak aturan. Orang yang menolak beban kerja berlebihan dianggap tidak mau berkembang. Orang yang punya standar profesional dianggap sombong.
Padahal, menuntut kejelasan bukan berarti arogan. Meminta bayaran layak bukan berarti tidak tahu diri. Menolak dieksploitasi bukan berarti tidak sopan. Justru di situlah letak kesadaran profesional seseorang.
Masalahnya, bagi sebagian tempat kerja yang terbiasa mencari tenaga murah, pekerja seperti ini memang merepotkan. Bukan karena mereka buruk, tetapi karena mereka tidak mudah dimurahkan.
Sopan Santun Bukan Tunduk Tanpa Suara
Ada perbedaan besar antara pekerja yang sopan dan pekerja yang tunduk tanpa suara.
Pekerja yang sopan tetap bisa bertanya. Tetap bisa menyampaikan keberatan. Tetap bisa memberi masukan. Tetap bisa menolak pekerjaan yang tidak sesuai kesepakatan. Ia hanya melakukannya dengan cara yang profesional.
Sementara pekerja yang tunduk tanpa suara sering kali tidak benar-benar dihargai sebagai manusia. Ia hanya dianggap “mudah diatur”. Semakin tidak banyak bertanya, semakin dianggap baik. Semakin tidak menuntut, semakin dianggap loyal. Semakin menerima beban tambahan tanpa keberatan, semakin dianggap punya attitude bagus.
Di sinilah kepatuhan mutlak menjadi berbahaya. Ia mengubah etika menjadi alat kendali. Ia membuat pekerja takut menyuarakan hal yang wajar. Ia membuat diam terlihat seperti kebajikan, padahal bisa jadi diam itu muncul karena posisi tawar yang lemah.
ILO menyebut hak dasar di tempat kerja mencakup kebebasan berserikat dan pengakuan efektif atas hak untuk berunding bersama. Prinsip ini menunjukkan bahwa pekerja bukan sekadar pihak yang harus menerima keputusan, tetapi punya hak untuk bersuara dalam hubungan kerja.
Narasi “Yang Penting Patuh” Sering Untungkan Sistem yang Lemah
Glorifikasi terhadap pekerja yang “yang penting patuh” sering dibungkus dengan kata-kata manis: rendah hati, mau belajar, tidak banyak membantah, tahu diri, bisa diarahkan.
Tentu saja, sifat-sifat itu bisa baik jika ditempatkan secara sehat. Tetapi menjadi berbahaya jika dipakai untuk menekan pekerja agar tidak mempertanyakan hal yang memang perlu dipertanyakan.
Misalnya, ketika gaji tidak sepadan dengan beban kerja. Ketika jam kerja terus melebar tanpa kompensasi. Ketika jobdesc berubah terus, tetapi kontrak tidak pernah diperjelas. Ketika pekerja diminta selalu siap, tetapi perusahaan tidak memberi kepastian.
Dalam situasi seperti ini, pekerja yang bertanya bukan masalah. Pertanyaannya justru tanda bahwa ada hal yang perlu dibenahi.
Namun, lingkungan kerja yang rapuh sering tidak suka dikoreksi. Kritik dianggap serangan. Masukan dianggap pembangkangan. Orang yang punya kemampuan membaca masalah dianggap ancaman. Kepatuhan mutlak dianggap prestasi.
Akhirnya, yang dihargai bukan keahlian, melainkan kepatuhan mutlak.
Tempat Kerja Sehat Tidak Takut pada Orang Kompeten
Perusahaan yang sehat seharusnya tidak takut pada orang kompeten. Justru perusahaan yang benar-benar ingin maju membutuhkan orang-orang yang bisa berpikir, mengoreksi, memberi masukan, dan bekerja dengan standar tinggi.
Orang kompeten memang kadang tidak selalu nyaman. Ia bisa bertanya kenapa proses kerja berantakan. Ia bisa menunjukkan bahwa target tidak realistis. Ia bisa membaca bahwa kebijakan tertentu tidak efisien. Ia bisa pergi jika diperlakukan tidak layak.
Namun, justru karena itu ia bernilai daripada kepatuhan mutlak.
Organisasi yang sehat tidak memusuhi orang yang berpikir. Organisasi yang sehat menciptakan ruang agar kompetensi bisa bekerja bersama etika.
OECD dalam kerangka kualitas kerja menilai pekerjaan bukan hanya dari ada atau tidaknya pekerjaan, tetapi juga dari kualitas penghasilan, keamanan pasar kerja, dan lingkungan kerja. Ini memberi pesan penting: kerja yang baik tidak cukup diukur dari ketersediaan tenaga, tetapi juga dari kualitas kondisi kerja.
Jika tempat kerja hanya ingin orang yang murah, patuh, dan tidak pernah bertanya, maka yang dibangun bukan kualitas. Yang dibangun hanyalah kepatuhan mutlak jangka pendek.
Baca Juga: Devide et Impera Modern: Saat Rakyat Cibir Rakyat
Budaya “Orang Dalam” Perparah Masalah
Dalam beberapa kasus, budaya kepatuhan mutlak diperparah oleh praktik “orang dalam”. Keluarga, teman, titipan, atau kenalan lebih mudah masuk bukan karena paling mampu, tetapi karena dianggap lebih aman secara relasi.
Orang seperti ini belum tentu buruk. Banyak juga yang kompeten. Masalahnya muncul ketika kedekatan mengalahkan kemampuan. Ketika relasi lebih penting daripada kualitas kerja. Ketika orang dipilih karena mudah diarahkan, bukan karena paling mampu menjalankan tanggung jawab.
Dampak kepatuhan mutlak ini mulai terasa pelan-pelan.
Standar turun. Orang kompeten malas bertahan. Kritik menghilang. Ide baru sulit tumbuh. Yang pandai bekerja kalah dari yang pandai menyenangkan atasan. Yang berani menyampaikan risiko dianggap mengganggu. Yang diam dianggap matang.
Lingkungan seperti ini biasanya tidak benar-benar membangun tim. Ia hanya membangun barisan orang yang takut berbeda pendapat.
Kepatuhan Mutlak Bisa Membunuh Daya Saing
Dalam jangka pendek, sistem seperti kepatuhan mutlak ini mungkin terlihat menguntungkan. Pekerja bisa dibayar murah, diberi beban besar, lalu diminta bersyukur karena masih diberi kesempatan.
Namun, dalam jangka panjang, organisasi akan kehilangan daya saing.
Sebab, kepatuhan mutlak mungkin bisa membuat pekerjaan berjalan tanpa perlawanan. Tetapi kompetensi yang membuat pekerjaan berjalan dengan benar.
Orang yang hanya patuh mungkin bisa mengikuti instruksi. Tetapi ketika situasi berubah, ia belum tentu mampu berpikir kritis. Ketika masalah kompleks muncul, ia mungkin menunggu arahan. Ketika keputusan buruk dibuat, ia mungkin diam karena takut dianggap melawan.
Padahal, dunia kerja membutuhkan lebih dari sekadar orang yang menurut. Dunia kerja membutuhkan orang yang bisa membaca masalah, memberi solusi, mengambil tanggung jawab, dan berani berkata bahwa sesuatu tidak berjalan baik.
ILO mengaitkan produktivitas dan decent work dengan perbaikan kondisi kerja, dialog sosial, dan hubungan industrial. Ini menunjukkan bahwa produktivitas tidak hanya lahir dari tekanan dan kepatuhan mutlak, tetapi juga dari sistem kerja yang manusiawi dan melibatkan suara pekerja.
Orang Pintar Tidak Harus Arogan, Orang Patuh Tidak Selalu Baik
Kita perlu curiga pada narasi yang terlalu sering membenturkan kepintaran dengan sopan santun.
Seolah-olah orang pintar pasti arogan. Seolah-olah orang yang patuh pasti lebih baik. Seolah-olah pekerja yang bertanya adalah ancaman, sementara pekerja yang menerima semuanya adalah teladan.
Padahal, yang ideal bukan memilih antara kompetensi dan etika.
Yang ideal adalah mencari orang yang kompeten sekaligus beretika, lalu memperlakukannya secara layak.
Orang pintar tetap harus punya etika. Ia tidak boleh merasa paling benar, meremehkan orang lain, atau memakai kecerdasannya untuk merusak kerja tim. Tetapi perusahaan juga tidak boleh memakai kata “attitude” untuk membungkam pekerja yang berani menuntut batas sehat.
Sopan santun bukan berarti tidak boleh bertanya. Loyalitas bukan berarti bersedia dieksploitasi. Rendah hati bukan berarti tidak sadar nilai diri.
Menuntut Kejelasan adalah Bagian dari Profesionalisme
Dalam hubungan kerja yang sehat, kejelasan adalah hal wajar dibandingkan kepatuhan mutlak.
Berapa upahnya? Apa jobdesc-nya? Bagaimana jam kerjanya? Apakah lembur dihitung? Siapa atasan langsungnya? Bagaimana ukuran keberhasilan kerja? Apa hak dan kewajiban masing-masing pihak?
Pertanyaan seperti ini tidak seharusnya dianggap kurang ajar. Justru pertanyaan ini membantu menghindari konflik di kemudian hari.
Pekerja yang meminta kejelasan bukan sedang mempersulit perusahaan. Ia sedang memastikan hubungan kerja berjalan profesional.
Tempat kerja yang alergi terhadap pertanyaan dasar biasanya perlu dipertanyakan. Sebab jika sejak awal saja tidak mau jelas, bagaimana pekerja bisa berharap diperlakukan adil saat masalah muncul?
Kepatuhan yang Sehat Berbeda dari Kepatuhan Buta
Bukan berarti semua bentuk kepatuhan buruk. Dalam organisasi, tetap perlu ada aturan, struktur, alur kerja, tanggung jawab, dan koordinasi. Tidak semua orang bisa berjalan sendiri-sendiri.
Kepatuhan yang sehat berarti menghormati kesepakatan kerja, prosedur, etika, dan tanggung jawab profesional.
Namun, kepatuhan mutlak atau buta berarti menerima semuanya tanpa boleh bertanya. Di situlah masalahnya.
Pekerja yang baik bukan pekerja yang tidak pernah berbeda pendapat. Pekerja yang baik adalah pekerja yang memahami tanggung jawab, bekerja dengan benar, menjaga etika, dan berani menyampaikan hal penting dengan cara yang tepat.
Begitu juga perusahaan yang baik. Perusahaan yang baik bukan perusahaan yang membuat semua orang diam. Perusahaan yang baik adalah perusahaan yang bisa mengelola perbedaan pendapat tanpa mengubahnya menjadi ancaman. (Sol)




