FinanSaya.com – IPO SpaceX menjadi salah satu aksi korporasi paling panas tahun ini karena menggabungkan nama besar Elon Musk, valuasi jumbo, dan pertumbuhan Starlink sebagai mesin pendapatan utama perusahaan.
Dikutip dari Reuters, SpaceX menargetkan penggalangan dana sekitar 75 miliar dolar AS dalam penawaran umum perdana saham, dengan valuasi sekitar 1,75 triliun dolar AS. Perusahaan disebut berencana menjual sekitar 555,6 juta saham dengan harga 135 dolar AS per saham.
Jika dikonversi menggunakan kurs sekitar Rp18.141 per dolar AS, harga IPO SpaceX sebesar US$135 per saham setara sekitar Rp2.449.035 atau Rp2,45 juta per saham. Dengan kurs yang sama, target penggalangan dana US$75 miliar setara sekitar Rp1.360 triliun, sementara valuasi US$1,75 triliun setara sekitar Rp31.747 triliun.
Bila target itu terealisasi, IPO SpaceX tersebut berpotensi menjadi salah satu penawaran saham terbesar dalam sejarah pasar modal global. Permintaan investor terhadap saham SpaceX bahkan melampaui jumlah saham yang tersedia.
Euforia aksi korporasi ini tidak hanya datang dari investor institusi. Bloomberg melaporkan bahwa pesanan investor ritel untuk IPO SpaceX telah menembus lebih dari 70 miliar dolar AS. Investor ritel diperkirakan mendapat alokasi sedikitnya 20 persen saham yang ditawarkan, meski rincian akhir masih dapat berubah.
Minat besar dari investor ritel tidak lepas dari kuatnya nama Elon Musk dan popularitas SpaceX di Amerika Serikat.
Meski begitu, daya tarik SpaceX tidak hanya bertumpu pada figur Musk atau bisnis roketnya. Salah satu magnet terbesar IPO ini adalah Starlink, layanan internet satelit yang kini menjadi sumber pendapatan utama perusahaan.
IPO SpaceX Ditopang Pertumbuhan Starlink
Berdasarkan laporan terbaru, SpaceX membukukan pendapatan 18,67 miliar dolar AS pada 2025. Starlink disebut menyumbang sekitar 60 persen dari pendapatan tersebut dan melayani 10,3 juta pengguna melalui 9.600 satelit.
Data Via Satellite yang merujuk dokumen IPO SpaceX di Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) Amerika menunjukkan SpaceX mencatat pendapatan sekitar 18,7 miliar dolar AS pada 2025. Dari jumlah itu, Starlink menjadi kontributor terbesar, meski perusahaan masih membukukan rugi bersih 4,9 miliar dolar AS.
Baca Juga: Jelang IPO SpaceX, Elon Musk Diisukan Jadi ‘Tirani’
Angka tersebut menunjukkan narasi SpaceX kini tidak lagi hanya soal peluncuran roket, misi luar angkasa, atau ambisi kolonisasi Mars. Di balik teknologi antariksa, Starlink menjadi bisnis yang paling dekat dengan arus kas harian karena menjual layanan internet satelit kepada pelanggan.
Pertumbuhan pelanggan Starlink juga menjadi perhatian investor. Dalam dokumen IPO, jumlah pelanggan Starlink naik dari 2,3 juta pada 2023 menjadi 4,4 juta pada 2024, lalu mencapai 8,9 juta pada 2025. Pada akhir Maret 2026, jumlah pelanggan disebut mencapai 10,3 juta.
Kenaikan pelanggan itu membuat SpaceX tidak hanya dilihat sebagai perusahaan luar angkasa. Investor juga melihatnya sebagai perusahaan infrastruktur digital global yang masuk ke pasar internet rumah, konektivitas daerah terpencil, mobilitas, hingga layanan militer dan pemerintahan.
Valuasi Jumbo Tetap Ada Resiko
Meski permintaan investor sangat besar, IPO SpaceX tetap membawa risiko. SpaceX masih membukukan rugi bersih sekitar 4,94 miliar dolar AS pada 2025 setelah sebelumnya mencatat laba 791 juta dolar AS pada 2024.
Selain itu, laporan dokumen IPO menunjukkan pendapatan rata-rata Starlink per pelanggan atau average revenue per user turun dari 99 dolar AS per bulan pada 2023 menjadi 66 dolar AS per bulan pada akhir Maret 2026.
Penurunan ARPU menunjukkan pertumbuhan jumlah pelanggan belum tentu langsung sejalan dengan kenaikan profitabilitas per pelanggan. Starlink memang menjadi mesin pendapatan utama, tetapi SpaceX masih perlu membuktikan ekspansi besar-besaran itu mampu menghasilkan laba berkelanjutan.
Bagi investor ritel, IPO ini menghadirkan dilema klasik pasar modal. Di satu sisi, perusahaan membawa cerita pertumbuhan yang kuat melalui roket reusable, dominasi peluncuran satelit, Starlink, dan rencana pengembangan bisnis berbasis AI.
Disclaimer: Artikel ini hanya bertujuan sebagai informasi dan edukasi, bukan merupakan ajakan, rekomendasi, maupun saran investasi untuk membeli atau menjual aset tertentu. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan kondisi keuangan pribadi .




