FinanSaya.com – Inflasi tahunan Surabaya meningkat tajam pada Juli 2026. Badan Pusat Statistik Kota Surabaya mencatat inflasi year-on-year sebesar 3,45 persen.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Juli 2025 yang sebesar 2,03 persen. Jika dibandingkan dengan Juli 2024, inflasi Surabaya saat itu tercatat 2,20 persen.
Dengan posisi terbaru, inflasi Juli 2026 naik 1,42 poin persentase dari tahun lalu. Dibandingkan dua tahun sebelumnya, kenaikan inflasi tahunan Surabaya mencapai 1,25 poin persentase.
BPS juga mencatat Indeks Harga Konsumen Surabaya meningkat dari 108,68 pada Juli 2025 menjadi 112,43 pada Juli 2026. Sementara itu, inflasi tahun kalender atau year-to-date mencapai 1,95 persen.
Inflasi Tahunan Surabaya Naik dari Dua Tahun Lalu
Kenaikan inflasi tahunan Surabaya menunjukkan tekanan harga pada 2026 lebih kuat dibandingkan dua periode sebelumnya. Tidak hanya secara tahunan, inflasi tahun kalender juga bergerak lebih tinggi.
Pada Juli 2025, inflasi tahun kalender Surabaya berada di level 1,47 persen. Pada Juli 2024, angkanya lebih rendah, yakni 0,82 persen.
Meski tekanan tahunan meningkat, Surabaya mengalami deflasi 0,22 persen secara bulanan pada Juli 2026. Artinya, harga barang dan jasa secara umum turun dibandingkan Juni 2026.
Namun, deflasi bulanan tidak menghapus tekanan tahunan. Harga pada Juli 2026 tetap lebih tinggi dibandingkan Juli tahun sebelumnya.
Sepuluh Kelompok Pengeluaran Naik
Kenaikan inflasi tahunan Surabaya terjadi karena 10 dari 11 kelompok pengeluaran mengalami inflasi. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat kenaikan tertinggi, yakni 10,05 persen.
Kelompok transportasi menyusul dengan inflasi 8,82 persen. Setelah itu, kelompok kesehatan naik 3,06 persen, sedangkan makanan, minuman, dan tembakau naik 2,99 persen.
Meski bukan kelompok dengan persentase kenaikan tertinggi, transportasi menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi tahunan. Andil kelompok ini mencapai 1,20 poin persentase.
Tekanan utama pada transportasi berasal dari angkutan udara. Komoditas tersebut memberi andil 0,79 poin persentase.
Bensin juga menjadi pendorong penting dengan andil 0,27 poin persentase. Kombinasi angkutan udara dan bensin membuat kelompok transportasi menjadi beban terbesar dalam inflasi Surabaya.
Emas Perhiasan Jadi Tekanan Besar
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberi andil 0,68 poin persentase terhadap inflasi tahunan Surabaya.
Di dalam kelompok ini, emas perhiasan menjadi komoditas paling dominan. Andilnya mencapai 0,56 poin persentase.
Selain emas perhiasan, sejumlah barang kebutuhan personal ikut memberi tekanan. BPS mencatat kenaikan harga pasta gigi, bedak, pembalut wanita, sabun mandi, parfum, dan jasa gunting rambut.
Walaupun andil masing-masing relatif kecil, kenaikan pada berbagai kebutuhan tersebut menambah tekanan biaya rumah tangga.
Kelompok ini penting dicermati karena mencatat persentase inflasi tertinggi. Artinya, kenaikan harga pada barang dan jasa personal bergerak lebih cepat dibandingkan banyak kelompok lain.
Pangan Ikut Dorong Inflasi
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang 0,67 poin persentase terhadap inflasi tahunan Surabaya.
Daging sapi menjadi penyumbang terbesar di kelompok ini dengan andil 0,16 poin persentase. Beras menyusul dengan andil 0,15 poin persentase.
Minyak goreng juga ikut mendorong inflasi dengan andil 0,13 poin persentase. Komoditas lain yang turut memberi tekanan antara lain rokok, daging ayam ras, air kemasan, tahu, dan tempe.
Baca Juga: Inflasi Tertinggi Pulau Jawa Terjadi di Surabaya
Kenaikan pada kelompok pangan langsung berkaitan dengan pengeluaran harian masyarakat. Karena itu, meski andilnya di bawah transportasi, tekanan dari kelompok ini tetap terasa luas.
Kelompok restoran juga mengalami inflasi tahunan 2,26 persen. Kenaikan terutama dipengaruhi nasi dengan lauk, pizza, martabak, dan pepes.
Teknologi Kesehatan Hunian Ikut Naik
Tekanan harga juga muncul dari kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan. Kelompok ini mengalami inflasi 2,75 persen.
Laptop atau notebook memberi andil 0,16 poin persentase. Telepon seluler menyumbang 0,06 poin persentase.
Di kelompok kesehatan, inflasi mencapai 3,06 persen. Tekanan berasal dari obat-obatan dan produk kesehatan, jasa kesehatan lainnya, serta jasa rawat jalan.
Komoditas yang memberi andil antara lain vitamin, tarif laboratorium, tarif dokter spesialis, obat dengan resep, pemeriksaan kesehatan, dan tarif dokter umum.
Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi 1,22 persen. Kenaikan terutama terlihat pada biaya pemeliharaan dan perbaikan tempat tinggal, sewa serta kontrak rumah, listrik, dan bahan bakar rumah tangga.
Kontrak rumah dan upah tukang bukan mandor termasuk komponen yang mendorong inflasi kelompok hunian.
Pendidikan Naik Pakaian Justru Turun
Sektor pendidikan mencatat inflasi tahunan 1,17 persen. Kenaikan terjadi pada pendidikan lainnya, pendidikan tinggi, pendidikan dasar dan anak usia dini, serta pendidikan menengah.
Perguruan tinggi, bimbingan belajar, kursus bahasa asing, dan sekolah dasar tercatat sebagai penyumbang inflasi pendidikan.
Di sisi lain, pakaian dan alas kaki menjadi satu-satunya kelompok yang mengalami deflasi tahunan. Penurunannya sebesar 0,18 persen.
Deflasi pada kelompok ini terutama terlihat pada harga sepatu wanita, kaos pria, sepatu pria, dan blus wanita.
Data BPS menunjukkan inflasi tahunan Surabaya pada Juli 2026 tidak hanya lebih tinggi dari dua tahun sebelumnya, tetapi juga tersebar di banyak kelompok pengeluaran.
Pada Juli 2026, inflasi tahunan Surabaya tercatat 3,45 persen dengan IHK 112,43, deflasi bulanan 0,22 persen, dan tekanan terbesar berasal dari transportasi dengan andil 1,20 poin persentase. (Sol)




