FinanSaya.com – Kota Surabaya mencatat inflasi tertinggi di antara 38 kabupaten dan kota cakupan Indeks Harga Konsumen di Pulau Jawa pada Juli 2026.
Berdasarkan Berita Resmi Statistik Badan Pusat Statistik tentang Perkembangan Indeks Harga Konsumen Juli 2026, inflasi tahunan Surabaya mencapai 3,45 persen.
IHK Kota Surabaya tercatat sebesar 112,43. Meski tekanan harga tahunan menjadi yang paling tinggi di Pulau Jawa, Surabaya justru mengalami deflasi 0,22 persen secara bulanan.
Kondisi tersebut menunjukkan harga barang dan jasa di Surabaya pada Juli 2026 masih lebih tinggi dibandingkan Juli 2025. Namun, dibandingkan Juni 2026, tingkat harga secara umum menurun.
Inflasi Tertinggi Jawa
Posisi Surabaya sebagai wilayah dengan inflasi tertinggi di Pulau Jawa hanya sedikit di atas Sumenep. Kabupaten Sumenep mencatat inflasi tahunan 3,42 persen dengan IHK 115,53.
Di bawah dua wilayah dengan inflasi tertinggi Jawa Timur tersebut, Kabupaten Lebak mencatat inflasi 3,29 persen. Kabupaten Pandeglang menyusul dengan inflasi tahunan 3,07 persen.
Sementara itu, Banyuwangi menjadi wilayah dengan inflasi tahunan terendah di antara daerah IHK Pulau Jawa. Inflasi Banyuwangi tercatat 1,73 persen.
Banyuwangi juga mengalami deflasi bulanan 0,55 persen pada Juli 2026. Angka deflasi tersebut termasuk salah satu yang terdalam di Pulau Jawa dalam periode laporan yang sama.
Surabaya Lampaui Nasional dan Jawa Timur
Inflasi Surabaya juga lebih tinggi dibandingkan angka nasional. BPS mencatat inflasi Indonesia pada Juli 2026 sebesar 2,88 persen secara tahunan dengan IHK 111,73.
Dengan angka 3,45 persen, inflasi Surabaya lebih tinggi 0,57 poin persentase dibandingkan inflasi nasional.
Dibandingkan level provinsi, inflasi tertinggi di Surabaya juga berada di atas Jawa Timur. Pada Juli 2026, Jawa Timur mencatat inflasi tahunan 2,87 persen dan deflasi bulanan 0,26 persen.
Inflasi Jawa Timur menjadi yang tertinggi di antara enam provinsi di Pulau Jawa. Namun, angkanya masih sedikit di bawah inflasi nasional.
Data ini memperlihatkan bahwa tekanan harga di Surabaya lebih kuat daripada rata-rata provinsi dan nasional, meski secara bulanan kota tersebut tetap mengalami deflasi.
Selisih Antarwilayah Jatim Cukup Lebar
Di antara wilayah IHK Jawa Timur, Surabaya berada di posisi paling tinggi. Kota Malang mencatat inflasi 2,83 persen, sedangkan Kota Madiun 2,86 persen.
Kota Kediri mencatat inflasi 2,64 persen. Jember berada di 2,53 persen, Kota Probolinggo 2,54 persen, Bojonegoro 2,27 persen, Tulungagung 2,23 persen, dan Gresik 2,21 persen.
Hampir seluruh wilayah tersebut juga mengalami deflasi bulanan. Penurunan terdalam terjadi di Sumenep sebesar 0,57 persen.
Banyuwangi mencatat deflasi bulanan 0,55 persen, sedangkan Bojonegoro turun 0,47 persen. Perbedaan ini menunjukkan tekanan harga antarwilayah dalam satu provinsi masih cukup lebar.
Dengan sebaran tersebut, Surabaya menjadi titik perhatian karena mencatat inflasi tertinggi secara tahunan, tetapi tetap bergerak turun secara bulanan.
Baca Juga: Iklim Investasi Diperketat Pemkot Surabaya, Ini Langkahnya
Komoditas Nasional
Secara nasional, inflasi tahunan Juli 2026 dipengaruhi kenaikan indeks pada seluruh kelompok pengeluaran.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat kenaikan tertinggi sebesar 9,04 persen. Kelompok transportasi menyusul dengan inflasi 5,12 persen.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 2,97 persen secara tahunan.
BPS juga mencatat sejumlah komoditas dominan yang menyumbang inflasi tahunan nasional. Di antaranya ikan segar, minyak goreng, beras, daging ayam ras, cabai merah, daging sapi, rokok, bahan bakar rumah tangga, bensin, tarif angkutan udara, telepon seluler, uang kuliah, nasi dengan lauk, dan emas perhiasan.
Emas perhiasan menjadi komoditas dengan andil inflasi tahunan terbesar secara nasional, yakni 0,53 persen. Bensin menyumbang 0,31 persen, ikan segar 0,22 persen, tarif angkutan udara 0,15 persen, dan minyak goreng 0,14 persen.
Namun, daftar tersebut tidak dapat langsung dianggap sebagai penyebab utama inflasi di Surabaya. Bahan laporan nasional tidak memerinci komoditas yang secara khusus menjadi pendorong inflasi Kota Pahlawan.
Deflasi Bulanan Tetap Terjadi
Pada saat yang sama, Indonesia mengalami deflasi bulanan 0,14 persen pada Juli 2026. Penurunan harga terutama berasal dari bawang merah, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, tomat, jeruk, ikan segar, tarif angkutan udara, dan emas perhiasan.
Surabaya juga mengikuti pola penurunan bulanan, meski tekanan tahunannya masih tinggi. Deflasi bulanan 0,22 persen menunjukkan harga pada Juli turun dibandingkan Juni 2026.
Perbedaan arah antara inflasi tahunan dan deflasi bulanan ini penting dibaca secara terpisah. Inflasi tahunan membandingkan harga dengan bulan yang sama tahun sebelumnya, sedangkan inflasi bulanan membandingkan harga dengan bulan sebelumnya.
Karena itu, Surabaya bisa mencatat deflasi bulanan sekaligus tetap menjadi daerah dengan inflasi tertinggi secara tahunan di Pulau Jawa.
Secara nasional, inflasi Juli 2026 juga lebih tinggi dibandingkan Juli 2025 yang sebesar 2,37 persen dan Juli 2024 sebesar 2,13 persen. Inflasi tahun kalender hingga Juli 2026 tercatat 1,65 persen.
Pada Juli 2026, Surabaya mencatat inflasi tahunan 3,45 persen dengan IHK 112,43 dan deflasi bulanan 0,22 persen, menjadikannya wilayah dengan inflasi tertinggi di antara 38 kabupaten dan kota IHK Pulau Jawa. (Sol)




