Inflasi Nasional RI Tetap di Angka 2,88 Persen

|

3 Views
Inflasi Nasional RI Tetap di Angka 2,88 Persen

FinanSaya.com – Badan Pusat Statistik mencatat inflasi nasional pada Juli 2026 sebesar 2,88 persen secara tahunan. Namun, secara bulanan, Indonesia justru mengalami deflasi 0,14 persen.

Berdasarkan Berita Resmi Statistik tentang Perkembangan Indeks Harga Konsumen Juli 2026, IHK nasional berada di level 111,73. Sementara itu, inflasi tahun kalender atau year-to-date tercatat 1,65 persen.

Data tersebut menunjukkan arah harga yang berbeda jika dilihat dari dua periode pembanding. Dibandingkan Juni 2026, harga barang dan jasa secara umum menurun. Namun, dibandingkan Juli 2025, tingkat harga yang dibayar masyarakat masih lebih tinggi.

Inflasi tahunan Juli 2026 juga lebih tinggi dibandingkan dua tahun sebelumnya. Pada Juli 2025, inflasi tahunan tercatat 2,37 persen, sedangkan Juli 2024 sebesar 2,13 persen.

Dengan demikian, inflasi tahunan Juli tahun ini naik 0,51 poin persentase dibandingkan tahun lalu dan 0,75 poin persentase dibandingkan dua tahun sebelumnya.

Inflasi Nasional Berbeda Arah secara Bulanan

Perbedaan antara deflasi bulanan dan inflasi tahunan menjadi poin utama dalam data Juli 2026. Inflasi nasional masih positif secara tahunan karena harga saat ini tetap lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Namun, deflasi bulanan menunjukkan adanya penurunan harga dari posisi Juni 2026. Penurunan itu terutama berasal dari sejumlah komoditas pangan dan beberapa komoditas lain yang masuk penghitungan IHK.

Kondisi seperti ini membuat pembacaan inflasi perlu dipisahkan antara month-to-month dan year-on-year. Deflasi bulanan tidak otomatis berarti tekanan harga tahunan hilang.

Pada Juli 2026, tekanan tahunan tetap bertahan karena seluruh kelompok pengeluaran masih mencatat kenaikan indeks dibandingkan Juli tahun lalu.

Perawatan Pribadi Naik Paling Tinggi

Secara tahunan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi sebesar 9,04 persen. Kelompok transportasi menyusul dengan inflasi 5,12 persen.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi tahunan 2,97 persen. Kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran mencatat inflasi 2,55 persen.

Kelompok kesehatan naik 1,96 persen. Perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami inflasi 1,72 persen, sedangkan rekreasi, olahraga, dan budaya naik 1,58 persen.

Dari sisi andil, makanan, minuman, dan tembakau memberi sumbangan terbesar terhadap inflasi nasional tahunan, yakni 0,87 persen.

Kelompok transportasi menyumbang 0,62 persen. Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberi andil 0,61 persen.

Emas Perhiasan Jadi Penyumbang Terbesar

BPS mencatat sejumlah komoditas dominan memberi sumbangan terhadap inflasi tahunan. Emas perhiasan menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,53 persen.

Bensin menyumbang 0,31 persen terhadap inflasi tahunan. Ikan segar memberi andil 0,22 persen, tarif angkutan udara 0,15 persen, dan minyak goreng 0,14 persen.

Komoditas lain yang ikut disebut sebagai penyumbang inflasi tahunan antara lain beras, daging ayam ras, cabai merah, daging sapi, rokok, bahan bakar rumah tangga, telepon seluler, uang kuliah, serta nasi dengan lauk.

Komposisi tersebut menunjukkan tekanan harga tahunan tidak hanya datang dari pangan. Komponen energi, transportasi, pendidikan, komunikasi, dan barang bernilai seperti emas juga ikut memengaruhi IHK.

Baca Juga: BPS Jawa Timur Sebut Inflasi Masih Aman

Harga Pangan Dorong Deflasi Bulanan

Berbeda dengan inflasi tahunan, deflasi bulanan Juli 2026 terutama dipengaruhi penurunan harga sejumlah komoditas.

Bawang merah menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil 0,11 persen. Emas perhiasan menyumbang deflasi 0,08 persen.

Cabai merah dan cabai rawit masing-masing memberi andil deflasi 0,06 persen. Telur ayam ras turut menyumbang deflasi 0,03 persen.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau secara keseluruhan mengalami deflasi bulanan 0,89 persen. Kelompok ini memberi andil deflasi 0,26 persen.

Penurunan harga bawang merah, cabai, telur ayam ras, tomat, jeruk, ikan segar, semangka, dan sawi hijau membantu membawa inflasi nasional bulanan ke wilayah negatif.

Beberapa Komoditas Masih Menahan Deflasi

Meski banyak harga pangan turun, sejumlah komoditas tetap memberi tekanan inflasi bulanan. Beras memberikan andil 0,02 persen.

Bawang putih, ketimun, dan jengkol masing-masing menyumbang inflasi bulanan 0,01 persen.

Di luar pangan, bensin, sepeda motor, pelumas mesin, telepon seluler, serta biaya pendidikan dasar juga tercatat memberi sumbangan inflasi bulanan.

Kondisi ini menahan penurunan harga yang berasal dari kelompok pangan. Karena itu, deflasi bulanan Juli 2026 tidak berarti seluruh harga bergerak turun secara merata.

Sebagian barang dan jasa tetap mengalami kenaikan, tetapi dampaknya kalah besar dibandingkan penurunan pada komoditas yang memberi andil deflasi.

Energi dan Komponen Inti Tetap Naik

Komponen energi masih memberi tekanan terhadap harga. Pada Juli 2026, komponen energi mengalami inflasi tahunan 3,26 persen.

Secara bulanan, komponen energi naik 0,71 persen. Inflasi tahun kalender untuk komponen ini tercatat 3,12 persen.

Energi memberi andil 0,37 persen terhadap inflasi tahunan dan 0,08 persen terhadap inflasi bulanan. Angka ini menunjukkan energi masih menjadi faktor penting dalam pergerakan harga.

BPS juga mencatat inflasi komponen inti sebesar 2,76 persen secara tahunan dan 0,14 persen secara bulanan.

Komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi tahunan 3,58 persen. Sementara itu, komponen harga bergejolak mencatat inflasi tahunan 2,52 persen.

Namun secara bulanan, komponen harga bergejolak mengalami deflasi 1,68 persen. Pergerakan ini sejalan dengan turunnya sejumlah harga pangan pada Juli 2026.

Pada Juli 2026, inflasi nasional tercatat 2,88 persen secara tahunan dengan IHK 111,73, sementara deflasi bulanan sebesar 0,14 persen terutama dipengaruhi turunnya harga pangan bergejolak. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya