FinanSaya.com – BPS Jawa Timur mencatat inflasi year on year Provinsi Jawa Timur pada Mei 2026 sebesar 3,49 persen.
Inflasi tersebut terjadi dengan Indeks Harga Konsumen atau IHK sebesar 111,83. Secara bulanan, inflasi month to month tercatat 0,28 persen, sedangkan inflasi year to date berada di level 1,43 persen.
Meski inflasi tahunan naik, tekanan harga dinilai masih relatif aman dan belum membuat daya beli masyarakat terbebani secara berat.
Inflasi Tahunan Naik, YTD Masih Rendah
Dalam Berita Resmi Statistik BPS Jawa Timur, inflasi Mei 2026 disebut bergerak lebih tinggi secara tahunan.
Plt Kepala BPS Jawa Timur Herum Fajarwati mengatakan pemerintah sebelumnya menetapkan sasaran inflasi sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen. Target itu disusun berdasarkan asumsi perkembangan ekonomi tahun sebelumnya.
Namun, perkembangan global membuat tekanan harga ikut berubah. Herum menyebut konflik global dan perang menjadi salah satu faktor yang berdampak pada ekonomi nasional maupun regional.
“Target tersebut ditetapkan tahun lalu, yang mana asumsi-asumsi tentu berdasarkan perkembangan tahun lalu. Nah, dengan adanya perkembangan global, adanya perang juga, tentu ini di luar prediksi. Perkembangan global sangat berdampak terhadap perkembangan secara nasional maupun regional,” kata Herum.
Menurut Herum, inflasi tahunan memang sudah agak tinggi. Namun secara tahun kalender, posisinya masih rendah karena berada di bawah 2 persen.
“Kalau kita lihat secara yoy, kita memang sudah agak tinggi. Tetapi kalau year to date itu masih rendah, masih di bawah angka 2. Kita berharap pemerintah dan kondisi global juga makin membaik, sehingga inflasi bisa terkendali dan tetap kondusif untuk bulan-bulan yang akan datang,” ujarnya.
Daya Beli Dinilai Belum Tertekan Berat
Herum menilai inflasi Jawa Timur masih berada dalam kondisi aman.
“Masih aman. Angka itu masih relatif aman, artinya belum membuat tekanan daya beli masyarakat menjadi lebih berat,” jelasnya.
Dalam laporan BPS Jawa Timur, inflasi yoy Mei 2026 terjadi karena kenaikan indeks pada seluruh kelompok pengeluaran.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi 5,67 persen. Kelompok ini menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan Jawa Timur dengan andil 1,57 persen.
Komoditas pangan yang paling mendorong inflasi antara lain cabai rawit dengan andil 0,25 persen, beras 0,21 persen, daging ayam ras 0,20 persen, minyak goreng 0,14 persen, serta daging sapi, cabai merah, dan Sigaret Kretek Mesin masing-masing 0,08 persen.

Transportasi dan Emas Ikut Menekan
Kelompok transportasi juga ikut mendorong inflasi Jawa Timur.
Kelompok ini mengalami inflasi yoy 3,30 persen dengan andil 0,41 persen. Komoditas dominan dari kelompok transportasi adalah angkutan udara dengan andil 0,27 persen, mobil 0,06 persen, sepeda motor 0,03 persen, dan bensin 0,01 persen.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi secara persentase, yakni 10,65 persen. Kelompok ini memberi andil 0,75 persen terhadap inflasi yoy Jawa Timur.
Komoditas paling dominan dari kelompok tersebut adalah emas perhiasan dengan andil inflasi 0,64 persen.
Secara bulanan, BPS Jawa Timur mencatat inflasi Mei 2026 sebesar 0,28 persen dipengaruhi kenaikan sejumlah komoditas.
Komoditas pendorong inflasi mtm antara lain angkutan udara, minyak goreng, bawang merah, cabai rawit, cabai merah, beras, laptop/notebook, bahan bakar rumah tangga, air kemasan, sawi hijau, telepon seluler, bensin, dan tahu mentah.
Baca Juga: Lansia Jawa Timur Masih Bekerja, Upahnya Rendah
BPS Jawa Timur: Ada Komoditas Penahan Inflasi
Tidak semua komoditas bergerak naik.
Sejumlah barang justru menahan laju inflasi bulanan. Komoditas yang memberikan andil deflasi mtm antara lain emas perhiasan, telur ayam ras, daging ayam ras, bawang putih, ikan mujair, dan jeruk.
Data BPS Jawa Timur juga menunjukkan inflasi Mei 2026 lebih tinggi dibandingkan Mei 2025.
Pada Mei 2025, inflasi yoy Jawa Timur sebesar 1,22 persen dan inflasi ytd 0,89 persen. Sementara pada Mei 2024, inflasi yoy tercatat 2,83 persen dan inflasi ytd 1,18 persen.
Sumenep Tertinggi, Tulungagung Terendah
Dari sisi wilayah, BPS Jawa Timur mencatat seluruh kota IHK di Jawa Timur mengalami inflasi yoy pada Mei 2026.
Inflasi tertinggi terjadi di Sumenep sebesar 5,12 persen dengan IHK 116,18. Inflasi terendah terjadi di Kabupaten Tulungagung sebesar 2,84 persen dengan IHK 112,29.
Kota Surabaya mencatat inflasi yoy 3,77 persen dengan IHK 112,16. Secara bulanan, inflasi Kota Surabaya sebesar 0,37 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi mtm Jawa Timur yang sebesar 0,28 persen.
Menurut data BPS Jawa Timur, tekanan harga di Surabaya berada di atas rata-rata provinsi untuk pergerakan bulanan.
Herum berharap inflasi pada bulan-bulan mendatang tetap terkendali. Perbaikan kondisi global dan pengendalian harga di dalam negeri menjadi faktor yang dipantau.
“ Kita berharap pemerintah dan kondisi global juga makin membaik, sehingga terhadap inflasi bisa terkendali, dan tetap kondusif untuk bulan-bulan yang akan datang,” pungkas Herum. (Sol)




