FinanSaya.com – Industri manufaktur menjadi salah satu penopang utama ekonomi Jawa Tengah. Sektor ini berkontribusi 33,18 persen terhadap perekonomian provinsi tersebut.
Peran industri manufaktur juga terlihat dari kuatnya investasi fisik. Kontribusi Pembentukan Modal Tetap Bruto atau PMTB di Jawa Tengah mencapai 31,52 persen, lebih tinggi dari nasional yang sebesar 29,36 persen.
Kondisi tersebut membuat penguatan investasi dan sektor pengolahan menjadi salah satu fokus dalam Central Java Investment Business Forum atau CJIBF 2026 di Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan Jawa Tengah masih memiliki peluang investasi besar, terutama melalui sektor industri dan kawasan ekonomi.
Industri Manufaktur Jadi Kontributor Utama
Susiwijono menilai forum investasi Jawa Tengah tepat untuk kembali mendorong isu investasi dan pengembangan industri manufaktur.
“Karena itu, forum ini sangat tepat untuk mendorong kembali masalah investasi dan industri manufaktur. Nah, yang lainnya sebenarnya kalau kita lihat beberapa komposisi dari pengembangan di Jawa Tengah ini, potensi investasi masih akan sangat besar,” ujar Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso dalam acara Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2026, di Jakarta, Kamis (27/8).
Pada semester I-2026, ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,80 persen secara cumulative to cumulative. Sektor pengolahan menjadi kontributor terbesar dalam pertumbuhan tersebut.
Kinerja ini sejalan dengan ekonomi nasional yang tumbuh 5,45 persen secara c-to-c pada semester I-2026. Pemerintah melihat capaian tersebut sebagai modal untuk mengejar sasaran pertumbuhan yang lebih tinggi pada 2027.
Indikator Ekonomi Masih Solid
Sejumlah indikator makro menunjukkan ekonomi Indonesia masih resilien. Indeks Keyakinan Konsumen pada Juli 2026 tercatat 116,8.
Sementara itu, PMI Manufaktur berada di level 50,2 pada Juli 2026. Angka tersebut menunjukkan optimisme bisnis tertinggi dalam enam bulan terakhir.
PMI di atas 50 mengindikasikan aktivitas industri manufaktur masih berada di zona ekspansi. Dalam konteks Jawa Tengah, sinyal ini penting karena porsi industri manufaktur terhadap ekonomi daerah cukup besar.
Dengan kontribusi 33,18 persen, pelemahan atau penguatan manufaktur dapat memberi dampak signifikan terhadap perekonomian provinsi.
Investasi Jateng Capai Rp48,54 Triliun
Realisasi investasi Jawa Tengah pada semester I-2026 mencapai Rp48,54 triliun.
Angka tersebut setara 48,99 persen dari target investasi 2026 yang sebesar Rp99,09 triliun.
Dari total realisasi itu, penanaman modal asing atau PMA mencapai Rp25,92 triliun. Porsi PMA setara 53,40 persen.
Sementara penanaman modal dalam negeri atau PMDN mencapai Rp22,62 triliun, dengan porsi 46,60 persen.
Komposisi tersebut menunjukkan investasi di Jawa Tengah masih ditopang kombinasi modal asing dan domestik.
Lima Lokasi Investasi Terbesar
Berdasarkan lokasi, realisasi investasi terbesar di Jawa Tengah tersebar di lima daerah.
Kota Semarang menempati posisi pertama dengan realisasi Rp6,57 triliun. Kabupaten Kendal berada sangat dekat di posisi berikutnya dengan Rp6,56 triliun.
Kabupaten Batang mencatat realisasi Rp6,11 triliun. Selanjutnya, Kabupaten Temanggung membukukan Rp4,58 triliun dan Kabupaten Demak Rp3,34 triliun.
Sebaran ini memperlihatkan aktivitas investasi tidak hanya terkonsentrasi di ibu kota provinsi. Kawasan industri manufaktur dan daerah penyangga juga menjadi magnet bagi penanaman modal.
Baca Juga: Kawasan Industri Jadi Motor Ekonomi Nasional, Kata Airlangga
KEK Kendal dan Batang Diminati
Menurut Susiwijono, minat investor terhadap dua kawasan utama di Jawa Tengah sudah tinggi.
Dua kawasan itu adalah Kawasan Ekonomi Khusus Kendal dan Kawasan Industri Terpadu Batang.
“Itu potensi investor yang masih akan datang (ke dalam dua KEK) itu luar biasa. Lahannya sudah 100%, jadi sudah utilized semuanya. Kami mengajukan perluasan dan pengembangan, dan masih perlu proses, tapi investornya sudah mengantri. Artinya sebenarnya potensi investasi Jawa Tengah itu besar sekali. Di Jawa Tengah ada dua KEK, dan keduanya betul-betul pertumbuhannya luar biasa, terutama dari sisi industri manufaktur,” jelas Sesmenko Susiwijono.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tantangan berikutnya bukan hanya menarik minat investor. Pemerintah juga perlu menyiapkan ruang, infrastruktur, dan proses perizinan agar investasi dapat masuk dan berjalan.
Perizinan Dasar Jadi Kunci
Susiwijono mengatakan hal yang paling dibutuhkan investor adalah kepastian perizinan, terutama perizinan dasar.
Kepastian ini menjadi perhatian penting bagi pemerintah daerah karena mereka berhubungan langsung dengan investor di lapangan.
Menurutnya, tantangan investasi tidak selalu berhenti pada perizinan awal. Saat operasional berjalan, investor masih bisa menghadapi berbagai kendala yang membutuhkan ruang konsultasi dan penyelesaian.
“Problem (investor) itu tidak se-ideal itu (bukan hanya masalah perizinan saja), sehingga kita desain kebijakannya di awal dulu. Di dalam operasionalnya, itu selalu banyak tantangan dan kendala di sana, dan mereka harus ada tempat mengadunya kemana. Nah, karena itu saya buka kesempatan kalau teman-teman dari Jawa Tengah ingin berkonsultasi juga. Jadi, intinya sebenarnya ada satu titik yang kalau ada masalah bisa dikunjungi mereka (pemerintah daerah), dan itu harus dilakukan pemerintah pusat, karena regulatornya, otoritasnya, kewenangan pembuatan kebijakan program, bahkan menetapkan apapun ada di kami,” pungkas Sesmenko Susiwijono.
Peluang Investasi Masih Besar
Pemerintah menilai potensi investasi Jawa Tengah masih besar, terutama setelah sejumlah perjanjian dagang dengan negara lain mulai berjalan tahun depan.
Kondisi tersebut diperkirakan dapat mendorong lebih banyak investor masuk ke Indonesia, termasuk ke Jawa Tengah.
Karena itu, kesiapan daerah menjadi penting. Pemerintah daerah perlu memastikan proses layanan investasi, perizinan, dan penyelesaian hambatan berjalan lebih jelas.
Dalam acara CJIBF 2026, turut hadir Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Kepala DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah Sakina Rosellasari, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah Mohamad Noor Nugroho, dan Ketua Umum APINDO Shinta W. Kamdani.
Hingga semester I-2026, industri manufaktur menyumbang 33,18 persen ekonomi Jawa Tengah, sementara realisasi investasi provinsi tersebut mencapai Rp48,54 triliun dari target 2026 sebesar Rp99,09 triliun. (Sol)




