FinanSaya.com – Defisit APBN 2026 mencapai Rp180,4 triliun hingga Mei 2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan realisasi tersebut setara 0,70 persen terhadap Produk Domestik Bruto atau PDB.
Dalam APBN negara, defisit berarti realisasi belanja pemerintah lebih besar dibandingkan pendapatan negara pada periode tertentu. Selisih tersebut kemudian perlu ditutup melalui pembiayaan anggaran.
“Lima bulan pertama tahun ini defisitnya 0,70 persen terhadap PDB,” kata Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KiTa di Kantor Kementrian Keuangan, Jumat, 5 Juni 2026 siang.
Purbaya mengklaim kinerja APBN hingga Mei 2026 terus menunjukkan tren positif. Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan fiskal negara yang masih aman.
Adapun keseimbangan primer mencatatkan surplus sebesar Rp58,6 triliun. Purbaya menyebut posisi itu sudah kembali positif dan membuat anggaran lebih berkesinambungan dibandingkan bulan sebelumnya.
Defisit APBN 2026 dan Realisasi Pendapatan Negara
Dari sisi penerimaan, Purbaya mengatakan pendapatan negara hingga akhir Mei 2026 mencapai Rp1.185 triliun. Nilai tersebut setara 37,6 persen terhadap pagu APBN 2026.
Pendapatan negara juga tumbuh 19,1 persen secara tahunan atau year on year. Purbaya menyebut komponen pajak menjadi salah satu bagian yang paling menonjol dalam kinerja pendapatan negara.
Penerimaan pajak tercatat sebesar Rp834,4 triliun atau 35,4 persen terhadap target APBN 2026. Sementara itu, penerimaan bea cukai mencapai Rp123,8 triliun atau 36,8 persen dari target APBN.
Penerimaan Negara Bukan Pajak atau PNBP tercatat sebesar Rp226,4 triliun. Dalam paparan yang sama, Purbaya mengatakan PNBP tumbuh 19,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Pendapatan tumbuh 19,1 persen yang paling menarik pendapatan pajak naiknya 22,1 persen, bea cukai naik 0,7 persen sudah positif dua bulan berturut-turut, PNBP naiknya 19,9 persen,” jelasnya.
Menurut Purbaya, kinerja penerimaan negara menunjukkan perbaikan signifikan. Hingga Mei 2026, penerimaan pajak tumbuh positif setelah pada periode yang sama tahun lalu mengalami kontraksi 11,3 persen.
“Jadi ada perbaikan yang signifikan di pajak dibandingkan dengan kondisi tahun lalu. Tahun lalu full year pertumbuhan pajaknya negatif, sekarang positif mungkin nanti akan 20 persen atau lebih seiring dengan perbaikan di perpajakan,” jelas dia.
Dengan penerimaan negara yang tumbuh 19,1 persen, defisit APBN 2026 tercatat di tengah kenaikan pendapatan pajak, bea cukai, dan PNBP.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Pasang Badan Bela APBN di Tengah Tekanan Rupiah
Belanja Negara Tumbuh 34,4 Persen
Di sisi belanja, realisasi belanja negara hingga Mei 2026 mencapai Rp1.365,4 triliun. Angka tersebut setara 35,5 persen dari pagu APBN 2026.
Belanja negara tumbuh 34,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Belanja tersebut terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp1.059,3 triliun atau 33,6 persen dari target APBN.
Masih dalam konteks defisit APBN 2026, transfer ke daerah tercatat sebesar Rp306,1 triliun atau 44,2 persen dari target APBN. Purbaya mengatakan pemerintah terus mendorong belanja agar berjalan cepat sesuai target.
“Belanja terus didorong dengan cepat sesuai dengan target,” pungkas Purbaya.
Berdasarkan paparan tersebut, defisit APBN 2026 terjadi saat belanja negara tumbuh lebih tinggi dibandingkan pendapatan negara. Pendapatan negara tumbuh 19,1 persen, sedangkan belanja negara tumbuh 34,4 persen secara tahunan.
Selisih antara realisasi pendapatan negara Rp1.185 triliun dan belanja negara Rp1.365,4 triliun menghasilkan defisit Rp180,4 triliun hingga akhir Mei 2026.
“Yang penting lagi di sini surplus keseimbangan primernya sekarang Rp58,6 triliun, sudah positif lagi. Artinya anggaran kita sekarang lebih berkesinambungan dibandingkan bulan sebelumnya,” ungkapnya.
Rasio defisit terhadap PDB berada di level 0,70 persen. Sementara itu, realisasi pendapatan negara berada pada 37,6 persen dari pagu dan realisasi belanja negara berada pada 35,5 persen dari pagu APBN 2026.
Purbaya tetap menyebut kinerja APBN hingga Mei 2026 berada dalam tren positif. Melihat defisit APBN 2026 dari sisi struktur, data yang dipaparkan menunjukkan pendapatan dan belanja sama-sama tumbuh, tetapi laju pertumbuhan belanja lebih tinggi dibandingkan pendapatan. Kondisi itu menjadi penyebab munculnya defisit pada lima bulan pertama tahun ini.
Purbaya tetap menyebut kinerja APBN hingga Mei 2026 berada dalam tren positif. Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan penerimaan yang membaik, keseimbangan primer yang masih surplus, dan realisasi belanja yang terus didorong sesuai target.
Defisit APBN 2026 hingga Mei dicatat sebesar Rp180,4 triliun atau 0,70 persen terhadap PDB. (Sol)




