Daging Ayam Jadi Motor Inflasi Jawa Timur

|

3 Views
Daging Ayam Jadi Motor Inflasi Jawa Timur

FinanSaya.com – Harga daging ayam menjadi salah satu pemicu utama inflasi Jawa Timur pada Agustus 2026. Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur mencatat komoditas daging ayam ras memberi andil inflasi bulanan terbesar dibandingkan komoditas lain.

Berdasarkan Berita Resmi Statistik BPS Jawa Timur yang dirilis 1 September 2026, inflasi month to month Jawa Timur pada Agustus 2026 tercatat 0,34 persen.

Secara tahunan, inflasi Jawa Timur mencapai 3,32 persen. Sementara inflasi sepanjang Januari–Agustus 2026 atau year to date berada di level 1,82 persen.

Tekanan harga pada bulan tersebut terutama datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Daging Ayam Jadi Pendorong Utama

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi bulanan 1,36 persen pada Agustus 2026.

Kelompok ini memberikan andil 0,39 persen terhadap inflasi Jawa Timur. Dari kelompok tersebut, daging ayam ras menjadi komoditas paling dominan.

BPS mencatat daging ayam ras menyumbang inflasi 0,28 persen pada Agustus 2026.

Angka tersebut cukup besar jika dibandingkan dengan inflasi bulanan Jawa Timur yang sebesar 0,34 persen. Artinya, pergerakan harga ayam ras memiliki pengaruh kuat terhadap tekanan harga pada bulan tersebut.

Cabai Rawit dan Beras Ikut Menekan

Selain daging ayam ras, beberapa bahan pangan lain juga ikut mendorong inflasi bulanan.

Cabai rawit memberikan andil inflasi 0,04 persen. Beras, udang basah, dan daging sapi masing-masing menyumbang 0,02 persen.

Sementara kacang panjang, ketimun, dan cumi-cumi masing-masing memberikan andil 0,01 persen terhadap inflasi bulanan Jawa Timur.

Rangkaian data ini menunjukkan tekanan pangan pada Agustus tidak hanya berasal dari satu komoditas. Namun, kontribusi terbesar tetap berasal dari harga ayam ras.

Dengan andil 0,28 persen, daging ayam menjadi faktor yang paling menonjol dalam pembentukan inflasi bulanan.

Bawang Merah Menahan Inflasi

Kenaikan sejumlah harga pangan tidak sepenuhnya mendorong inflasi lebih tinggi. Beberapa komoditas justru mengalami penurunan harga dan memberi andil deflasi.

Pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, bawang merah tercatat memberikan andil deflasi 0,06 persen.

Tomat dan bawang putih masing-masing menyumbang deflasi 0,03 persen.

Penurunan harga pada komoditas tersebut membantu menahan tekanan dari daging ayam ras, cabai rawit, beras, dan bahan pangan lainnya.

Tanpa penurunan harga beberapa komoditas tersebut, tekanan inflasi bulanan Jawa Timur berpotensi lebih besar.

Transportasi Justru Deflasi

Di luar kelompok pangan, tekanan inflasi Jawa Timur juga tertahan oleh kelompok transportasi.

Kelompok transportasi mengalami deflasi bulanan 1,37 persen pada Agustus 2026. Kelompok ini memberikan andil deflasi 0,18 persen terhadap inflasi Jawa Timur.

Baca Juga: Digitalisasi Parkir Surabaya Dijamin Transparan, Kata Dishub

Penurunan terbesar berasal dari angkutan udara yang menyumbang deflasi 0,17 persen.

Sementara bensin memberikan andil deflasi sekitar 0,02 persen secara bulanan.

Deflasi transportasi membantu meredam kenaikan harga dari kelompok makanan. Karena itu, inflasi bulanan Jawa Timur tertahan di level 0,34 persen meski tekanan pangan cukup kuat.

Transportasi Masih Mahal secara Tahunan

Meski turun secara bulanan, kelompok transportasi masih tercatat lebih mahal dibandingkan Agustus tahun lalu.

BPS Jawa Timur mencatat kelompok transportasi mengalami inflasi tahunan 4,65 persen pada Agustus 2026.

Kondisi serupa juga terlihat pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok ini mengalami inflasi tahunan 4,36 persen dan memberikan andil 1,20 persen terhadap inflasi tahunan Jawa Timur.

Dengan data tersebut, tekanan harga pangan tetap menjadi salah satu faktor penting dalam inflasi tahunan provinsi.

Andil Tahunan Ayam Ras Tetap Besar

Dalam perhitungan tahunan, daging ayam ras kembali masuk daftar penyumbang utama inflasi.

BPS mencatat daging ayam ras memberikan andil 0,29 persen terhadap inflasi tahunan Jawa Timur pada Agustus 2026.

Selain itu, daging sapi, cabai rawit, dan minyak goreng masing-masing menyumbang 0,13 persen. Beras memberikan andil 0,11 persen.

Data ini menunjukkan harga bahan pangan masih memberi tekanan baik dalam jangka bulanan maupun tahunan.

Daging ayam ras menonjol karena menjadi pendorong terbesar secara bulanan dan tetap berperan besar dalam inflasi tahunan.

Inflasi Jatim Lebih Tinggi dari Dua Tahun Lalu

Secara keseluruhan, inflasi tahunan Jawa Timur pada Agustus 2026 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama dalam dua tahun sebelumnya.

Inflasi year on year pada Agustus 2026 tercatat 3,32 persen. Angka ini naik dari 2,17 persen pada Agustus 2025 dan 2,05 persen pada Agustus 2024.

Kenaikan tersebut menunjukkan tekanan harga pada 2026 lebih kuat dibandingkan dua tahun sebelumnya.

Berdasarkan data BPS Jawa Timur, inflasi bulanan Agustus 2026 sebesar 0,34 persen terutama didorong kelompok makanan, minuman, dan tembakau, dengan daging ayam ras menyumbang andil terbesar sebesar 0,28 persen. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya