Bank Sentral Dunia Borong Emas, Dolar Mulai Ditinggal?

|

9 Views
Bank Sentral Dunia Borong Emas, Dolar Mulai Ditinggal?

FinanSaya.com – Bank sentral dunia makin agresif menempatkan emas sebagai aset strategis dalam cadangan devisa. Survei terbaru World Gold Council menunjukkan 45 persen bank sentral berencana menambah cadangan emas institusinya dalam 12 bulan ke depan.

Angka tersebut menjadi level tertinggi sejak survei tahunan WGC digelar. Selain itu, 89 persen responden memperkirakan cadangan emas bank sentral dunia akan terus meningkat dalam periode yang sama.

Survei Central Bank Gold Reserves Survey 2026 dilakukan WGC bersama YouGov pada 5 Februari hingga 19 Mei 2026. Survei tersebut memperoleh 76 respons dari bank sentral di berbagai negara, jumlah tertinggi sejak survei dimulai sembilan tahun lalu.

Untuk pertanyaan soal ekspektasi cadangan emas dalam 12 bulan mendatang, basis yang digunakan adalah 74 bank sentral. Dari basis tersebut, 45 persen memperkirakan cadangan emas institusinya meningkat, sedangkan sebagian besar responden lain memperkirakan porsi emas bank sentral global tetap naik.

Minat besar bank sentral dunia terhadap emas tidak hanya dipicu oleh pergerakan harga jangka pendek. WGC mencatat alasan utama bank sentral memegang emas adalah kinerja emas saat krisis, fungsi sebagai penyimpan nilai jangka panjang, diversifikasi portofolio, serta lindung nilai terhadap inflasi dan risiko geopolitik.

Dalam survei tersebut, 90 persen responden menyebut kinerja emas saat krisis sebagai faktor penting. Fungsi emas sebagai penyimpan nilai jangka panjang disebut oleh 84 persen responden, sedangkan diversifikasi portofolio disebut oleh 82 persen responden.

Bank Sentral Dunia Kurangi Ketergantungan Dolar AS

Perubahan strategi cadangan devisa juga terlihat dari pandangan terhadap dolar Amerika Serikat. WGC mencatat 74 persen responden memperkirakan porsi dolar AS dalam cadangan global akan lebih rendah dalam lima tahun ke depan.

Sebaliknya, emas diperkirakan mengambil peran lebih besar dalam komposisi cadangan devisa. Kondisi ini menunjukkan emas tidak lagi hanya dipandang sebagai aset tradisional, tetapi juga instrumen strategis untuk mengurangi ketergantungan pada satu mata uang cadangan utama.

Bagi bank sentral dunia, tren tersebut sejalan dengan aktivitas pembelian emas sepanjang awal 2026. Dalam laporan Gold Demand Trends Q1 2026, WGC mencatat bank sentral dan institusi resmi membeli emas secara bersih sebanyak 243,7 ton pada kuartal I 2026.

Jumlah pembelian itu naik 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan naik 17 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Pembelian terbesar dipimpin National Bank of Poland dengan tambahan 31 ton emas.

Central Bank of Uzbekistan menambah 25 ton, disusul National Bank of Kazakhstan sebesar 12 ton. People’s Bank of China juga menambah 7 ton emas pada kuartal tersebut, sehingga total cadangan emas China mencapai 2.313 ton atau sekitar 9 persen dari total cadangan.

Baca Juga: Harga Emas Naik Sedikit di Akhir Pekan

Bank Indonesia Ikut Tambah Emas

Bank sentral dunia lain juga tercatat menambah emas, termasuk Czech National Bank, Bank Negara Malaysia, Bank of Guatemala, National Bank of Cambodia, Bank Indonesia, National Bank of Serbia, dan Central Bank of the UAE.

Dalam laporan WGC, Bank Indonesia tercatat menambah sekitar 2 ton emas pada kuartal I 2026. Tambahan ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu bank sentral yang ikut memperbesar posisi emas di tengah tren diversifikasi cadangan global.

Meski pembelian masih kuat, WGC juga mencatat adanya peningkatan penjualan dari beberapa bank sentral pada kuartal I 2026. Penjualan terbesar antara lain berasal dari Turki, Rusia, dan State Oil Fund of Azerbaijan.

Namun, tekanan jual tersebut masih diimbangi pembelian kuat dari bank sentral lain, sehingga secara bersih sektor resmi tetap menjadi pembeli emas. Memasuki April 2026, bank sentral kembali mencatat pembelian bersih emas sebesar 19 ton setelah sebelumnya terjadi penjualan bersih besar pada Maret.

Polandia kembali menjadi pembeli utama dengan tambahan 14 ton emas pada April. China juga menambah 8 ton emas, pembelian bulanan tertingginya sejak Desember 2024, sekaligus memperpanjang tren pembelian emas China menjadi 18 bulan berturut-turut.

Bank sentral dunia juga mulai mengubah cara menyimpan cadangan emas. WGC mencatat 9 persen responden meningkatkan penyimpanan emas di dalam negeri dalam 12 bulan terakhir, naik dari 5 persen pada survei tahun sebelumnya.

Sementara itu, 10 persen responden menyatakan telah mendiversifikasi lokasi penyimpanan emas di luar negeri, naik dari 2 persen pada tahun sebelumnya. Bank of England masih menjadi lokasi penyimpanan emas paling populer dengan porsi 57 persen responden, sedangkan penyimpanan domestik berada di posisi kedua dengan 49 persen.

Dengan kondisi tersebut, bank sentral dunia diperkirakan masih menjadikan emas sebagai aset strategis cadangan devisa. Ketidakpastian geopolitik, risiko inflasi, kebutuhan diversifikasi, dan ekspektasi penurunan porsi dolar AS menjadi faktor utama yang menjaga minat terhadap emas. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya