Apa Itu Deglobalisasi dalam Ekonomi Modern?

|

6 Views
Apa Itu Deglobalisasi dalam Ekonomi Modern?

FinanSaya.com – Deglobalisasi dalam ekonomi modern adalah kecenderungan ketika negara, perusahaan, atau kawasan ekonomi mulai mengurangi ketergantungan berlebihan terhadap perdagangan, investasi, teknologi, dan rantai pasok global.

Bukan berarti dunia langsung berhenti berdagang. Namun, arah kebijakannya mulai berubah: dari sekadar mengejar efisiensi termurah menjadi mencari ketahanan, keamanan pasokan, dan kendali yang lebih besar atas sektor strategis.

Selama beberapa dekade, globalisasi membuat barang, modal, teknologi, dan jasa bergerak lintas negara dengan lebih cepat. Banyak produk tidak lagi dibuat di satu negara dari awal sampai akhir. Komponen bisa dibuat di Asia, desain dari Amerika, bahan baku dari Afrika, perakitan di negara lain, lalu dijual ke seluruh dunia.

Model ini membuat biaya produksi lebih murah dan pilihan barang lebih banyak. Namun, pandemi, perang dagang, konflik geopolitik, gangguan pelayaran, krisis energi, dan persaingan teknologi membuat banyak negara sadar bahwa ketergantungan global juga punya risiko.

Karena itu, deglobalisasi dalam ekonomi modern mulai dibahas bukan karena perdagangan global hilang, tetapi karena banyak negara ingin lebih hati-hati dalam menentukan siapa pemasoknya, di mana pabriknya, dan sektor mana yang tidak boleh terlalu bergantung pada pihak luar.

Deglobalisasi bentuknya bisa macam-macam, seperti:

– Negara bisa menaikkan tarif impor.
– Perusahaan bisa memindahkan pabrik lebih dekat ke pasar utama.
– Pemerintah bisa membatasi ekspor teknologi tertentu.
– Negara bisa mendorong produksi lokal untuk barang strategis.
– Investor bisa mengurangi eksposur ke negara yang dianggap berisiko.
– Rantai pasok bisa dialihkan ke negara yang dianggap lebih dekat secara politik.

Dalam bahasa yang lebih teknis, IMF sering memakai istilah geoeconomic fragmentation. IMF menjelaskan bahwa setelah beberapa dekade integrasi ekonomi global meningkat, dunia menghadapi risiko fragmentasi ekonomi yang didorong kebijakan. Fragmentasi ini dapat memengaruhi perdagangan, migrasi, arus modal, penyebaran teknologi, dan kerja sama global.

Jadi, deglobalisasi dalam ekonomi modern bukan sekadar “anti-globalisasi”. Ia lebih tepat dipahami sebagai perubahan arah: negara dan perusahaan mulai menghitung ulang risiko globalisasi.

Bedanya Globalisasi dan Deglobalisasi

Globalisasi adalah proses ketika ekonomi dunia makin terhubung. Barang, jasa, modal, tenaga kerja, teknologi, dan informasi bergerak lintas batas negara. Perusahaan mencari lokasi produksi paling efisien, negara membuka pasar, dan konsumen menikmati pilihan barang yang lebih luas.

Deglobalisasi bergerak sebaliknya. Negara tidak selalu menutup diri sepenuhnya, tetapi mulai mengurangi keterbukaan di sektor tertentu. Misalnya, bahan pangan, energi, chip semikonduktor, obat-obatan, pertahanan, data digital, dan teknologi strategis.

WTO dalam World Trade Report 2023 membahas risiko fragmentasi sistem perdagangan multilateral, tetapi juga menekankan gagasan “re-globalization”, yaitu memperluas integrasi perdagangan secara lebih inklusif untuk menjawab tantangan global.

Ini berarti dunia belum tentu kembali ke ekonomi tertutup. Yang lebih mungkin terjadi adalah globalisasi berubah bentuk. Perdagangan tetap ada, tetapi lebih selektif, lebih politis, dan lebih memperhatikan keamanan pasokan.

Kenapa Deglobalisasi dalam Ekonomi Modern Mulai Banyak Dibahas?

Ada beberapa alasan besar kenapa mulai banyak pembahasan deglobalisasi dalam ekonomi modern.

1. Pandemi Membuka Kelemahan Rantai Pasok Global

Pandemi membuat banyak negara sadar bahwa barang penting bisa langka ketika rantai pasok terganggu. Masker, alat kesehatan, obat, bahan pangan, dan komponen industri pernah menjadi rebutan.

Sebelum pandemi, banyak perusahaan memilih pemasok termurah dan paling efisien. Setelah pandemi, pertanyaannya berubah: bagaimana jika pemasok itu berhenti mengirim? Bagaimana jika pelabuhan tutup? Bagaimana jika negara produsen melarang ekspor?

Dari sinilah muncul dorongan deglobalisasi dalam ekonomi modern, agar memiliki pemasok alternatif, stok cadangan, dan produksi lokal untuk barang penting.

2. Ketegangan Geopolitik Membuat Perdagangan Tidak Lagi Netral

Dulu, perdagangan sering dianggap urusan ekonomi. Sekarang, perdagangan makin sering terkait politik dan keamanan.

Ketegangan Amerika Serikat dan China, perang Rusia-Ukraina, pembatasan teknologi, sanksi ekonomi, dan perebutan bahan baku strategis membuat negara tidak lagi melihat impor hanya dari sisi harga. Mereka juga melihat risiko politik.

BIS mencatat bahwa globalisasi terancam ketika negara memberlakukan pembatasan perdagangan, terutama terhadap mitra dagang yang memiliki perbedaan geopolitik besar. Kajian BIS juga menemukan bahwa jarak geopolitik membantu menjelaskan dinamika perdagangan terbaru.

Artinya, dalam ekonomi modern, pilihan berdagang tidak selalu murni karena siapa yang paling murah. Faktor politik ikut menentukan.

3. Negara Ingin Mengamankan Sektor Strategis

Dalam konteks deglobalisasi dalam ekonomi modern, tidak semua barang diperlakukan sama. Negara mungkin tetap bebas mengimpor barang konsumsi biasa, tetapi lebih hati-hati untuk sektor strategis.

Contohnya:

pangan,
energi,
obat dan alat kesehatan,
semikonduktor,
teknologi pertahanan,
data dan infrastruktur digital,
baterai dan mineral kritis.

Jika sektor ini terlalu bergantung pada negara lain, risiko nasional bisa meningkat. Karena itu, banyak negara mulai mendorong produksi dalam negeri, subsidi industri, pembatasan ekspor, atau kerja sama dengan negara yang dianggap lebih aman.

4. Rantai Pasok Terlalu Panjang Dianggap Berisiko

Globalisasi membuat rantai pasok sangat panjang. Satu produk bisa melewati banyak negara sebelum sampai ke konsumen.

Model ini efisien saat dunia stabil. Namun, ketika ada perang, pandemi, krisis logistik, atau gangguan pelayaran, rantai panjang bisa menjadi masalah.

World Bank menjelaskan bahwa global value chains membuat produksi terhubung lintas negara. Keterhubungan ini memungkinkan skala produksi besar, tetapi juga membuat industri lebih rentan terhadap guncangan dari ekonomi global.

Karena itu, banyak perusahaan mulai mempertimbangkan strategi seperti nearshoring, friend-shoring, atau diversifikasi pemasok.

Nearshoring berarti memindahkan produksi lebih dekat ke pasar utama. Friend-shoring berarti memindahkan rantai pasok ke negara yang dianggap sekutu atau punya hubungan politik lebih aman. Diversifikasi pemasok berarti tidak bergantung pada satu negara atau satu pabrik saja.

Baca Juga: Sejarah Pajak di Dunia Berawal dari Hasil Panen

Deglobalisasi Tidak Sama dengan Menutup Diri Total

Salah satu kesalahpahaman umum adalah menganggap deglobalisasi dalam ekonomi modern berarti setiap negara akan memproduksi semua barang sendiri. Itu tidak realistis.

Tidak ada negara modern yang benar-benar bisa hidup sendiri tanpa perdagangan. Banyak negara tetap membutuhkan bahan baku, teknologi, mesin, energi, pangan tertentu, dan pasar ekspor.

Deglobalisasi dalam ekonomi modern lebih sering berarti mengurangi ketergantungan yang dianggap terlalu berisiko, bukan menghapus perdagangan sepenuhnya.

Misalnya, sebuah negara tetap impor gandum, tetapi mencari lebih banyak negara pemasok. Negara tetap membeli chip, tetapi membangun kapasitas produksi lokal untuk kebutuhan penting. Perusahaan tetap punya pabrik global, tetapi tidak hanya mengandalkan satu negara.

Jadi, deglobalisasi dalam ekonomi modern arahnya bukan selalu “tidak impor sama sekali”, melainkan “jangan bergantung pada satu jalur yang rapuh”.

Dampak Deglobalisasi bagi Negara

Deglobalisasi dalam ekonomi modern bisa membawa beberapa dampak.

Pertama, biaya produksi bisa naik. Jika perusahaan tidak lagi memilih lokasi termurah, harga barang bisa lebih mahal.

Kedua, perdagangan global bisa melambat. Jika negara makin banyak memasang hambatan, arus barang dan investasi menjadi kurang lancar.

Ketiga, negara bisa punya ketahanan lebih baik untuk barang strategis. Jika produksi pangan, energi, atau obat lebih kuat di dalam negeri, negara bisa lebih siap menghadapi krisis.

Keempat, persaingan teknologi bisa makin tajam. Negara besar bisa berlomba menguasai teknologi penting dan membatasi akses lawan geopolitik.

Kelima, negara berkembang bisa terkena dampak ganda. Di satu sisi, mereka bisa mendapat peluang jika perusahaan global memindahkan pabrik dari satu negara ke negara lain. Di sisi lain, mereka bisa rugi jika perdagangan global makin tertutup.

IMF memperingatkan bahwa fragmentasi ekonomi dapat mengurangi manfaat globalisasi melalui jalur perdagangan, arus modal, migrasi, difusi teknologi, dan kerja sama internasional.

Dengan kata lain, deglobalisasi dalam ekonomi modern bisa memberi rasa aman dalam jangka pendek, tetapi bisa mahal jika berubah menjadi blok-blok ekonomi yang saling menutup diri.

Dampak Deglobalisasi bagi Konsumen

Bagi konsumen, dampak deglobalisasi dalam ekonomi modern bisa terasa lewat harga dan ketersediaan barang.

Jika rantai pasok dipindahkan dari lokasi termurah ke lokasi yang lebih aman tetapi lebih mahal, harga barang bisa naik. Produk elektronik, kendaraan, pakaian, obat, makanan tertentu, atau barang impor bisa lebih mahal.

Namun, ada juga sisi positif. Jika negara berhasil memperkuat produksi lokal, konsumen bisa mendapat pasokan lebih stabil. Misalnya, obat penting tidak terlalu tergantung impor. Produk pangan tertentu lebih aman dari gangguan luar negeri. Industri lokal juga bisa tumbuh.

Masalahnya, membangun produksi lokal tidak mudah. Butuh teknologi, modal, tenaga kerja terampil, bahan baku, energi, infrastruktur, dan pasar yang cukup besar.

Karena itu, deglobalisasi dalam ekonomi modern bukan solusi instan. Ia bisa memperkuat ketahanan, tetapi juga bisa meningkatkan biaya jika tidak dirancang dengan baik.

Apakah Deglobalisasi Selalu Buruk?

Tidak selalu.

Deglobalisasi dalam ekonomi modern bisa positif jika dimaknai sebagai upaya memperbaiki ketahanan ekonomi. Misalnya, negara tidak ingin pasokan pangan, energi, atau obat terlalu bergantung pada satu sumber. Perusahaan juga wajar ingin punya pemasok cadangan agar produksi tidak berhenti saat krisis.

Namun, deglobalisasi bisa buruk jika berubah menjadi proteksionisme berlebihan. Jika semua negara menutup pasar, menaikkan tarif, membatasi ekspor, dan curiga satu sama lain, perdagangan global bisa melemah. Akibatnya, harga naik, pilihan konsumen berkurang, investasi terganggu, dan negara miskin lebih sulit naik kelas lewat perdagangan.

WTO menyatakan bahwa fragmentasi perdagangan membawa risiko terhadap sistem perdagangan multilateral, sementara re-globalization dapat menjadi cara untuk membuat perdagangan lebih inklusif dan membantu menghadapi tantangan global.

Jadi, pilihan terbaik mungkin bukan globalisasi lama yang terlalu mengejar efisiensi, juga bukan deglobalisasi ekstrem yang menutup diri. Yang dibutuhkan adalah globalisasi yang lebih aman, adil, dan tahan guncangan. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya