Reli IHSG Usai Reshuffle Purbaya Tak Bertahan Lama

|

5 Views
Reli IHSG Usai Reshuffle Purbaya Tak Bertahan Lama

FinanSaya.com – Reli IHSG berhenit mendadak dan bergerak turun pada perdagangan Selasa (15/9/2026) setelah sehari sebelumnya sempat bangkit tajam dari titik terendah.

Pada penutupan sesi pertama, Indeks Harga Saham Gabungan melemah 0,76 persen atau 49,77 poin ke level 6.484,92.

Indeks sempat dibuka menguat di level 6.544, tetapi tekanan jual kembali muncul dan membawa reli IHSG menyentuh titik terendah intraday di 6.461,01.

Pergerakan tersebut menunjukkan sentimen positif setelah pergantian Menteri Keuangan belum bertahan lama.

Sehari sebelumnya, IHSG juga bergerak sangat volatil setelah pasar merespons pergantian Purbaya Yudhi Sadewa dengan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan.

IHSG Kembali Turun Setelah Rebound

Pada Senin (14/9/2026), IHSG sempat anjlok sekitar 2,56 persen hingga menyentuh level 6.373,96 menjelang penutupan perdagangan.

Namun, setelah Suahasil Nazara dilantik menggantikan Purbaya, indeks berbalik arah cepat.

Reli IHSG sempat mencapai kisaran 6.550 atau menguat 0,08 persen secara intraday.

Dari titik terendahnya, indeks sempat bangkit sekitar 176 poin.

Meski begitu, penguatan tersebut tidak cukup untuk membawa IHSG menutup perdagangan Senin di zona hijau.

Indeks akhirnya tetap ditutup melemah tipis 0,10 persen di level 6.534,69.

Reli IHSG Dinilai Masih Sementara

Tekanan yang kembali muncul pada Selasa memperkuat dugaan bahwa reli IHSG tajam sehari sebelumnya lebih menyerupai relief rally.

Relief rally biasanya terjadi ketika pasar mendapat kejelasan setelah periode ketidakpastian, tetapi belum tentu menandai awal tren naik baru.

Dalam konteks ini, pasar sempat merespons kepastian sosok Menteri Keuangan baru.

Namun, investor tampaknya belum sepenuhnya yakin sebelum melihat arah kebijakan yang akan ditempuh.

Pengamat pasar modal Hendra Wardana menilai rebound IHSG setelah pergantian Menteri Keuangan belum mencerminkan pemulihan kepercayaan investor secara menyeluruh.

Menurutnya, pasar masih menunggu kebijakan konkret Suahasil, terutama terkait pengelolaan fiskal, pembiayaan defisit anggaran, serta koordinasi kebijakan fiskal dan moneter.

Sektor Keuangan Jadi Pemberat

Tekanan paling dalam pada reli IHSG terlihat pada sektor keuangan.

Pada sesi pertama Selasa, sektor keuangan turun 1,19 persen dan menjadi sektor dengan koreksi terdalam.

Pelemahan sektor ini penting karena saham perbankan berkapitalisasi besar memiliki bobot besar terhadap pergerakan IHSG.

Pada awal perdagangan, Bank Negara Indonesia, Bank Mandiri, dan Bank Rakyat Indonesia masuk jajaran saham LQ45 dengan penurunan terbesar.

Kondisi ini berbalik dari perdagangan Senin ketika saham-saham bank besar justru menjadi penopang rebound indeks.

Saat itu, BBRI ditutup naik 3,97 persen, BBNI menguat 3,21 persen, Bank Central Asia bertambah 2,76 persen, dan BMRI naik 1,83 persen.

Penguatan big banks pada Senin membantu IHSG memangkas koreksi tajam menjelang penutupan.

Asing Masih Catat Net Sell

Respons reli IHSG terhadap reshuffle Menteri Keuangan sejauh ini masih terbelah.

Di satu sisi, IHSG sempat memantul tajam dari titik terendah pada Senin.

Di sisi lain, investor asing masih mencatat penjualan bersih.

Pada perdagangan Senin, asing membukukan net sell sekitar Rp337,44 miliar.

Angka tersebut menunjukkan bahwa rebound intraday belum cukup untuk mengubah arus dana asing menjadi beli bersih.

Baca Juga: IHSG Lanjut Reli Dekati Level 6400

Bagi pasar, aksi asing tetap menjadi indikator penting karena aliran dana keluar dapat menambah tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Selama investor asing belum kembali masuk secara konsisten, penguatan IHSG berpotensi masih rentan terhadap tekanan lanjutan.

Sentimen Global Ikut Menekan

Selain faktor domestik, bursa saham Indonesia juga menghadapi tekanan dari luar negeri.

Investor masih mencermati ketidakpastian arah suku bunga Amerika Serikat.

Tingginya imbal hasil obligasi AS juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi minat investor terhadap aset berisiko di pasar negara berkembang.

Jika yield obligasi AS tetap tinggi, aset berbasis dolar menjadi lebih menarik dibandingkan saham negara berkembang.

Kondisi tersebut dapat menekan aliran modal ke pasar seperti Indonesia.

Selain itu, pasar juga memperhatikan lonjakan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Harga Minyak Naik Tajam

Harga minyak Brent pada perdagangan Senin tercatat naik sekitar 1 persen menjadi US$105,68 per barel.

Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI meningkat 1,3 persen menjadi US$101,39 per barel.

Kenaikan harga minyak dapat memengaruhi sentimen pasar karena berpotensi menambah tekanan inflasi dan beban impor energi.

Bagi negara importir minyak, kenaikan harga energi dapat menjadi risiko terhadap neraca perdagangan, subsidi, dan ekspektasi inflasi.

Dampak akhirnya bisa masuk ke cara investor menilai prospek fiskal, suku bunga, dan kinerja emiten tertentu.

Karena itu, harga minyak menjadi salah satu variabel global yang ikut diperhatikan ketika IHSG kembali turun pada Selasa.

Pasar Menunggu Arah Suahasil

Pergantian Menteri Keuangan memberi kepastian politik jangka pendek, tetapi pasar masih membutuhkan sinyal kebijakan setelah reli IHSG.

Investor akan mencermati bagaimana Suahasil Nazara mengelola fiskal, menjaga defisit, mengatur pembiayaan anggaran, dan berkoordinasi dengan otoritas moneter.

Kebijakan fiskal menjadi penting karena dapat memengaruhi persepsi terhadap stabilitas makro, kebutuhan penerbitan surat utang, dan arah belanja pemerintah.

Jika pasar melihat kebijakan yang jelas dan kredibel, tekanan terhadap IHSG dapat mereda.

Namun, jika ketidakpastian tetap tinggi, relief rally setelah reshuffle berisiko hanya menjadi euforia sesaat.

Pada penutupan sesi pertama Selasa (15/9/2026), IHSG kembali turun 0,76 persen ke 6.484,92 setelah sehari sebelumnya ditutup melemah 0,10 persen di 6.534,69, dengan sektor keuangan menjadi pemberat utama karena terkoreksi 1,19 persen.

Artikel Menarik Lainnya