Hubungan pergerakan harga Bitcoin dan emas kembali menjadi perhatian pasar. Analisis terbaru Kobeissi Letter menunjukkan korelasi emas dan Bitcoin naik ke sekitar +0,50 dalam periode 90 hari.
Level korelasi emas dan Bitcoin tersebut mendekati rekor tertinggi yang terlihat saat pandemi mengguncang pasar global pada 2020. Kenaikannya juga disebut telah lebih dari dua kali lipat sejak awal 2026.
Di saat yang sama, hubungan Bitcoin dengan saham teknologi justru melemah. Korelasi 90 hari BTC dengan Nasdaq 100 turun ke sekitar +0,30, level terendah dalam satu tahun.
Perubahan ini memunculkan pertanyaan baru di pasar kripto: apakah Bitcoin mulai bergerak lebih dekat dengan emas dan tidak lagi sekadar mengikuti saham teknologi?
Korelasi Emas dan Bitcoin Naik Tajam
Grafik Bitwise Asset Management berdasarkan data Bloomberg menunjukkan lonjakan korelasi 90 hari antara Bitcoin dan harga spot emas.
Korelasinya emas dan Bitcoin kini berada di sekitar +0,50. Kobeissi Letter menilai kondisi ini sebagai perubahan besar karena hubungan BTC-emas meningkat cepat sepanjang tahun.
Sebelumnya, setelah pemulihan dari bear market 2022, korelasi emas dan Bitcoin sempat naik ke sekitar +0,30. Kini angkanya berada jauh lebih tinggi.
Secara sederhana, korelasi positif berarti Bitcoin dan emas belakangan lebih sering bergerak ke arah yang sama.
Namun, korelasi tidak berarti keduanya selalu naik atau turun dengan besaran yang sama. Korelasi hanya menunjukkan kecenderungan arah pergerakan dalam periode tertentu.
Arti Korelasi +0,50
Koefisien korelasi bergerak dari -1 hingga +1.
Angka yang mendekati +1 menunjukkan dua aset cenderung bergerak searah. Sebaliknya, angka mendekati -1 menunjukkan keduanya cenderung bergerak berlawanan.
Jika angkanya mendekati nol, hubungan pergerakan dua aset relatif lemah.
Dengan posisi sekitar +0,50, korelasi emas dan Bitcoin menunjukkan hubungan positif yang lebih kuat dibandingkan beberapa periode sebelumnya.
Meski begitu, grafik Bitwise memberi catatan bahwa korelasi antara -0,5 hingga +0,5 secara tradisional masih dapat dikategorikan rendah atau tidak terlalu kuat.
Karena itu, hal yang paling menonjol bukan hanya level +0,50, tetapi kecepatan kenaikannya sejak awal 2026.
Dipicu Kebijakan Treasury AS
Menurut Kobeissi Letter, akselerasi korelasi emas dan Bitcoin terjadi setelah Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan rencana buyback obligasi pemerintah jangka panjang pada 19 Agustus.
Nilai pembelian kembali tersebut disebut naik dari sekitar US$2 miliar menjadi US$4 miliar per operasi.
Buyback obligasi pemerintah memungkinkan Treasury membeli kembali surat utang yang sudah beredar di pasar. Kebijakan ini dapat memengaruhi likuiditas dan dinamika pasar Treasury.
Dampaknya terhadap Bitcoin dan emas tidak selalu langsung. Namun, Kobeissi melihat kebijakan itu sebagai salah satu faktor yang memperkuat pergerakan searah kedua aset.
Bitcoin Menjauh dari Nasdaq
Perubahan menarik lain terjadi pada hubungan Bitcoin dengan Nasdaq 100.
Kobeissi Letter menyebut korelasi 90 hari Bitcoin dengan Nasdaq 100 turun ke sekitar +0,30. Angka itu menjadi level terendah dalam satu tahun.
Sebelumnya, Bitcoin dalam banyak periode diperdagangkan seperti high-beta risk asset. Artinya, BTC sering bergerak lebih dekat dengan saham teknologi ketika pasar merespons ekspektasi suku bunga dan likuiditas global.
Jika korelasi BTC dengan Nasdaq terus turun, sementara korelasi BTC dengan emas naik, cara investor memperdagangkan Bitcoin bisa mengalami perubahan.
Bitcoin belum otomatis berhenti menjadi aset berisiko. Namun, perilaku harganya belakangan terlihat lebih dekat dengan emas dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
Narasi Digital Gold Menguat
Bitcoin sejak lama disebut sebagai digital gold oleh sebagian pelaku pasar.
Narasi korelasi emas dan Bitcoin itu muncul karena suplai Bitcoin dibatasi maksimal 21 juta koin, penerbitannya mengikuti aturan protokol, dan jaringannya tidak dikendalikan oleh bank sentral.
Emas juga memiliki pasokan yang terbatas secara alami dan telah lama digunakan sebagai aset penyimpan nilai.
Namun, perbedaan keduanya tetap besar. Bitcoin jauh lebih volatil, sejarah pasarnya lebih pendek, dan responsnya terhadap kondisi makro tidak selalu sama dengan emas.
Karena itu, naiknya korelasi emas dan Bitcoin selama 90 hari belum cukup untuk membuktikan Bitcoin telah berubah menjadi safe haven seperti emas.
Data terbaru hanya menunjukkan bahwa pergerakan kedua aset sedang semakin selaras dalam periode ini.
Baca Juga: Sinyal RVTS Bitcoin dan XRP Bertolak Belakang
Risiko Currency Debasement Disorot
Kobeissi Letter menilai investor semakin banyak memperhatikan korelasi emas dan Bitcoin sebagai hedge terhadap currency debasement.
Currency debasement merujuk pada risiko penurunan daya beli mata uang. Kekhawatiran ini biasanya menguat ketika pasar menyoroti kenaikan utang pemerintah, ekspansi likuiditas, inflasi, atau kebijakan fiskal dan moneter yang dinilai dapat melemahkan nilai riil mata uang.
Emas secara historis sering dipakai dalam strategi perlindungan nilai.
Bitcoin kini mencoba mengambil sebagian peran serupa, terutama di kalangan investor yang melihat kelangkaan suplai BTC sebagai karakteristik moneter penting.
Jika narasi ini terus menguat, Bitcoin dan emas berpotensi tetap menjadi perhatian investor secara bersamaan.
Mirip Kondisi Pandemi 2020
Level korelasi emas dan Bitcoin saat ini menarik karena mendekati kondisi 2020.
Pada masa pandemi COVID-19, korelasi Bitcoin dan emas juga sempat naik hingga sekitar +0,50. Saat itu, pasar menghadapi ketidakpastian ekstrem dan perubahan besar dalam kebijakan fiskal serta moneter.
Namun, hubungan BTC-emas tidak selalu bertahan di level tinggi. Setelah periode tersebut, korelasinya kembali turun dan beberapa kali masuk wilayah negatif.
Data historis sejak 2015 hingga 2026 menunjukkan hubungan Bitcoin dan emas dapat berubah-ubah. Kadang positif, kadang negatif, lalu kembali positif.
Dengan demikian, lonjakan terbaru lebih tepat dibaca sebagai perubahan rezim pasar sementara, bukan bukti bahwa keduanya akan selalu bergerak bersama.
Emas Bisa Lebih Relevan bagi Trader BTC
Jika korelasi emas dan Bitcoin bertahan lebih lama, faktor yang biasanya memengaruhi emas dapat semakin diperhatikan oleh trader Bitcoin.
Beberapa faktor tersebut antara lain arah suku bunga riil, pergerakan dolar AS, kebijakan fiskal, permintaan aset lindung nilai, dan kekhawatiran terhadap nilai mata uang.
Namun, Bitcoin tetap memiliki katalis sendiri. Arus modal ETF, aktivitas on-chain, regulasi kripto, leverage derivatif, dan permintaan investor institusional tetap bisa memengaruhi harga BTC.
Karena itu, harga Bitcoin tidak bisa diprediksi hanya dengan melihat emas.
Belum Jadi Jawaban Final
Data saat ini memberi amunisi baru bagi pendukung narasi digital gold. Korelasi BTC-emas naik ke sekitar +0,50, sementara korelasi BTC dengan Nasdaq 100 turun ke sekitar +0,30.
Jika tren ini bertahan lebih lama, pasar dapat memperoleh bukti tambahan bahwa perilaku Bitcoin sedang berubah.
Sebaliknya, jika korelasi kembali turun beberapa bulan ke depan, lonjakan saat ini bisa saja hanya mencerminkan kondisi makro sementara.
Untuk saat ini, satu perubahan terlihat jelas: Bitcoin sedang bergerak semakin dekat dengan emas dan semakin jauh dari Nasdaq dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. (Sol)




