Opini oleh Solomon Tama
FinanSaya.com – Masih bekerja di usia 50 tahun bukan sesuatu yang memalukan. Bahkan, banyak orang tetap bekerja pada usia tersebut karena masih produktif, masih dibutuhkan, masih ingin berkarya, atau memang mencintai pekerjaannya.
Masalahnya bukan pada usia 50 tahun yang masih bekerja. Masalahnya adalah ketika seseorang di usia 50 tahun masih harus bekerja karena tidak punya pilihan lain.
Bukan karena ingin produktif, melainkan karena jika berhenti bekerja, dapur tidak menyala. Seseorang masih bekerja di usia 50 tahun, juga ada yang karena cicilan tidak terbayar. Anak belum selesai sekolah. Tabungan tidak ada. Aset tidak punya. Dana pensiun hanya angan-angan.
Di titik itu, bekerja bukan lagi soal aktualisasi diri. Bekerja berubah menjadi cara bertahan hidup.
Bekerja di Usia 50 Tahun Bukan Aib
Kita perlu jujur sejak awal: masih bekerja di usia 50 tahun bukan kegagalan. Banyak orang justru berada di fase terbaiknya pada usia tersebut. Pengalaman lebih matang, cara berpikir lebih tenang, jaringan lebih luas, dan kemampuan mengambil keputusan biasanya lebih terbentuk.
Bahkan, isu bekerja di usia yang lebih matang menjadi semakin relevan karena struktur penduduk terus berubah. Badan Pusat Statistik secara rutin menerbitkan publikasi Statistik Penduduk Lanjut Usia yang menunjukkan bahwa isu usia, produktivitas, kesejahteraan, dan masa tua bukan sekadar urusan pribadi, tetapi juga urusan sosial dan ekonomi.
Jadi, seseorang yang masih bekerja di usia 50 tahun tidak otomatis perlu dikasihani. Bisa jadi ia memang memilih untuk tetap aktif. Bisa jadi ia menikmati pekerjaannya. Bisa jadi ia merasa hidupnya lebih bermakna ketika masih menghasilkan karya.
Yang perlu dilihat bukan sekadar apakah seseorang masih bekerja atau tidak. Yang lebih penting adalah: apakah ia bekerja karena punya pilihan, atau karena tidak punya jalan lain?
Masa Muda Sering Terasa Panjang
Saat masih muda, banyak orang merasa hidup masih panjang. Usia 20-an terasa seperti masa bebas. Usia 30-an dianggap masih aman. Tenaga masih kuat, peluang masih banyak, dan gaji masih datang setiap bulan.
Karena merasa masih punya banyak waktu, sebagian orang akhirnya menunda banyak hal penting.
Menunda menabung. Menunda belajar mengelola uang. Menunda membangun aset. Menunda meningkatkan keahlian. Menunda memperbaiki pola hidup. Menunda memikirkan masa tua.
Padahal, masa muda tidak selama yang dibayangkan. Waktu berjalan diam-diam. Tahu-tahu usia bertambah, tanggungan makin besar, energi mulai berkurang, sementara kebutuhan hidup tidak pernah benar-benar turun.
Di sinilah banyak orang baru sadar bahwa masa muda yang dulu terasa panjang ternyata bisa habis begitu saja, dan sekarang pun masih bekerja di usia 50 tahun.
Otoritas Jasa Keuangan melalui kanal edukasi Sikapi Uangmu sering menekankan pentingnya perencanaan keuangan, pengelolaan pengeluaran, pemahaman risiko, dan persiapan masa depan. Pesannya sederhana, tetapi sering diabaikan: keuangan yang sehat tidak muncul tiba-tiba saat tua. Ia dibangun dari kebiasaan kecil yang dilakukan sejak muda.
Bekerja Karena Pilihan dan Bekerja Karena Terpaksa Itu Berbeda
Ada perbedaan besar antara orang yang masih bekerja di usia 50 tahun karena pilihan dan orang yang bekerja karena terpaksa.
Orang yang bekerja karena pilihan biasanya punya kendali. Ia tetap bekerja karena ingin aktif, ingin berkarya, ingin membagikan pengalaman, atau ingin mengisi hidup dengan sesuatu yang bermakna. Kalau suatu hari ingin berhenti, ia bisa berhenti. Hidupnya tidak langsung runtuh.
Sebaliknya, orang yang bekerja karena terpaksa tidak punya ruang untuk memilih. Ia tetap bekerja karena harus. Kalau berhenti, penghasilan hilang. Kalau penghasilan hilang, hidup keluarga terganggu. Ia tidak sedang memilih pekerjaan. Ia sedang dikejar kebutuhan.
Inilah yang seharusnya menjadi peringatan bagi banyak anak muda.
Jangan hanya bertanya, “Apakah saya akan masih bekerja di usia 50 tahun?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Di usia 50 tahun nanti, saya bekerja karena ingin atau karena terpaksa?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya sangat menentukan cara seseorang memperlakukan masa mudanya.
Masa Muda yang Dihabiskan Tanpa Arah
Sebagian orang masih bekerja di usia 50 tahun lantaran menyia-nyiakan masa mudanya. Ini pahit, tetapi harus diakui.
Ada yang penghasilannya habis hanya untuk gaya hidup. Ada yang terlalu sibuk terlihat sukses, tetapi lupa membangun fondasi keuangan. Ada yang membeli barang demi validasi sosial. Ada yang mengambil cicilan bukan karena butuh, tetapi karena ingin terlihat mampu.
Ada pula yang merasa belajar selesai setelah lulus sekolah. Setelah bekerja, tidak pernah lagi membaca, tidak pernah meningkatkan keahlian, tidak pernah mengikuti perubahan zaman. Padahal dunia kerja berubah cepat. Keahlian yang dulu cukup untuk bertahan belum tentu cukup untuk menghadapi masa depan. Namun pada kenyataannya, mereka akhirnya masih bekerja di usia 50 tahun.
Baca Juga: Kepatuhan Mutlak dan Budaya Kerja yang Menindas
Laporan International Labour Organization, Work for a Brighter Future, menekankan pentingnya pembelajaran sepanjang hayat dalam menghadapi perubahan dunia kerja. Artinya, kemampuan seseorang untuk tetap relevan tidak cukup hanya bergantung pada ijazah lama atau pengalaman masa lalu.
Masa muda yang seharusnya dipakai untuk membangun bekal justru sering habis untuk konsumsi, gengsi, dan kesenangan sesaat.
Akibatnya, saat usia semakin matang, seseorang tidak punya banyak pegangan. Gaji mungkin pernah ada, tetapi tidak berubah menjadi tabungan. Penghasilan pernah masuk, tetapi tidak berubah menjadi aset. Waktu pernah tersedia, tetapi tidak berubah menjadi keahlian, dan masih bekerja di usia 50 tahun.
Yang tersisa hanya kelelahan dan penyesalan.
Tapi Tidak Semua Bisa Disalahkan
Namun, opini ini juga tidak boleh berhenti pada kesimpulan bahwa semua orang yang masih bekerja di usia 50 tahun pasti gagal menggunakan masa mudanya.
Itu terlalu sempit dan tidak adil.
Ada orang yang sejak muda sudah bekerja sangat keras, tetapi upahnya kecil. Ada yang menjadi tulang punggung keluarga sejak awal. Ada yang harus membiayai orang tua, adik, pasangan, atau anak. Ada yang usahanya gagal bukan karena malas, melainkan karena krisis. Ada yang tabungannya habis karena sakit. Ada yang terkena PHK. Ada yang hidupnya memang tidak pernah diberi banyak pilihan sejak awal.
Jadi, tidak semua orang yang belum mapan di usia 50 tahun layak dihakimi.
Hidup tidak sesederhana rumus motivasi. Tidak semua orang memulai dari garis start yang sama. Ada yang lahir dengan jaringan, modal, pendidikan, dan dukungan keluarga. Ada juga yang sejak muda sudah harus berlari hanya untuk tidak jatuh.
Karena itu, kritik terhadap kebiasaan buruk masa muda harus tetap dibarengi empati terhadap kenyataan hidup banyak orang.
Yang Perlu Ditakuti Bukan Usia, Tapi Tidak Punya Pilihan
Yang perlu ditakuti bukan masih bekerja di usia 50 tahun. Yang perlu ditakuti adalah tidak punya pilihan di usia tersebut.
Sebab usia 50 bukan lagi fase untuk terlalu banyak coba-coba. Tenaga tidak selalu sama. Risiko kesehatan mulai meningkat. Kesempatan kerja mungkin tidak sebanyak saat muda. Tanggung jawab keluarga juga bisa semakin kompleks.
World Health Organization melalui inisiatif Decade of Healthy Ageing menekankan pentingnya penuaan yang sehat, termasuk kemampuan seseorang untuk tetap berfungsi, mandiri, dan memiliki kualitas hidup yang baik. Ini mengingatkan kita bahwa masa tua bukan hanya soal uang, tetapi juga soal kesehatan, lingkungan, dukungan sosial, dan kesiapan hidup.
Kalau sejak muda seseorang tidak menyiapkan apa-apa, masih bekerja di usia 50 bisa menjadi fase yang berat.
Maka, masa muda seharusnya tidak hanya dipakai untuk menikmati hidup. Masa muda juga perlu dipakai untuk membangun hidup.
Bangun keahlian. Bangun tabungan. Bangun aset. Bangun reputasi. Bangun relasi. Bangun kesehatan. Bangun kebiasaan yang membuat masa depan lebih ringan.
Karena hidup bukan hanya tentang bagaimana kita menikmati hari ini, tetapi juga bagaimana kita tidak menyusahkan diri sendiri di masa depan.
Jangan Menunggu Tua untuk Sadar
Banyak orang baru sadar pentingnya uang ketika sudah kekurangan, dan masih bekerja di usia 50 tahun. Baru sadar pentingnya kesehatan ketika tubuh mulai lemah. Baru sadar pentingnya keahlian ketika sulit bersaing. Baru sadar pentingnya tabungan ketika keadaan darurat datang.
Sayangnya, kesadaran yang datang terlambat sering kali mahal harganya.
Anak muda tidak harus menjadi kaya raya secepat mungkin. Tidak semua orang harus punya rumah di usia 25 tahun, mobil di usia 30 tahun, atau portofolio investasi besar sebelum menikah.
Tetapi setiap orang perlu punya kesadaran bahwa masa depan tidak bisa dibangun hanya dengan harapan. Masa depan perlu disiapkan.
Kalau penghasilan masih kecil, mulai dari mengatur pengeluaran. Kalau belum bisa membeli aset besar, mulai dari menabung kecil. Kalau belum punya jaringan luas, mulai dari menjaga reputasi. Kalau belum punya banyak kesempatan, mulai dari meningkatkan kemampuan.
Jika tidak ingin masih bekerja di usia 50 tahun, yang penting bukan langsung besar. Yang penting mulai. (Sol)




