BBM Nabati Indonesia Diklaim Bisa Hemat Miliaran Dolar

|

6 Views
BBM Nabati Indonesia Diklaim Bisa Hemat Miliaran Dolar

FinanSaya.com – BBM Nabati Indonesia mulai diarahkan menjadi salah satu strategi pemerintah untuk menghemat devisa miliaran dolar. Pemerintah menyiapkan dua kebijakan utama, yakni biodiesel B50 untuk kendaraan diesel dan bensin campur bioetanol 5 persen atau E5 untuk kendaraan berbahan bakar bensin.

B50 bukan bahan bakar yang sepenuhnya baru dari sisi fosil. Produk ini merupakan campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak nabati, terutama sawit, dengan 50 persen solar. Sementara E5 merupakan bensin yang dicampur bioetanol sebesar 5 persen.

Dalam website resminya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menargetkan implementasi B50 secara nasional mulai 1 Juli 2026. Program BBM nabati Indonesia ini disiapkan untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan ketergantungan terhadap impor BBM, khususnya solar.

Dari sisi ekonomi, BBM nabati Indonesia melalui program biodiesel telah memberi dampak besar terhadap penghematan devisa. Kementerian ESDM mencatat pemanfaatan biodiesel pada periode 2020 hingga 2025 telah menghemat devisa hingga USD40,71 miliar.

Dengan penerapan B50, pemerintah memperkirakan potensi penghematan devisa tambahan mencapai USD10,84 miliar dalam satu tahun implementasi pada 2026. Angka ini menjadi alasan utama pemerintah mempercepat penggunaan bahan bakar campuran nabati di sektor transportasi dan industri.

Uji B50 Masuk Sektor Otomotif dan Tambang

Persiapan B50 sudah masuk tahap uji teknis di sejumlah sektor. Dalam uji jalan sektor otomotif, Kementerian ESDM menyebut hasil sementara hingga April 2026 menunjukkan penggunaan B50 pada kendaraan diesel berada dalam kondisi aman dan tidak ditemukan kendala signifikan.

Untuk kendaraan kategori di atas 3,5 ton, target jarak tempuh 40.000 kilometer sudah selesai dilakukan. Sementara kendaraan di bawah 3,5 ton telah mencapai 40.000 kilometer dari target 50.000 kilometer, dengan kondisi mesin dan filter bahan bakar masih dalam batas standar pabrikan.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi saat mengisi BBM B50 pada salah satu transportasi darat di Lembang, Kabupaten Bandung. Sumber: Kementrian ESDM

Uji B50 juga dilakukan pada sektor pertambangan. Kementerian ESDM menyebut hasil sementara penggunaan BBM nabati Indonesa tersebut pada mesin diesel sektor tambang menunjukkan performa stabil dan tidak ditemukan gangguan signifikan pada mesin.

Selain itu, pemerintah menguji B50 pada sektor perkeretaapian. Uji ini menunjukkan bahwa BBM nabati Indonesia tidak hanya disiapkan untuk kendaraan pribadi atau niaga, tetapi juga untuk sektor pengguna energi besar yang selama ini banyak mengonsumsi solar.

Baca Juga: Subsidi BBM RI Dinilai Belum Tepat Sasaran oleh World Bank

E5 Disiapkan Bertahap Mulai Juli 2026

Di sisi bensin, pemerintah menyiapkan penerapan E5 mulai Juli 2026. Namun, kebijakan BBM nabati Indonesia satu ini belum langsung diterapkan secara nasional. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyebut mandatori E5 akan diberlakukan di beberapa lokasi terlebih dahulu.

Penggunaan bioetanol sebenarnya sudah diuji lebih dulu melalui Pertamax Green 95. Dalam Laporan Kinerja Ditjen EBTKE 2023, ESDM menyebut Pertamina Patra Niaga melakukan market trial E5 di Jakarta dan Surabaya melalui pencampuran 5 persen bioetanol ke bensin RON92 untuk menghasilkan Pertamax Green 95.

Laporan yang sama menyebut uji jalan bioetanol hingga 15.000 kilometer menunjukkan hasil secara umum memuaskan. Produk Pertamax Green 95 kemudian masuk ke segmen bensin RON95 sebagai campuran 50 persen RON92, 45 persen RON98, dan 5 persen bioetanol.

Meski peluangnya besar, BBM nabati Indonesia masih menghadapi tantangan. Untuk B50, faktor pentingnya meliputi kesiapan teknis kendaraan, stabilitas kualitas bahan bakar, distribusi biodiesel, dan pasokan minyak nabati.

Untuk E5, tantangan lebih banyak berada pada pasokan bioetanol domestik, harga jual, kesiapan jaringan SPBU, serta kepastian wilayah penerapan. Dewan Energi Nasional sebelumnya juga mencatat pengembangan E5 masih menghadapi tantangan terkait suplai, spesifikasi bahan bakar baru, harga jual eceran, harga perolehan bioetanol, dan pembebasan cukai etanol.

Pemerintah melihat B50 dan E5 sebagai jalur transisi energi yang lebih realistis. Indonesia tidak langsung meninggalkan BBM fosil, tetapi memperbesar porsi bahan bakar nabati dalam konsumsi harian.

Dengan arah tersebut, BBM nabati Indonesia berpotensi memberi dorongan bagi sawit, tebu, industri bioetanol, hingga rantai pasok energi domestik. Namun, implementasinya tetap bergantung pada kesiapan teknis, kepastian harga, dan kemampuan pasokan bahan baku dalam negeri. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya