Tekanan Ekonomi Indonesia Saat Ini vs Covid-19, Apa Bedanya?

|

9 Views
Tekanan Ekonomi Indonesia Saat Ini vs Covid-19, Apa Bedanya?

FinanSaya.com – Tekanan ekonomi Indonesia saat ini kerap dibandingkan dengan masa pandemi Covid-19 karena sebagian masyarakat kembali merasakan beban keuangan rumah tangga. Pengeluaran terasa makin berat, tabungan lebih cepat terpakai, dan rasa aman terhadap pendapatan mulai menurun.

Namun, menyamakan kondisi sekarang dengan masa Covid-19 tidak sepenuhnya tepat. Ada perbedaan besar pada sumber tekanan, aktivitas ekonomi, kondisi rumah tangga, dan arah kebijakan yang dibutuhkan.

Pada masa Covid-19, tekanan ekonomi Indonesia terutama datang dari krisis kesehatan. Aktivitas masyarakat dibatasi, mobilitas turun tajam, tempat usaha tutup, dan banyak sektor kehilangan pendapatan karena kegiatan ekonomi tidak bisa berjalan normal.

Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia sepanjang 2020 turun 2,07 persen secara tahunan. Kontraksi itu menggambarkan tekanan besar saat pandemi menahan aktivitas produksi, konsumsi, dan mobilitas masyarakat.

Kondisi saat ini berbeda. Aktivitas masyarakat tetap berjalan, kantor dan sekolah beroperasi, pusat belanja buka, dan konsumsi masih terjadi. BPS mengklaim ekonomi Indonesia triwulan I 2026 masih tumbuh 5,61 persen secara tahunan, salah satunya didorong konsumsi masyarakat yang tetap terjaga.

Artinya, ekonomi tidak sedang berhenti seperti saat pandemi. Tekanan ekonomi Indonesia saat ini lebih banyak muncul dari kenaikan biaya hidup, pelemahan daya beli, tekanan nilai tukar rupiah, ketidakpastian pasar, dan biaya pinjaman yang lebih mahal.

Tekanan Ekonomi Indonesia Terasa di Rumah Tangga

Perbedaan tekanan ekonomi Indonesia berikutnya terlihat dari bentuk tekanan terhadap rumah tangga. Saat Covid-19, banyak keluarga kehilangan pendapatan secara mendadak karena pekerja dirumahkan, terkena PHK, atau kehilangan penghasilan harian.

Saat ini, tekanan lebih bertahap. Pendapatan sebagian masyarakat masih ada, tetapi beban pengeluaran meningkat. Cicilan tetap harus dibayar, harga kebutuhan naik, biaya pendidikan dan transportasi berjalan, sementara kenaikan pendapatan tidak selalu mengikuti biaya hidup.

Data Survei Konsumen Bank Indonesia Mei 2026 menunjukkan keyakinan konsumen masih berada di level optimis dengan Indeks Keyakinan Konsumen sebesar 120,9. Namun, komposisi keuangan rumah tangga mulai menunjukkan tekanan.

Dalam survei yang sama, proporsi pendapatan untuk konsumsi tercatat 72,3 persen. Porsi pembayaran cicilan atau utang meningkat menjadi 10,2 persen, sedangkan saving to income ratio turun menjadi 17,5 persen.

Kondisi itu menunjukkan masyarakat masih berbelanja, tetapi ruang keuangannya tidak selonggar sebelumnya. Jika cicilan naik dan tabungan turun, daya tahan rumah tangga terhadap kebutuhan mendadak ikut melemah.

Baca Juga: BI Catat Kondisi Keuangan Konsumen Mulai Tertekan

Di pasar keuangan, tekanan juga terlihat dari pelemahan rupiah. Sebagaimana ditulis sebelumnya oleh FinanSaya, Bank Indonesia menaikkan suku bunga secara mendadak pada 9 Juni 2026 sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen untuk menstabilkan rupiah, setelah mata uang Garuda sempat menyentuh sekitar Rp18.190 per dolar AS.

Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan ekonomi Indonesia saat ini lebih berkaitan dengan stabilitas nilai tukar, kepercayaan investor, inflasi, dan arus modal, bukan pembatasan aktivitas seperti saat pandemi.

Bukan Krisis Pandemi Tetapi Daya Tahan Melemah

Perbandingan dengan Covid-19 tetap bisa dipahami dari sisi rasa yang dialami masyarakat. Pada pandemi, tabungan dipakai untuk bertahan ketika pendapatan hilang. Saat ini, tabungan juga bisa terpakai, tetapi lebih sering untuk menutup selisih antara pendapatan dan pengeluaran rutin.

Skala kepanikan publik juga berbeda. Saat pandemi, masyarakat menghadapi ancaman kesehatan, penutupan aktivitas, pembatasan mobilitas, dan ketidakpastian pekerjaan secara bersamaan. Sekarang, kecemasan lebih banyak berbentuk finansial, seperti takut harga naik, cicilan makin berat, pekerjaan tidak aman, dan tabungan tidak cukup.

Karena itu, arah kebijakan yang dibutuhkan juga berbeda. Masa Covid-19 membutuhkan kebijakan penyelamatan darurat, mulai dari bantuan sosial, relaksasi kredit, subsidi, hingga pemulihan mobilitas ekonomi.

Saat ini, kebijakan yang dibutuhkan lebih mengarah pada penjagaan daya beli, stabilitas rupiah, pengendalian harga, penciptaan lapangan kerja, dan perlindungan kelompok menengah bawah agar tidak makin tertekan.

Dengan demikian, kondisi sekarang tidak sama seperti Covid-19, meskipun tekanan ekonomi Indonesia bisa terasa mirip bagi sebagian masyarakat. Pandemi membuat aktivitas ekonomi berhenti. Situasi saat ini membuat ekonomi tetap berjalan, tetapi dengan kemampuan finansial rumah tangga yang lebih terbatas. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya