FinanSaya.com – Kondisi keuangan konsumen Indonesia menunjukkan sinyal tekanan pada Mei 2026. Porsi pendapatan yang digunakan untuk membayar cicilan meningkat, sementara porsi pendapatan yang disimpan dalam bentuk tabungan menurun.
Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia periode Mei 2026, rata-rata proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi atau average propensity to consume ratio tercatat sebesar 72,3 persen. Angka ini relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 72,1 persen.
Namun, komposisi penggunaan pendapatan rumah tangga berubah. Proporsi pembayaran cicilan atau utang meningkat menjadi 10,2 persen pada Mei 2026, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 9,7 persen.
Pada saat yang sama, proporsi pendapatan konsumen yang disimpan atau saving to income ratio turun menjadi 17,5 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 18,2 persen.
Perubahan itu menunjukkan ruang keuangan rumah tangga mulai bergeser. Masyarakat masih menjaga konsumsi di level yang relatif stabil, tetapi harus mengalokasikan pendapatan lebih besar untuk membayar kewajiban cicilan.
Akibatnya, kemampuan menabung menjadi lebih terbatas. Dalam kondisi keuangan konsumen seperti ini, tabungan menjadi indikator penting karena berfungsi sebagai bantalan saat rumah tangga menghadapi kebutuhan mendadak, kenaikan harga, kehilangan pendapatan, atau tekanan ekonomi lain.
Cicilan Naik dan Tabungan Turun
Bank Indonesia mencatat rasio konsumsi terhadap pendapatan relatif stabil di tengah pembayaran cicilan yang meningkat dan tabungan yang menurun. Artinya, tekanan tidak langsung muncul dari lonjakan konsumsi, melainkan dari bertambahnya beban kewajiban keuangan rumah tangga.
Jika dilihat berdasarkan kelompok pengeluaran, porsi konsumsi terhadap pendapatan terindikasi meningkat pada kelompok pengeluaran Rp1 juta hingga Rp2 juta dan Rp3,1 juta hingga Rp4 juta.
Pada kelompok pengeluaran Rp1 juta hingga Rp2 juta, rasio konsumsi tercatat sebesar 76,7 persen. Sementara pada kelompok Rp3,1 juta hingga Rp4 juta, rasionya mencapai 72,2 persen.
Sementara itu, porsi pendapatan untuk pembayaran cicilan meningkat pada kelompok pengeluaran Rp4,1 juta hingga Rp5 juta dan kelompok di atas Rp5 juta. Pada kelompok Rp4,1 juta hingga Rp5 juta, rasio pembayaran cicilan tercatat sebesar 10,7 persen.
Untuk kelompok pengeluaran di atas Rp5 juta, rasio pembayaran cicilan mencapai 12,8 persen. Data ini menunjukkan tekanan cicilan pada kondisi keuangan konsumen tidak hanya terlihat pada kelompok berpengeluaran rendah, tetapi juga pada kelompok pengeluaran yang lebih tinggi.
Kelompok dengan pengeluaran di atas Rp5 juta bahkan mencatatkan rasio pembayaran cicilan paling tinggi dibandingkan kelompok lain. Kondisi keuangan konsumen pada kelompok ini perlu dicermati karena beban cicilan yang besar dapat mengurangi ruang untuk menabung atau menambah belanja.
Baca Juga: Rupiah Anjlok Lagi Hari Ini, Bank Indonesia Langsung Ambil Langkah Darurat
Kondisi Keuangan Konsumen Tertekan, Keyakinan Masih Optimis
Di sisi lain, keyakinan konsumen secara umum masih berada dalam zona optimis. Indeks Keyakinan Konsumen pada Mei 2026 tercatat sebesar 120,9.
Angka itu masih berada di atas level 100, yang berarti konsumen tetap optimistis terhadap kondisi ekonomi. Meski begitu, IKK Mei 2026 lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 123,0.
Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini juga turun menjadi 112,2 dari sebelumnya 116,5. Penurunan ini mengindikasikan persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini tidak sekuat bulan sebelumnya, meskipun masih berada dalam kategori optimis.
Dengan kondisi tersebut, tren kenaikan cicilan dan penurunan tabungan menjadi bagian penting yang perlu dicermati. Konsumsi rumah tangga merupakan salah satu penopang utama perekonomian.
Jika beban cicilan terus meningkat dan tabungan terus menurun, ruang konsumsi masyarakat ke depan dapat ikut terpengaruh. Stabilnya konsumsi belum tentu sepenuhnya mencerminkan ruang keuangan yang longgar, karena sebagian pendapatan kini terserap lebih besar untuk membayar kewajiban.
Bagi rumah tangga, kondisi keuangan konsumen ini menjadi pengingat untuk menjaga keseimbangan antara konsumsi, utang, dan tabungan. Cicilan perlu dijaga tetap berada dalam batas kemampuan agar tidak menggerus dana darurat maupun tabungan jangka panjang.
Bagi pelaku usaha dan pengambil kebijakan, data ini menjadi sinyal bahwa tekanan pada keuangan rumah tangga mulai terlihat meskipun keyakinan konsumen masih berada dalam zona optimis.
Kondisi keuangan konsumen pada Mei 2026 menunjukkan konsumsi masih stabil, tetapi bantalan tabungan melemah dan porsi cicilan meningkat. (Sol)




