FinanSaya.com – Nilai tukar rupiah kembali bikin pasar keuangan tegang. Pada perdagangan Kamis pagi, rupiah tercatat melemah hingga 0,77 persen dan menyentuh level Rp17.312 per dolar Amerika Serikat.
Angka ini bukan cuma membuat rupiah turun lebih dalam, tapi juga menjadi level terlemah sepanjang sejarah.
Yang lebih mengejutkan, rupiah kini disebut menjadi mata uang dengan performa paling buruk dibanding beberapa negara emerging market Asia lainnya.
Melansir laporan Bloomberg, penguatan dolar Amerika Serikat menjadi faktor utama yang menekan banyak mata uang Asia, termasuk rupiah.
Di saat rupiah melemah cukup dalam, mata uang lain seperti yuan China hanya turun 0,06 persen, won Korea Selatan melemah 0,22 persen, dan ringgit Malaysia turun sekitar 0,30 persen terhadap dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS atau DXY yang mengukur kekuatan dolar terhadap mata uang utama dunia naik 0,11 persen ke level US$98,70.
Sejak awal bulan, indeks dolar bahkan sudah menguat sekitar 2,4 persen.
Ahli strategi dari CIBC Capital Market, Noah Buffam, mengatakan dolar AS saat ini kembali dianggap sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Kondisi tersebut membuat investor global lebih memilih menyimpan dana di dolar AS dibanding aset berisiko lainnya.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia memastikan pihaknya terus melakukan langkah stabilisasi untuk menjaga rupiah tidak melemah lebih dalam.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bank sentral saat ini fokus menjaga stabilitas nilai tukar melalui kebijakan suku bunga dan operasi moneter.
BI sebelumnya memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75 persen.
Menurut Perry, cadangan devisa Indonesia yang mencapai US$148,2 miliar masih cukup kuat untuk membantu menjaga kestabilan rupiah.
Melansir pernyataan resmi BI, bank sentral juga mengaku terus melakukan intervensi di pasar valuta asing.
Intervensi dilakukan di pasar offshore Non-Deliverable Forward (NDF), pasar spot domestik, hingga Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
Selain itu, BI juga menaikkan struktur bunga instrumen moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) untuk menarik aliran dana asing masuk ke Indonesia.
Langkah tersebut diharapkan bisa membantu memperkuat nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang masih tinggi.
Pelemahan rupiah biasanya ikut berdampak pada harga barang impor, biaya produksi, hingga harga kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, kondisi rupiah yang terus melemah mulai membuat banyak pelaku usaha dan masyarakat khawatir. Apalagi jika dolar AS terus menguat dalam beberapa minggu ke depan, bukan tidak mungkin tekanan terhadap harga barang dan inflasi akan semakin terasa. (Sol)




