FinanSaya.com – Realisasi TKD hingga 31 Mei 2026 tercatat sebesar Rp306,1 triliun. Angka tersebut setara 44,2 persen dari pagu APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp693,0 triliun.
Meski sudah mencapai lebih dari 40 persen dari pagu, realisasi Transfer ke Daerah itu masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada Mei 2025, realisasi TKD tercatat Rp322,0 triliun atau 35,0 persen dari pagu APBN 2025 sebesar Rp919,9 triliun.
Dengan perbandingan tersebut, TKD hingga Mei 2026 turun hampir 5 persen, yakni 4,9 persen secara tahunan. Penurunan ini menjadi catatan penting karena terjadi ketika belanja negara secara keseluruhan justru tumbuh tinggi.
Kementerian Keuangan dalam laporan APBN KiTa pada 5 Juni 2026, mencatat belanja negara hingga Mei 2026 mencapai Rp1.365,4 triliun. Nilai tersebut tumbuh 34,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan belanja negara terutama bersumber dari Belanja Pemerintah Pusat. Realisasinya mencapai Rp1.059,3 triliun atau tumbuh 52,6 persen secara tahunan.
Untuk rinciannya, belanja kementerian/lembaga mencapai Rp517,7 triliun, tumbuh 58,9 persen. Sementara itu, belanja non-kementerian/lembaga mencapai Rp541,6 triliun, tumbuh 47,0 persen.
Realisasi TKD Turun secara Nominal
Perbedaan arah pertumbuhan tersebut menunjukkan ekspansi belanja APBN hingga Mei 2026 lebih kuat terjadi di level pemerintah pusat. Sementara itu, alokasi yang mengalir ke daerah melalui TKD justru mencatat kontraksi secara tahunan.
Dari sisi porsi terhadap pagu, angka realisasi TKD sebenarnya lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Pada Mei 2026, TKD sudah mencapai 44,2 persen dari pagu.
Pada Mei 2025, realisasinya baru 35,0 persen dari pagu. Namun secara nominal, nilai TKD tahun ini tetap lebih rendah karena pagu TKD dalam APBN 2026 turun menjadi Rp693,0 triliun dari pagu APBN 2025 sebesar Rp919,9 triliun.
Kondisi ini membuat isu realisasi TKD perlu dicermati daerah. Terutama daerah yang masih bergantung pada transfer pusat untuk membiayai layanan publik, belanja pembangunan, dan program prioritas daerah.
Penurunan nominal TKD dapat memengaruhi ruang fiskal daerah. Meski demikian, dampaknya tetap bergantung pada struktur pendapatan masing-masing pemerintah daerah.
Dalam paparan APBN KiTa Juni 2026, Kementerian Keuangan menyebut realisasi APBN Mei 2026 masih menunjukkan tren positif. Pendapatan negara disebut tumbuh kuat, belanja negara bergerak lebih cepat, dan defisit tetap terjaga dalam batas aman.
Hingga akhir Mei 2026, APBN mencatat defisit Rp180,4 triliun atau 0,70 persen terhadap Produk Domestik Bruto. Defisit itu terjadi saat belanja negara tumbuh lebih cepat dibandingkan pendapatan negara.
Baca Juga: Defisit APBN 2026 Capai Rp180 Triliun hingga Mei
Pajak Tumbuh saat TKD Menurun
Di tengah turunnya realisasi TKD, penerimaan pajak justru menunjukkan pertumbuhan kuat. Sebagaimana tertulisa dalam laporan, realisasi penerimaan pajak hingga Mei 2026 mencapai Rp834,4 triliun.
Nilai tersebut tumbuh 22,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp683,3 triliun. Realisasi penerimaan pajak itu setara 35,4 persen dari target APBN 2026.
Pertumbuhan pajak hingga Mei 2026 juga lebih tinggi dibandingkan posisi April 2026 yang sebesar 16,1 persen. Kementerian Keuangan menyebut penerimaan pajak melanjutkan tren positif sejalan dengan pertumbuhan aktivitas ekonomi dan semakin baiknya implementasi Coretax.
Salah satu penopang utama penerimaan pajak berasal dari PPN dan PPnBM. Realisasinya mencapai Rp315,7 triliun, tumbuh 41,3 persen.
Kementerian Keuangan menilai kenaikan pajak konsumsi tersebut sejalan dengan konsumsi dalam negeri yang kuat dan daya beli yang terjaga. Selain itu, PPh Badan dan deposit PPh Badan terealisasi Rp167,6 triliun, tumbuh 23,9 persen.
PPh Orang Pribadi dan PPh 21 mencapai Rp123,1 triliun, tumbuh 26,0 persen. Dari sisi sektoral, sektor perdagangan tumbuh 52,4 persen dengan kontribusi 25,5 persen terhadap penerimaan pajak.
Industri pengolahan tumbuh 19,7 persen dengan kontribusi 23,6 persen. Sementara itu, pertambangan tumbuh 28,2 persen dengan kontribusi 9,1 persen.
Realisasi TKD hingga Mei 2026 berada pada Rp306,1 triliun, lebih rendah dari Rp322,0 triliun pada Mei 2025. Pada saat yang sama, belanja pemerintah pusat tumbuh 52,6 persen dan penerimaan pajak tumbuh 22,1 persen. (Sol)




