Nilai Transaksi BEI Menyusut, Frekuensi Malah Naik

|

5 Views
Nilai Transaksi BEI Menyusut, Frekuensi Malah Naik

FinanSaya.com – Nilai transaksi BEI menyusut pada pekan perdagangan pendek 2–5 Juni 2026, saat Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG mengalami tekanan tajam. Bursa Efek Indonesia mencatat rata-rata nilai transaksi harian turun 5,71 persen menjadi Rp26,97 triliun dari Rp28,38 triliun pada pekan sebelumnya.

Dalam empat hari perdagangan tersebut, IHSG ditutup melemah 8,69 persen ke level 5.594,765. Pada pekan sebelumnya, IHSG masih berada di posisi 6.127,381.

Koreksi indeks juga ikut menekan kapitalisasi pasar BEI. Nilainya turun 8,59 persen menjadi Rp9.807 triliun dari Rp10.729 triliun pada pekan sebelumnya, sekaligus keluar dari level psikologis Rp10.000 triliun.

Nilai Transaksi BEI Turun saat Frekuensi Naik

Meski nilai transaksi BEI turun dan IHSG terkoreksi tajam, data perdagangan BEI menunjukkan aktivitas pasar tidak sepenuhnya sepi. Sejumlah indikator perdagangan justru bergerak meningkat.

BEI mencatat rata-rata frekuensi transaksi harian naik 14,11 persen menjadi 2,41 juta kali transaksi. Pada pekan sebelumnya, frekuensi transaksi harian berada di 2,11 juta kali transaksi.

Rata-rata volume transaksi harian juga meningkat 8,66 persen menjadi 33,63 miliar saham. Angka itu naik dari posisi pekan sebelumnya yang sebanyak 30,95 miliar saham.

Kombinasi data tersebut menunjukkan pergerakan campuran di pasar saham. Di satu sisi, nilai transaksi BEI melemah karena harga saham turun. Di sisi lain, jumlah saham yang berpindah tangan dan frekuensi transaksi justru meningkat.

Tekanan pasar juga terlihat dari arus dana investor asing. BEI mencatat investor asing membukukan jual bersih atau net sell sebesar Rp3,73 triliun pada perdagangan Jumat, 5 Juni 2026.

Jika dihitung sepanjang tahun 2026, total net sell investor asing telah mencapai Rp61,36 triliun. Aliran keluar dana asing tersebut membayangi pasar saham domestik di tengah koreksi IHSG.

DPR Soroti Tekanan IHSG dan Rupiah

Sementara itu, anggota Komisi XI DPR Amin Ak menyoroti tren negatif IHSG dan pelemahan rupiah yang menembus Rp18.000 per dolar AS. Ia menilai kondisi tersebut menjadi sinyal yang perlu dicermati pemerintah.

“IHSG yang terkoreksi tajam dalam beberapa hari terakhir dan pelemahan rupiah hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar AS merupakan sinyal yang perlu dicermati secara serius,” kata Amin Ak dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu, 6 Juni 2026.

Baca Juga: Defisit APBN 2026 Capai Rp180 Triliun hingga Mei

Amin mengatakan tekanan global seperti ketegangan geopolitik, penguatan dolar AS, dan volatilitas pasar internasional ikut memengaruhi pasar keuangan Indonesia. Namun, ia menilai pemerintah tetap perlu memperkuat faktor domestik yang dapat menjaga optimisme investor.

“Pemerintah tidak boleh menganggap ini sebagai gejolak biasa, tetapi harus membaca secara utuh pesan yang sedang disampaikan pasar,” ujar Amin.

OJK Klaim Minat Masih Tinggi

Kendati IHSG sedang tertekan dan penurunan nilai transaksi BEI telah terjadi, minat perusahaan untuk menghimpun dana melalui pasar modal masih tinggi. OJK mencatat terdapat 75 rencana penawaran umum dalam pipeline dengan nilai indikatif Rp64,26 triliun.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan nilai fundraising korporasi di pasar modal mencapai Rp68,18 triliun secara year-to-date hingga akhir Mei 2026.

“Hingga akhir Mei 2026 secara year-to-date, nilai fundraising oleh korporasi di pasar modal telah mencapai angka Rp68,18 triliun, serta terdapat 75 rencana penawaran umum di dalam pipeline dengan nilai indikatif sebesar Rp64,26 triliun,” kata Hasan dalam Konferensi Pers RDKB Mei 2026.

Hasan menyebut pasar modal domestik masih menjalankan peran penting sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi dunia usaha dan pemerintah. Menurut dia, banyaknya perusahaan yang bersiap masuk pasar modal menjadi sinyal positif di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi.

Sepanjang Mei 2026, IHSG ditutup di level 6.127,38. Hasan mengatakan posisi tersebut mencerminkan koreksi 11,92 persen secara bulanan dan turun 29,14 persen sejak awal tahun.

Nilai transaksi BEI pada awal Juni 2026 tetap menjadi sorotan karena bergerak berbeda dari frekuensi dan volume perdagangan. Saat rata-rata nilai transaksi BEI untuk harian turun ke Rp26,97 triliun, frekuensi transaksi naik menjadi 2,41 juta kali dan volume perdagangan naik menjadi 33,63 miliar saham. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya