FinanSaya.com – Seorang pria dengan nama samaran Noah Doe dilaporkan mengajukan gugatan aneh di Mahkamah Agung New York.
Targetnya bukan aset biasa. Ia mengklaim kepemilikan atas puluhan ribu alamat Bitcoin yang tidak aktif selama bertahun-tahun.
Menurut laporan Galaxy Research, gugatan tersebut menargetkan lebih dari 3,7 juta BTC yang tersebar di 39.069 alamat Bitcoin dormant. Nilainya disebut berada di kisaran 274 miliar dolar AS hingga 285 miliar dolar AS.
Beberapa alamat dalam daftar bahkan dikaitkan dengan Satoshi Nakamoto dan wallet 1Feex yang terkait kasus peretasan Mt. Gox.
Klaim Tanpa Private Key
Bagian paling tidak biasa dari perkara ini adalah cara Noah Doe mengajukan klaim.
Ia tidak memiliki private key. Ia juga tidak disebut meretas wallet mana pun. Dalam ekosistem Bitcoin, ini langsung menjadi masalah besar karena akses dan kepemilikan aset kripto biasanya ditentukan oleh private key.
Namun, Noah Doe mencoba jalur lain.
Ia menggunakan aturan properti hilang di New York untuk menyatakan bahwa wallet Bitcoin yang tidak aktif selama bertahun-tahun dapat diperlakukan sebagai aset terbengkalai. Strategi ini membuat gugatan aneh tersebut langsung memancing perdebatan di komunitas kripto.
Dalam dokumen yang beredar, Noah Doe mengklaim telah mengidentifikasi ribuan wallet Bitcoin yang tidak bergerak selama lebih dari lima tahun.
Alamat-alamat itu kemudian disimpan dalam USB dan dilaporkan sebagai found property ke NYPD.
Bitcoin Dormant Dianggap Barang Hilang
Noah Doe disebut membawa gugatan aneh ini ke pengadilan setelah tidak ada pihak yang mengklaim aset tersebut dalam periode tertentu.
Logikanya mengikuti hukum barang hilang. Jika sebuah barang ditemukan, dilaporkan, lalu tidak diklaim pemiliknya, penemu dapat mengajukan klaim kepemilikan.
Namun ketika logika itu dibawa ke Bitcoin, masalahnya menjadi jauh lebih rumit.
Wallet yang tidak aktif tidak otomatis berarti ditinggalkan. Banyak investor memang sengaja menyimpan Bitcoin selama bertahun-tahun tanpa memindahkannya.
Dalam budaya kripto, strategi ini dikenal sebagai HODL.
Karena itu, gugatan aneh ini dianggap bertabrakan dengan cara komunitas Bitcoin memahami kepemilikan digital. Diamnya sebuah wallet bukan bukti bahwa pemiliknya sudah melepas hak.
Satoshi Nakamoto Ikut Terseret
Bagian yang membuat gugatan aneh ini semakin kontroversial adalah masuknya alamat-alamat yang diduga terkait Satoshi Nakamoto.
Satoshi adalah sosok atau kelompok anonim yang menciptakan Bitcoin. Banyak alamat awal Bitcoin tidak pernah bergerak selama bertahun-tahun, dan sebagian di antaranya sering dikaitkan dengan Satoshi.
Jika alamat seperti itu ikut masuk dalam daftar klaim, dampaknya bisa sangat sensitif.
Bukan hanya soal nilai aset yang sangat besar, tetapi juga sejarah Bitcoin itu sendiri.
Gugatan ini seolah mencoba membuka pertanyaan besar: apakah aset digital yang tidak bergerak bisa dianggap ditinggalkan secara hukum, meskipun secara teknis masih terkunci oleh private key?
Bagi banyak orang di komunitas Bitcoin, jawabannya jelas tidak.

Wallet 1Feex Tambah Rumit
Selain alamat yang dikaitkan dengan Satoshi, wallet 1Feex juga menjadi sorotan.
Alamat ini disebut menyimpan sekitar 80.000 BTC dan telah lama dikaitkan dengan dana curian dari Mt. Gox. Jika benar masuk dalam gugatan Noah Doe, persoalannya tidak lagi sekadar dormant wallet.
Ada riwayat peretasan, klaim korban, dan sejarah hukum yang kompleks.
Dalam konteks ini, gugatan aneh tersebut berpotensi berhadapan dengan banyak lapisan sengketa. Siapa pemilik sahnya? Apakah aset hasil kejahatan bisa diklaim sebagai barang hilang? Bagaimana jika ada korban lama yang masih punya hak?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat perkara ini jauh dari sederhana.
Baca Juga: Kampanye Anti-Kripto Makin Panas di Kongres AS
Quantum Computing Jadi Spekulasi
Motif lain yang ikut dibahas adalah kemungkinan keterkaitan dengan quantum computing.
Salah satu Crypto Twitter bernama Evan Luthra, menilai strategi Noah Doe bisa dibaca sebagai taruhan besar terhadap perkembangan teknologi kuantum. Idenya, Noah Doe mungkin tidak bisa membuka wallet hari ini karena tidak memiliki private key.
Namun jika suatu hari quantum computing mampu memecahkan format kriptografi lama, legal title yang diperoleh lebih dulu bisa menjadi senjata klaim.
Dengan kata lain, ia mencoba mendapatkan pengakuan hukum sebelum akses teknis menjadi mungkin.
Namun skenario ini masih sangat spekulatif.
Belum ada kepastian bahwa pengadilan akan menerima argumen seperti itu. Belum ada juga kepastian bahwa quantum computing akan mampu membuka wallet Bitcoin lama dalam cara yang praktis dan legal.
Komunitas Bitcoin Menolak Keras
Komunitas Bitcoin merespons keras gugatan aneh seperti ini.
Alasannya sederhana. Dalam Bitcoin, siapa yang memegang private key, dialah yang bisa mengendalikan aset. Prinsip ini menjadi fondasi kepemilikan kripto.
Jika wallet dormant bisa diklaim hanya karena tidak aktif, maka banyak holder jangka panjang bisa merasa tidak aman.
Padahal tidak sedikit investor sengaja tidak memindahkan Bitcoin selama bertahun-tahun untuk menjaga aset, menghindari trading berlebihan, atau menyimpan dana dalam jangka panjang.
Bagi komunitas, gugatan aneh Noah Doe berisiko merusak prinsip dasar itu.
Tidak aktif bukan berarti hilang. Tidak bergerak bukan berarti ditinggalkan. Tidak ada transaksi bukan berarti pemiliknya menyerahkan hak.
Dampaknya Bisa Besar
Jika pengadilan menerima gugatan aneh ini, dampaknya bisa menjalar luas.
Konsep kepemilikan aset digital bisa ikut diperdebatkan ulang. Investor yang menyimpan kripto jangka panjang dapat mempertanyakan posisi hukum wallet dormant mereka.
Status HODL juga bisa ikut terseret.
Dalam sistem tradisional, aset fisik bisa dianggap hilang atau terbengkalai dalam kondisi tertentu. Namun Bitcoin bekerja dengan logika yang berbeda. Aset tidak berada di laci, gudang, atau rekening bank biasa. Ia berada di jaringan blockchain dan hanya bisa dikendalikan dengan kunci kriptografi. (Sol)




