Utang RI dalam Yuan Naik 54 Persen, Apa Artinya?

|

10 Views
Utang RI dalam Yuan Naik 54 Persen, Apa Artinya?

FinanSaya.com – Posisi utang RI dalam Yuan meningkat tajam dalam setahun terakhir. Berdasarkan Statistik Utang Luar Negeri Indonesia edisi Agustus 2026, ULN Indonesia berdenominasi yuan China atau renminbi mencapai ekuivalen US$17,837 miliar pada Juni 2026.

Nilai tersebut naik sekitar 53,6 persen dibandingkan Juni 2025 yang sebesar US$11,611 miliar.

Dengan kenaikan itu, utang RI dalam yuan bertambah sekitar US$6,226 miliar dalam satu tahun.

Kenaikan juga terlihat jika dibandingkan dengan akhir 2024. Pada Desember 2024, ULN berdenominasi CNY tercatat US$9,813 miliar. Artinya, dalam sekitar satu setengah tahun, nilainya meningkat sekitar 81,8 persen.

Utang RI dalam Yuan Naik Tajam

Secara bulanan, kenaikan utang RI dalam yuan pada Juni 2026 lebih terbatas. Pada Mei 2026, posisinya tercatat US$17,649 miliar.

Sebulan kemudian, nilainya naik menjadi US$17,837 miliar. Kenaikan bulanan tersebut sekitar US$188 juta atau 1,1 persen.

Meski kenaikan bulanan tidak sebesar kenaikan tahunan, posisi Juni 2026 tetap menjadi perhatian karena menandai perubahan komposisi mata uang dalam ULN Indonesia.

Yuan kini menjadi salah satu denominasi besar dalam struktur utang luar negeri nasional, meskipun porsinya masih jauh di bawah dolar AS.

Yuan Pertama Kali Salip Yen

Perubahan paling mencolok terjadi pada perbandingan dengan yen Jepang. Pada Juni 2026, ULN Indonesia dalam yen tercatat ekuivalen US$17,746 miliar.

Angka itu sedikit di bawah utang RI dalam Yuan yang mencapai US$17,837 miliar.

Dengan posisi tersebut, utang berdenominasi yuan untuk pertama kalinya dalam rangkaian data SULNI yang ditampilkan sejak 2013 melampaui ULN Indonesia dalam yen Jepang.

Padahal pada Mei 2026, ULN dalam yen masih lebih tinggi. Saat itu, posisi yen mencapai US$18,100 miliar, sedangkan yuan berada di US$17,649 miliar.

Perubahan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan utang dalam yuan berlangsung lebih cepat dibandingkan yen dalam beberapa tahun terakhir.

Perubahan Besar sejak 2013

Jika ditarik lebih jauh, perubahan posisi yuan terlihat sangat besar. Pada 2013, ULN Indonesia dalam yuan baru setara US$476 juta.

Pada tahun yang sama, utang dalam yen Jepang mencapai US$29,962 miliar. Selisih keduanya masih sangat lebar.

Pada 2020, utang dalam yuan meningkat menjadi US$3,638 miliar. Sementara itu, ULN dalam yen masih berada di US$26,577 miliar.

Posisi yuan kemudian terus naik menjadi US$7,470 miliar pada 2023 dan US$9,813 miliar pada 2024.

Kenaikan berlanjut hingga mencapai US$17,837 miliar pada Juni 2026. Dalam periode yang sama, yen justru berada pada posisi US$17,746 miliar.

Baca Juga: ULN Bank Indonesia Melonjak 36 Persen dalam Sebulan

Dolar AS Tetap Mendominasi

Meski yuan naik pesat, dolar Amerika Serikat masih menjadi mata uang utama dalam ULN Indonesia.

Pada Juni 2026, posisi ULN berdenominasi dolar AS mencapai US$271,105 miliar. Nilai tersebut setara sekitar 59,8 persen dari total ULN Indonesia yang mencapai US$453,369 miliar.

Setelah dolar AS, denominasi besar lainnya adalah rupiah dengan ekuivalen US$93,526 miliar. Euro berada di posisi berikutnya dengan US$41,287 miliar.

Yuan berada di kisaran US$17,837 miliar, sedikit di atas yen Jepang yang tercatat US$17,746 miliar.

Dengan komposisi tersebut, kenaikan yuan belum mengubah dominasi dolar AS. Dolar tetap menjadi denominasi terbesar dalam utang luar negeri Indonesia.

Total ULN Indonesia US$453 Miliar

Secara keseluruhan, posisi ULN Indonesia pada triwulan II 2026 mencapai US$453,4 miliar. Angka tersebut tumbuh 4,4 persen secara tahunan.

Peningkatan total ULN didorong oleh pertumbuhan ULN publik, yang mencakup pemerintah dan bank sentral. Pada saat yang sama, ULN swasta masih mengalami kontraksi.

Posisi ULN pemerintah tercatat US$216,3 miliar. Sementara itu, ULN swasta sebesar US$194,6 miliar.

Bank Indonesia menyatakan struktur ULN Indonesia tetap sehat. Rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto tercatat 30,6 persen.

Selain itu, 82,1 persen dari total ULN merupakan utang jangka panjang.

Belum Cukup untuk Simpulkan Dedolarisasi

Kenaikan utang RI dalam Yuan memang signifikan. Namun, data SULNI tidak merinci faktor spesifik yang menyebabkan peningkatan tersebut.

Publikasi itu hanya menampilkan perkembangan posisi ULN berdasarkan denominasi mata uang. Data tersebut belum menunjukkan secara terperinci pihak peminjam, jenis instrumen, tujuan pembiayaan, atau struktur transaksi di balik kenaikan yuan.

Karena itu, peningkatan utang RI dalam yuan tidak serta-merta dapat diartikan sebagai perubahan kebijakan menuju dedolarisasi.

Untuk menyimpulkan arah kebijakan seperti itu, dibutuhkan data tambahan mengenai penerbitan surat utang, pinjaman bilateral, pembiayaan proyek, komposisi sektor peminjam, serta penggunaan mata uang dalam transaksi perdagangan atau investasi.

Dalam data Juni 2026, fakta yang dapat disimpulkan adalah posisi ULN berdenominasi CNY naik tajam dan untuk pertama kalinya melampaui yen Jepang dalam rangkaian SULNI sejak 2013.

Pada Juni 2026, utang RI dalam Yuan mencapai US$17,837 miliar, sedangkan ULN dalam yen Jepang tercatat US$17,746 miliar dan dolar AS tetap mendominasi dengan US$271,105 miliar. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya