Utang Luar Negeri BI Melonjak 65 Persen

|

3 Views
Utang Luar Negeri BI Melonjak 65 Persen

FinanSaya.com – Posisi utang luar negeri Bank Indonesia meningkat tajam dalam setahun terakhir meski secara bulanan mulai turun tipis.

Berdasarkan Statistik Utang Luar Negeri Indonesia atau SULNI edisi September 2026, ULN Bank Indonesia mencapai US$41,892 miliar pada Juli 2026.

Nilai tersebut melonjak 65,9 persen dibandingkan posisi Juli 2025 sebesar US$25,254 miliar.

Secara nominal, kewajiban luar negeri bank sentral bertambah sekitar US$16,638 miliar dalam satu tahun.

Meski tinggi secara tahunan, posisi Juli sedikit lebih rendah dibandingkan Juni 2026 yang mencapai US$42,459 miliar.

Utang Luar Negeri BI Naik Tajam

Secara bulanan, ULN Bank Indonesia turun sekitar 1,3 persen dari Juni ke Juli.

Namun, kenaikan terbesar justru terjadi sebulan sebelumnya.

Pada Mei 2026, posisi ULN Bank Indonesia masih berada di US$31,149 miliar. Angka tersebut melonjak menjadi US$42,459 miliar pada Juni.

Kenaikannya mencapai sekitar 36,3 persen hanya dalam satu bulan.

Pergerakan tersebut membuat posisi ULN bank sentral pada pertengahan 2026 jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Porsi BI Capai 9,2 Persen

Kenaikan utang luar negeri Bank Indonesia ikut mendorong besarnya posisi utang luar negeri sektor publik.

Pada Juli 2026, gabungan ULN pemerintah dan bank sentral tercatat US$260,283 miliar.

Dari angka tersebut, ULN pemerintah mencapai US$218,391 miliar, sedangkan Bank Indonesia US$41,892 miliar.

Dengan demikian, ULN Bank Indonesia setara sekitar 16,1 persen dari gabungan kewajiban pemerintah dan bank sentral.

Jika dibandingkan dengan total utang luar negeri Indonesia sebesar US$454,760 miliar, porsi Bank Indonesia berada di kisaran 9,2 persen.

Bukan Berasal dari Pinjaman

Komposisi ULN Bank Indonesia menarik karena kenaikannya tidak berasal dari pinjaman konvensional.

Data SULNI menunjukkan posisi pinjaman Bank Indonesia pada Juli 2026 tercatat nihil.

Sebaliknya, kewajiban bank sentral berasal dari tiga kelompok utama.

Surat utang Bank Indonesia tercatat sebesar US$15,897 miliar.

Kas dan simpanan mencapai US$17,238 miliar.

Sementara alokasi Special Drawing Rights atau SDR mencapai US$8,757 miliar.

Jika dijumlahkan, ketiga komponen tersebut membentuk hampir seluruh posisi ULN Bank Indonesia pada Juli 2026.

Kewajiban ke Nonresiden

Dalam metodologi SULNI, ULN bank sentral merupakan kewajiban Bank Indonesia kepada pihak bukan penduduk atau nonresiden.

Komponennya tidak terbatas pada pinjaman luar negeri.

Kewajiban juga dapat berasal dari surat berharga Bank Indonesia yang dimiliki investor nonresiden, kas dan simpanan, alokasi SDR, serta kewajiban lainnya kepada pihak luar negeri.

Karena itu, kenaikan ULN Bank Indonesia tidak selalu dapat dibaca seperti kenaikan utang pemerintah akibat penarikan pinjaman baru.

Struktur instrumennya perlu dilihat untuk memahami sumber perubahannya.

Baca Juga: ULN Bank Indonesia Melonjak 36 Persen dalam Sebulan

Mayoritas Justru Berdenominasi Rupiah

Hal lain yang cukup mencolok adalah denominasi ULN Bank Indonesia.

Pada Juli 2026, kewajiban berdenominasi rupiah mencapai ekuivalen US$33,125 miliar.

Kewajiban dalam SDR sebesar US$8,757 miliar.

Sementara kewajiban berdenominasi dolar AS hanya sekitar US$9 juta.

Artinya, sebagian besar utang luar negeri Bank Indonesia bukan kewajiban yang berdenominasi dolar.

Hal ini penting karena istilah ULN mengacu pada kewajiban kepada nonresiden, bukan semata-mata pada mata uang yang digunakan.

Dengan kata lain, suatu kewajiban tetap dapat diklasifikasikan sebagai ULN meski instrumennya menggunakan rupiah, selama pemegang kewajibannya adalah pihak nonresiden.

Total ULN Indonesia US$454,76 Miliar

Secara nasional, total ULN Indonesia pada Juli 2026 tercatat US$454,760 miliar.

Posisinya relatif stabil dibandingkan Juni 2026 yang sebesar US$454,476 miliar.

Secara tahunan, ULN Indonesia tumbuh 4,9 persen.

Pertumbuhan terutama terjadi pada sektor publik.

Sebaliknya, ULN swasta justru mengalami kontraksi.

Posisi ULN swasta pada Juli 2026 tercatat US$194,477 miliar atau turun 1,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Utang Yuan Naik Sekitar 60 Persen

Data SULNI juga memperlihatkan lonjakan besar pada ULN yang berdenominasi yuan China atau renminbi.

Posisinya mencapai US$19,357 miliar pada Juli 2026.

Angka itu naik sekitar 60 persen dibandingkan Juli 2025 yang sebesar US$12,093 miliar.

Dari total tersebut, ULN pemerintah berdenominasi CNY mencapai US$3,138 miliar.

Sementara ULN swasta berdenominasi CNY mencapai US$16,219 miliar.

Namun, denominasi yuan tidak dapat langsung diartikan sebagai utang kepada kreditor China.

Klasifikasi berdasarkan mata uang berbeda dengan klasifikasi berdasarkan negara pemberi pinjaman atau pemegang instrumen.

Rasio ULN ke PDB 30,7 Persen

Bank Indonesia dan pemerintah dalam laporan SULNI menilai struktur ULN Indonesia masih terjaga.

Rasio utang luar negeri terhadap produk domestik bruto pada Juli 2026 tercatat 30,7 persen.

Komposisinya juga disebut masih didominasi utang jangka panjang.

Pemerintah dan Bank Indonesia menyatakan pemantauan terus diperkuat untuk menjaga struktur kewajiban luar negeri tetap sehat serta meminimalkan risiko terhadap perekonomian.

Pada Juli 2026, total ULN Indonesia tercatat US$454,760 miliar, sementara ULN Bank Indonesia mencapai US$41,892 miliar atau naik 65,9 persen secara tahunan, dengan komponen terbesar berupa kas dan simpanan senilai US$17,238 miliar. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya