Uang Kotor Bikin Otakmu Jadi Tolol

|

9 Views
Uang Kotor Bikin Otakmu Jadi Tolol

Opini oleh Solomon Tama

FinanSaya.com – Uang kotor tidak hanya merusak moral.

Ia juga bisa merusak cara berpikir. Pelan-pelan, uang yang didapat dari cara busuk membuat orang kehilangan kemampuan paling dasar, yakni membedakan mana yang benar, mana yang salah, mana yang wajar, dan mana yang sebenarnya menjijikkan.

Masalahnya, banyak orang tidak sadar saat ketololan itu mulai tumbuh.

Mereka merasa sedang cerdas. Merasa sedang realistis. Merasa sedang “paham cara dunia bekerja”. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya.

Uang kotor membuat orang menjadi bodoh karena ia membunuh rasa malu lebih dulu.

Uang Kotor Bikin Orang Salah Baca Dunia

Orang yang mulai menikmati uang kotor biasanya punya satu kalimat andalan.

“Semua orang juga begitu.”

Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi berbahaya. Ia membuat kebusukan terlihat normal. Seolah-olah jika banyak orang melakukan sesuatu yang salah, maka kesalahan itu otomatis menjadi benar.

Di sinilah kebodohan pertama muncul.

Orang berhenti memakai nurani dan mulai memakai kerumunan sebagai pembenaran.

Jika orang lain menjilat demi jabatan, ia ikut menjilat. Jika orang lain memeras bawahan, ia ikut memeras. Jika orang lain mengambil bagian yang bukan haknya, ia ikut mengambil.

Bukan karena tidak tahu salah.

Tetapi karena ia merasa salahnya menjadi kecil jika dilakukan ramai-ramai.

Uang Kotor Membuat Orang Merasa Pintar

Ini bagian paling menyedihkan.

Banyak penerima uang kotor justru merasa lebih pintar daripada orang jujur.

Mereka melihat orang yang menolak uang haram sebagai orang bodoh. Mereka menganggap orang yang hidup lurus sebagai manusia naif. Mereka menertawakan orang yang menjaga prinsip karena dianggap tidak tahu peluang.

Padahal, yang terjadi bukan kepintaran.

Itu hanya kelicikan.

Kepintaran menghasilkan nilai tanpa merusak orang lain. Kelicikan mengambil keuntungan dengan mengorbankan orang lain, lalu menyebutnya strategi.

Masalahnya, ketika kelicikan terlalu sering diberi hadiah, otak mulai salah menilai.

Yang jahat terasa cerdas. Yang jujur terasa bodoh.

Logika Rusak karena Uang Terus Masuk

Uang punya efek memabukkan.

Apalagi jika uang itu datang cepat, mudah, dan tanpa kerja yang benar. Orang mulai berpikir bahwa cara kotor itu efektif. Karena efektif, ia dianggap benar.

Ini logika yang rusak.

Sesuatu tidak otomatis benar hanya karena berhasil menghasilkan uang.

Menipu juga bisa menghasilkan uang. Memeras juga bisa menghasilkan uang. Menjilat juga bisa menghasilkan posisi. Mengkhianati juga bisa membuka jalan.

Namun keberhasilan kotor tetap bukan kebijaksanaan.

Itu hanya bukti bahwa seseorang mampu mengambil sesuatu dengan cara yang buruk.

Di sinilah uang kotor membuat orang bodoh: ia membuat hasil terlihat lebih penting daripada cara.

Nurani Mati, Tapi Merasa Tenang

Awalnya mungkin ada rasa bersalah.

Saat pertama kali menerima uang dari cara yang salah, hati masih gelisah. Ada rasa takut. Ada rasa malu. Ada suara kecil yang berkata, “Ini tidak benar.”

Namun jika terus diulang, suara itu melemah.

Orang mulai terbiasa. Yang dulu terasa salah sekarang terasa biasa. Yang dulu membuat malu sekarang menjadi sumber cerita bangga.

Karena ketika nurani mati, orang tidak langsung merasa jahat. Ia justru merasa tenang.

Padahal itu bukan ketenangan.

Itu mati rasa.

Orang tolol sering bukan orang yang tidak tahu apa-apa. Kadang, orang tolol adalah orang yang sudah tidak bisa merasakan bahwa dirinya sedang rusak.

Baca Juga: Ketika Uang Menjadi Tuhan bagi Seseorang

Uang Kotor Bikin Orang Remehkan Akibat

Orang yang mabuk uang kotor sering merasa akibat tidak akan datang.

Ia merasa aman karena belum ketahuan. Merasa kuat karena punya backing. Merasa dihormati karena punya uang. Merasa benar karena masih bisa tampil religius, dermawan, atau sopan di depan publik.

Masalahnya, akibat tidak selalu datang lewat hukuman langsung.

Kadang akibat datang lewat hilangnya kepercayaan. Lewat keluarga yang ikut terbiasa berbohong. Lewat anak yang meniru cara kotor. Lewat teman yang pelan-pelan menjauh. Lewat batin yang makin keras. Lewat hidup yang makin penuh curiga.

Uang kotor membuat orang bodoh karena ia mengira selama belum tertangkap, semuanya baik-baik saja.

Padahal, kerusakan sering bekerja diam-diam.

Bikin Takut Hidup Jujur

Setelah terlalu lama menikmati uang kotor, seseorang bisa takut hidup jujur.

Karena hidup jujur terasa lebih lambat. Lebih berat. Lebih sederhana. Tidak secepat jalan kotor yang biasa ia pakai.

Akhirnya, ia menjadi tergantung pada kebusukan.

Ia tidak lagi percaya bahwa hidup bersih bisa cukup. Ia tidak percaya kerja jujur bisa memberi martabat. Ia tidak percaya rezeki kecil bisa lebih tenang daripada uang besar yang busuk.

Di titik ini, ia benar-benar menjadi tolol.

Bukan karena tidak punya informasi, tetapi karena tidak punya keberanian kembali menjadi manusia yang wajar.

Ia memilih terus kotor karena sudah lupa cara hidup bersih.

Uang Kotor Membuat Orang Tidak Bisa Dinasehati

Orang yang sudah nyaman dengan uang kotor biasanya sulit dinasehati.

Setiap kritik dianggap iri. Setiap teguran dianggap sok suci. Setiap peringatan dianggap tidak realistis.

Ia tidak lagi bertanya, “Apakah saya salah?”

Ia hanya bertanya, “Siapa kamu berani menilai saya?”

Uang memberinya rasa kebal palsu.

Karena punya uang, ia merasa lebih tinggi. Karena bisa membeli banyak hal, ia merasa pendapatnya lebih benar. Karena orang-orang masih tersenyum kepadanya, ia mengira dirinya dihormati.

Padahal bisa saja orang hanya takut, butuh, atau berpura-pura.

Uang kotor membuat orang bodoh karena ia tidak bisa lagi membedakan hormat dan takut.

Uang Bersih Mungkin Lambat, Tapi Menjaga Akal Sehat

Uang bersih tidak selalu datang cepat.

Kadang jumlahnya kecil. Kadang prosesnya melelahkan. Kadang hasilnya tidak bisa dipamerkan.

Namun uang bersih menjaga sesuatu yang lebih mahal: akal sehat.

Dengan uang bersih, seseorang masih bisa tidur tanpa harus mengarang pembenaran. Masih bisa menatap orang lain tanpa rasa curiga. Masih bisa menasihati anak tanpa takut ditiru kebusukannya.

Uang bersih menjaga manusia tetap waras.

Sementara uang kotor sering membuat orang terlihat sukses dari luar, tetapi rusak dari dalam.

Ketololan Terbesar adalah Menyebut Busuk sebagai Strategi

Uang kotor bisa membuat orang menjadi bodoh karena ia mengubah kamus hidup.

Jahat disebut pintar. Menjilat disebut adaptif. Memeras disebut peluang. Menipu disebut strategi. Mengkhianati disebut langkah realistis.

Jika bahasa sudah rusak, pikiran ikut rusak.

Dan ketika pikiran rusak, manusia bisa melakukan hal buruk sambil merasa benar.

Itulah kebodohan paling berbahaya.

Bukan tidak tahu salah, tetapi tahu salah lalu mencari seribu alasan agar tetap terlihat benar.

Uang kotor mungkin bisa membeli kenyamanan. Namun ia juga bisa membeli kebodohan yang mahal, yakni kehilangan nurani, kehilangan rasa malu, kehilangan akal sehat, dan kehilangan kemampuan melihat diri sendiri dengan jujur. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya