Suku Bunga Naik Jadi Cara BI Selamatkan Rupiah

|

12 Views
Suku Bunga Naik Jadi Cara BI Selamatkan Rupiah

FinanSaya.com – Bank Indonesia akhirnya mengambil langkah besar dalam menyelamatkan rupaih, yakni suku bunga naik.

Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 19 sampai 20 Mei 2026, BI menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Deposit Facility juga naik menjadi 4,25 persen, sementara Lending Facility naik menjadi 6,00 persen. Data BI juga menunjukkan BI Rate per 20 Mei 2026 berada di level 5,25 persen, naik dari 4,75 persen pada April 2026.

Tekanan utama datang dari nilai tukar rupiah.

BI mencatat rupiah pada 19 Mei 2026 berada di level sekitar Rp17.700 per dolar AS, melemah dibanding akhir April 2026. Reuters juga melaporkan suku bunga naik lebih besar dari perkiraan untuk menahan pelemahan rupiah di tengah volatilitas global dan tekanan pasar.

Untuk diketahui, ketika rupiah melemah terlalu dalam, harga barang impor bisa naik. Bahan baku industri menjadi lebih mahal. Energi, pangan impor, komponen elektronik, dan barang modal bisa ikut tertekan.

Jika tekanan ini berlanjut, inflasi bisa naik dari jalur impor.

Gejolak Global Jadi Pemicu Suku Bunga Naik

Kondisi global membuat tekanan rupiah makin berat.

Perang di Timur Tengah, gangguan rantai pasok, dan lonjakan harga minyak dunia membuat investor global mencari aset yang dianggap lebih aman. Dalam situasi seperti ini, dolar AS dan obligasi Amerika Serikat biasanya menjadi tujuan utama.

Reuters mencatat kenaikan suku bunga naik yang dilakukan BI, diambil saat pelemahan rupiah dan volatilitas global yang berkaitan dengan konflik Timur Tengah. Inflasi Indonesia masih berada di target, tetapi BI mengambil langkah pre-emptive untuk menjaga stabilitas mata uang dan inflasi.

Kondisi ini membuat negara berkembang seperti Indonesia harus bersaing mempertahankan modal asing.

Jika imbal hasil aset domestik tidak menarik, dana bisa keluar. Jika dana keluar, rupiah makin tertekan.

Kenapa Suku Bunga Naik?

Kenaikan BI Rate bertujuan membuat aset rupiah lebih menarik.

Saat suku bunga naik, instrumen keuangan domestik seperti SBN dan SRBI bisa menawarkan imbal hasil lebih kompetitif. Harapannya, investor asing tetap mau menaruh dana di Indonesia.

Namun, ini bukan obat tanpa efek samping.

Suku bunga naik juga bisa membuat biaya pinjaman ikut naik. Kredit konsumsi, kredit usaha, pembiayaan properti, dan pinjaman korporasi bisa menjadi lebih mahal jika perbankan menyesuaikan bunga.

Di sinilah dilema BI terlihat jelas.

Menjaga rupiah butuh suku bunga naik. Namun menjaga pertumbuhan ekonomi butuh kredit tetap mengalir.

BI Juga Perkuat Intervensi

Kendati demikian, suku bunga naik bukan satu-satunya langkah.

BI menyatakan akan meningkatkan intensitas intervensi valuta asing melalui transaksi Non-Deliverable Forward di pasar luar negeri, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward di pasar domestik.

Tujuannya jelas, yakni menjaga agar pelemahan rupiah tidak bergerak liar.

Selain itu, BI juga memperkuat instrumen moneter pro-market seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI. Suku bunga SRBI tenor 6, 9, dan 12 bulan dinaikkan agar tetap menarik bagi investor portofolio asing.

Baca Juga: Suku Bunga Mandek di 4,75 Persen, Kabar Baik atau Buruk Buat Kamu?

Modal Asing Mulai Masuk

BI mencatat aliran modal asing pada triwulan II 2026 kembali masuk.

Hingga 18 Mei 2026, net inflows tercatat sekitar 5,5 miliar dolar AS, terutama ditopang aliran masuk ke SRBI dan Surat Berharga Negara.

Posisi SRBI pada 18 Mei 2026 tercatat Rp921,88 triliun. Dari jumlah itu, kepemilikan nonresiden mencapai Rp221,59 triliun atau 24,04 persen dari total outstanding.

Angka ini menunjukkan investor asing masih tertarik pada aset rupiah.

Namun, ketertarikan itu perlu terus dijaga. Jika pasar menilai kebijakan tidak konsisten, modal bisa keluar lagi dengan cepat.

Cadangan Devisa Masih Jadi Bantalan

BI juga mencatat cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2026 sebesar 146,2 miliar dolar AS.

Jumlah itu setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi ini masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Cadangan devisa menjadi bantalan penting saat rupiah tertekan.

Namun, bantalan ini tidak boleh dipakai sembarangan. Jika intervensi terlalu besar dan terlalu lama, cadangan devisa bisa terkuras.

Karena itu, BI menggabungkan beberapa strategi, yakni suku bunga naik, intervensi valas, memperkuat SRBI, dan menjaga komunikasi pasar.

Kredit Tetap Didorong

Meski suku bunga naik, BI menyatakan kebijakan makroprudensial tetap longgar.

Tujuannya agar kredit ke sektor riil tidak berhenti. Pada April 2026, kredit perbankan tumbuh 9,98 persen secara tahunan, naik dari Maret 2026 yang sebesar 9,49 persen.

BI memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 masih berada di kisaran 8 sampai 12 persen.

Namun, pelaku usaha tetap perlu berhati-hati.

Jika bunga kredit ikut naik, biaya ekspansi bisa bertambah. Konsumen juga bisa menunda pembelian besar seperti rumah, kendaraan, atau barang tahan lama. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya