FinanSaya.com – Bank Indonesia (BI) kemungkinan besar akan tetap menahan suku bunga acuan di angka 4,75 persen sepanjang tahun 2026. Sederhananya, suku bunga ini seperti “patokan” untuk bunga pinjaman di bank, jadi kalau ini tidak berubah, biasanya bunga kredit juga tidak banyak berubah.
Keputusan ini bukan tanpa alasan. Saat ini kondisi global sedang tidak stabil, terutama karena konflik di beberapa negara yang membuat harga energi naik. Dampaknya, harga barang bisa ikut naik juga.
Dari data terbaru, inflasi di Indonesia pada Maret 2026 sudah mencapai 3,48 persen. Angka ini sebenarnya sudah cukup dekat dengan batas atas target BI, yaitu 3,5 persen. Jadi, kalau BI menurunkan suku bunga, ada risiko harga-harga bisa naik lebih cepat.
Selain itu, nilai tukar rupiah juga sedang melemah, sekitar 3 persen sejak awal tahun. Kalau suku bunga diturunkan saat rupiah melemah, bisa membuat investor menarik uangnya keluar dari Indonesia, dan ini bisa bikin rupiah makin turun.
Menurut survei yang dilakukan oleh Reuters, sebagian besar ekonom melihat BI memang tidak punya banyak pilihan selain menahan suku bunga. Bahkan, lebih dari 60 persen memperkirakan tidak akan ada perubahan sampai akhir tahun.
Sebelumnya memang sempat ada harapan suku bunga bisa turun supaya ekonomi lebih cepat bergerak. Tapi karena kondisi global berubah, rencana itu ikut berubah juga.
Ke depan, BI kemungkinan akan lebih fokus menjaga harga tetap stabil dan rupiah tidak makin melemah. Kalau inflasi terus naik, bukan tidak mungkin suku bunga justru akan dinaikkan. (Sol)




