FinanSaya.com – Saat IHSG merah, lima saham melonjak ini justru melawan arus.
Pada perdagangan Rabu, 13 Mei 2026 pagi, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG dibuka melemah 94,96 poin atau sekitar 1,38 persen ke level 6.763,94.
Tekanan datang setelah pasar merespons rebalancing indeks MSCI.
Namun, masalahnya, tekanan pasar tidak bergerak satu arah. Di tengah koreksi indeks, sejumlah saham justru mencatat lonjakan tajam dan masuk daftar top gainers.
Lima saham melonjak tersebut, yakni:
1. Saham PT Mitra Energi Persada Tbk (KOPI) menjadi yang paling mencuri perhatian.
KOPI melonjak 24,56 persen ke level Rp284 dan menyentuh batas auto rejection atas atau ARA.
2. Saham PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) juga menguat tajam 22,09 persen ke level Rp1.990.
3. PT Saraswati Indoland Development Tbk (SWID) naik 20,37 persen ke Rp130.
4. Saham PT Sunson Textile Manufacture Tbk (SSTM) ikut melesat 19,13 persen ke Rp685.
5. PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) naik 17,77 persen ke level Rp3.380.
Kondisi ini menunjukkan masih ada saham yang diburu investor, meski indeks utama sedang tertekan.
Lima Saham Melonjak saat IHSG Tertekan MSCI
Tekanan IHSG muncul setelah MSCI melakukan penyesuaian komposisi indeks.
Dalam tinjauan kuartalan, sejumlah saham Indonesia dikeluarkan dari MSCI Indonesia Index. Perubahan ini membuat saham-saham yang terdampak ikut mengalami tekanan cukup dalam.
Di sinilah rebalancing MSCI menjadi perhatian.
Ketika sebuah saham keluar dari indeks global, investor institusi yang memakai MSCI sebagai acuan bisa menyesuaikan portofolio. Akibatnya, tekanan jual bisa muncul dalam jangka pendek.
Baca Juga: Rama Indonesia Resmi Ambil Alih Mayoritas DPUM
OJK Sebut Pasar Masih Wajar
Otoritas Jasa Keuangan atau OJK memastikan kondisi pasar masih berada dalam batas wajar.
Melansir dari detikfinance, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengatakan pelemahan IHSG hingga pukul 10.00 WIB masih tergolong terkendali.
“Penurunan indeks merupakan konsekuensi dari reaksi pasar terhadap rebalancing,” ungkap Hasan.

Namun, aktivitas perdagangan masih dinilai normal.
OJK juga menyebut saham-saham yang terdampak rebalancing tidak ada yang menyentuh batas auto rejection bawah atau ARB.
Artinya, tekanan memang terjadi. Tetapi belum sampai menunjukkan aksi jual ekstrem di pasar.
Belum Ada Sinyal Panic Selling
OJK mencatat frekuensi transaksi, volume perdagangan, dan nilai transaksi masih relatif normal dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Hasan juga menjelaskan terkait frekuensi dan volume serta nilai transaksi juga cukup baik. Ia berdalih, secara rata-rata tidak ada perbedaan, normal dibandingkan hari-hari sebelumnya.
“Jadi ini juga menunjukkan tidak adanya upaya panic selling atau reaksi satu arah berupa arus, katakanlah upaya menjual saham-saham tanpa diimbangi kekuatan pembelian,” pungkasnya.
Meski begitu, investor tetap perlu berhati-hati.
Lima saham melonjak di tengah koreksi bisa menarik perhatian, tetapi risikonya juga besar. Terutama jika kenaikan terjadi sangat cepat dan menyentuh ARA.
Untuk saat ini, pasar masih mencermati dampak lanjutan rebalancing MSCI, arah IHSG, serta respons investor asing. Di tengah tekanan indeks, lima saham melonjak menjadi sinyal bahwa sebagian pelaku pasar masih mencari peluang di luar saham-saham yang terdampak langsung oleh perubahan indeks global. (Sol)




