Presiden Indonesia dan Perancis Bahas Ekonomi Hijau

|

6 Views
Presiden Indonesia dan Perancis Bahas Ekonomi Hijau

FinanSaya.com – Presiden Indonesia dan Prancis kembali bertemu membahas arah kerjasama yang lebih luas. Dalam pertemuan di Istana Elysee, Paris, Kamis, 28 Mei 2026, presiden Indonesia dan Perancis kembali menegaskan arah baru kerja sama kedua negara. Hubungan itu tidak hanya bertumpu pada pertahanan, tetapi juga mulai menonjolkan ekonomi masa depan, terutama energi bersih.

Presiden Prabowo Subianto menyebut ada sejumlah isu strategis yang dibahas bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron. Mulai dari pertahanan, energi bersih, pendidikan, penelitian, hingga pelaksanaan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement atau IEU-CEPA.

“Hari ini saya kira akan membahas beberapa isu-isu penting. Kerja sama di bidang pertahanan, energi bersih, pendidikan, penelitian, dan pelaksanaan perjanjian Indonesia European Union CEPA. Kami terima kasih dukungan Presiden Macron untuk mempercepat perkembangan ini,” kata Prabowo, dikutip dari laman resmi Kementrian Sekretariat Negara Republik Indonesia.

Energi Bersih Jadi Agenda Penting

Isu energi bersih menjadi salah satu poin yang paling strategis dalam pertemuan presiden Indonesia dan Perancis.

Indonesia sedang berada dalam fase transisi menuju ekonomi rendah karbon. Proses ini membutuhkan investasi besar, teknologi baru, dan kerja sama dengan mitra internasional yang memiliki pengalaman dalam pembiayaan hijau.

Kebutuhannya luas. Indonesia perlu mempercepat pengembangan energi terbarukan, efisiensi energi, elektrifikasi transportasi, hingga dekarbonisasi industri. Semua itu membutuhkan modal, regulasi yang jelas, dan kemampuan teknologi yang tidak bisa dibangun dalam waktu singkat.

Prancis masuk dalam posisi penting karena menjadi salah satu negara utama di Uni Eropa.

Negara itu memiliki kepentingan besar dalam pengembangan teknologi hijau, transisi energi, pembiayaan berkelanjutan, dan proyek dekarbonisasi.

Prancis Bisa Jadi Pintu Eropa

Pertemuan presiden Indonesia dan Perancis juga dapat dibaca sebagai upaya memperkuat jembatan Indonesia dengan Eropa.

Melalui Prancis, Indonesia berpeluang menarik lebih banyak modal, teknologi, dan keahlian ke sektor energi bersih. Ini penting karena transisi energi bukan hanya soal mengganti pembangkit fosil dengan pembangkit hijau.

Ada rantai industri yang besar di belakangnya.

Mulai dari jaringan listrik, baterai, kendaraan listrik, mineral kritis, efisiensi energi, teknologi rendah karbon, sampai standar pembiayaan hijau.

Joint Vision 2050 Jadi Landasan

Arah kerja sama ini sebenarnya sudah terlihat sejak kunjungan Macron ke Indonesia pada Mei 2025.

Sekretariat Kabinet RI mencatat presiden Indonesia dan Prancis saat itu mengadopsi Joint Vision 2050 menuju 100 tahun hubungan diplomatik kedua negara.

Dokumen tersebut memperkuat hubungan Indonesia-Prancis di sejumlah sektor strategis, termasuk transisi energi, ketahanan pangan, maritim, pendidikan, dan hubungan ekonomi yang lebih seimbang.

Dengan latar itu, pertemuan presiden Indonesia dan Perancis di Paris menjadi kelanjutan dari agenda yang sudah dibangun sebelumnya.

Kerja sama energi bersih tidak muncul tiba-tiba. Hal ini menjadi bagian dari arah jangka panjang hubungan kedua negara.

Pertemuan di Presiden Indonesia dan Perancis di Istana Elysee, Paris.

Manfaat Ekonomi untuk Indonesia

Bagi Indonesia, energi bersih bukan hanya isu lingkungan.

Transisi energi juga menyangkut kepentingan ekonomi jangka panjang. Jika dikelola dengan baik, proyek energi bersih bisa membuka lapangan kerja baru, memperkuat industri teknologi hijau, dan menarik investasi asing langsung.

Bagi presiden Indonesia dan Perancis, sektor yang berpotensi terdorong cukup luas.

Pembangkit listrik energi terbarukan, infrastruktur jaringan listrik, baterai, kendaraan listrik, efisiensi energi, pengolahan mineral kritis, serta teknologi rendah karbon untuk industri bisa masuk dalam ruang kerja sama.

Dalam konteks ini, presiden Indonesia dan Perancis membawa agenda yang langsung berkaitan dengan arah ekonomi masa depan.

Indonesia memiliki sumber daya alam besar, pasar energi luas, dan kebutuhan elektrifikasi yang terus meningkat. Dengan dukungan teknologi dan pembiayaan, peluang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi hijau di kawasan Indo-Pasifik semakin terbuka.

Baca Juga: Analis Geopolitik Peringatkan Isu Destabilisasi Indonesia

IEU-CEPA Bisa Memperkuat Agenda

Percepatan IEU-CEPA juga menjadi bagian penting dalam pembicaraan Prabowo dan Macron.

Perjanjian ekonomi Indonesia-Uni Eropa tersebut tidak hanya membahas perdagangan barang dan jasa. Di dalamnya juga ada isu investasi, pembangunan berkelanjutan, dan standar ekonomi yang semakin berkaitan dengan lingkungan.

Karena itu, agenda presiden Indonesia dan Perancis tidak bisa dilepaskan dari hubungan Indonesia dengan Uni Eropa secara lebih luas.

Jika IEU-CEPA bergerak lebih cepat, kerja sama ekonomi dengan Eropa berpeluang semakin erat. Produk, investasi, dan proyek pembangunan berkelanjutan bisa mendapat jalur yang lebih jelas.

Jangan Hanya Jadi Pasar

Peluang kerja sama energi bersih juga membawa tantangan.

Indonesia perlu memastikan proyek energi bersih tidak hanya menjadi ruang masuk investor asing. Nilai tambah bagi ekonomi domestik harus menjadi bagian utama dari kerja sama.

Transfer teknologi, penggunaan tenaga kerja lokal, keterlibatan perusahaan nasional, dan penguatan industri dalam negeri perlu masuk dalam desain proyek.

Tanpa itu, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar bagi teknologi hijau dari luar negeri.

Pertemuan presiden Indonesia dan Perancis memberi peluang besar, tetapi hasil akhirnya tetap bergantung pada cara Indonesia menegosiasikan manfaat ekonomi jangka panjang.

Arah Baru Hubungan Indonesia-Prancis

Kerja sama pertahanan masih menjadi bagian penting hubungan kedua negara.

Namun kini, energi bersih, pendidikan, penelitian, dan IEU-CEPA menunjukkan bahwa hubungan Indonesia-Prancis mulai bergerak ke bidang yang lebih luas.

Pertemuan presiden Indonesia dan Perancis di Paris memberi sinyal bahwa kedua negara ingin membangun hubungan strategis yang lebih relevan dengan tantangan masa depan.

Bagi Indonesia, agenda ini bisa menjadi pintu masuk untuk mempercepat transisi energi. Bagi Prancis, Indonesia adalah mitra penting di kawasan Indo-Pasifik dengan pasar besar dan kebutuhan pembangunan hijau yang terus tumbuh.

Yang perlu dijaga adalah keseimbangan manfaat.

Kerja sama energi bersih akan bernilai lebih besar jika tidak hanya menghasilkan proyek, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, memperkuat industri nasional, dan membawa teknologi yang bisa dikuasai pelaku dalam negeri. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya