FinanSaya.com – Perusahaan Bitcoin Strategy kembali menjadi sorotan setelah Rosen Law Firm membuka penyelidikan atas dugaan klaim hukum sekuritas terhadap Strategy Inc. dan sejumlah efeknya. Penyelidikan itu mencakup saham biasa MSTR serta saham preferen STRF, STRC, STRK, dan STRD.
Dalam pengumuman yang dirilis 24 Juni 2026, Rosen Law Firm menyatakan penyelidikan dilakukan atas dugaan bahwa perusahaan Bitcoin Strategy Strategy mungkin menerbitkan informasi bisnis yang secara material menyesatkan kepada publik investor. Firma hukum itu juga menyebut sedang menyiapkan gugatan class action untuk pemulihan kerugian investor.
Rosen menyatakan investor yang membeli efek Strategy dapat berpotensi memperoleh kompensasi tanpa membayar biaya di muka melalui skema contingency fee. Namun, penyelidikan ini masih berada pada tahap awal dan belum berarti pengadilan telah memutuskan adanya pelanggaran.
Perusahaan Bitcoin Strategy merupakan perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai MicroStrategy, dan selama ini dikenal karena menjadikan Bitcoin sebagai bagian utama strategi neracanya. Perusahaan tersebut juga menerbitkan sejumlah instrumen saham preferen untuk mendukung strategi pendanaan dan eksposur terhadap Bitcoin.
Tekanan Saham Perusahaan Bitcoin Strategy
Mengutip dari bussineswire, tekanan hukum ini muncul ketika saham preferen STRC, atau Stretch, berada dalam tekanan. Sejumlah laporan pasar menyebut STRC diperdagangkan jauh di bawah nilai nominal US$100, sehingga memicu kekhawatiran terhadap struktur pendanaan dan beban dividen Strategy.
STRC sejak awal dirancang sebagai salah satu instrumen pendanaan untuk mendukung strategi akumulasi Bitcoin. Ketika harga instrumen ini turun jauh dari nilai nominal, imbal hasil efektif meningkat dan investor mulai menilai ulang risiko pembayaran dividen perusahaan.
Tekanan itu semakin diperhatikan setelah perusahaan Bitcoin Strategy menjual 32 Bitcoin antara 26 Mei dan 31 Mei 2026. Berdasarkan laporan yang mengutip pengajuan 8-K, penjualan tersebut bernilai sekitar US$2,5 juta dengan harga rata-rata US$77.135 per Bitcoin dan digunakan untuk mendanai distribusi saham preferen STRC.
Penjualan itu relatif kecil dibandingkan kepemilikan perusahaan Bitcoin Strategy yang masih lebih dari 843.000 BTC pada akhir Mei. Namun, langkah tersebut tetap menarik perhatian karena menjadi salah satu penjualan Bitcoin pertama yang diungkap perusahaan dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Strategy Borong 3.273 BTC di Tengah Market yang Masih Fluktuatif
STRC Jadi Pusat Kekhawatiran
Kekhawatiran investor tidak hanya berkaitan dengan penurunan harga STRC. Model bisnis Strategy juga bergantung pada kemampuan perusahaan mengakses pasar modal untuk mendanai pembelian Bitcoin dan memenuhi kewajiban instrumen preferen.
Barron’s melaporkan STRC sempat jatuh ke sekitar US$88 dan memberikan imbal hasil sekitar 13 persen. Laporan yang sama menyebut sekitar 80 persen STRC dimiliki investor ritel, sementara Strategy tidak memperoleh pendapatan dari Bitcoin untuk menopang dividen preferen tahunan yang besar.
Dalam situasi seperti itu, setiap pernyataan publik terkait STRC menjadi sensitif bagi investor. Itulah sebabnya penyelidikan Rosen Law Firm menjadi perhatian, karena fokusnya menyangkut dugaan informasi bisnis yang menyesatkan kepada publik investor, bukan sekadar penurunan harga pasar.
Bagi perusahaan Bitcoin Strategy, tekanan ini menambah daftar risiko yang harus dihadapi. Selain volatilitas Bitcoin, perusahaan juga menghadapi biaya modal, kewajiban dividen, potensi dilusi saham, serta sorotan hukum dari investor.
Jika gugatan class action benar-benar diajukan, proses hukum dapat memperpanjang tekanan terhadap sentimen pasar. Untuk saat ini, kasus tersebut masih berupa penyelidikan, sementara investor menunggu apakah Rosen Law Firm akan membawa klaim itu ke pengadilan.
Sekilas Tentang Rosen Law Firm
Rosen Law Firm merupakan firma hukum berbasis di New York yang berfokus pada perkara securities class action dan shareholder derivative litigation. Dalam profil resminya, Rosen menyebut telah memulihkan lebih dari US$1 miliar untuk investor, menangani lebih dari 100 keberhasilan perkara, dan memiliki pengalaman lebih dari 25 tahun dalam litigasi sekuritas.
Firma ini juga menyatakan pernah masuk empat besar firma securities class action secara nasional setiap tahun sejak 2013 berdasarkan pemeringkatan ISS Securities Class Action Services.
Dalam penjelasan resminya, securities class action adalah gugatan atas nama investor yang membeli atau menjual efek dalam periode tertentu dan dirugikan oleh pernyataan menyesatkan, penyimpangan akuntansi, atau risiko yang disembunyikan. (Sol)




