Pendapatan Parkir Tanjung Surabaya Anom Melonjak

|

4 Views
Pendapatan Parkir Tanjung Surabaya Anom Melonjak

FinanSaya.com – Pemerintah Kota Surabaya mencatat pendapatan parkir di Jalan Tanjung Anom meningkat tajam setelah pembayaran non-tunai diterapkan penuh dengan pengawasan langsung dari Dinas Perhubungan.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan hasil evaluasi pendapatan parkir di titik tersebut membuatnya terkejut. Setoran parkir yang biasanya sekitar Rp600 ribu pada Sabtu malam atau malam Minggu naik menjadi Rp2,6 juta dalam satu malam.

“Yang membuat saya semakin terkejut adalah hasilnya. Biasanya setoran parkir pada Sabtu malam atau malam Minggu hanya sekitar Rp600 ribu. Namun kali ini setoran mencapai Rp2,6 juta dalam satu malam,” kata Wali Kota Eri, Rabu (29/7/2026).

Kenaikan itu menjadi salah satu dasar Pemkot Surabaya memperluas pola pengawasan parkir digital ke titik lain.

Pendapatan Parkir Naik Setelah Non-Tunai

Evaluasi parkir bermula dari inspeksi Eri di kawasan Manyar, Dharmahusada, dan Dharmawangsa pada pekan sebelumnya. Dalam sidak tersebut, ia masih menemukan pembayaran parkir yang dilakukan secara tunai.

“Di depan mata saya sendiri, saya melihat pembayaran parkir masih dilakukan secara tunai. Saya tanya (juru parkir) kenapa masih tunai. Dia menjawab bahwa dirinya belum mendapatkan rompi karena masih ada di kantor,” ujarnya.

Temuan itu langsung ditindaklanjuti di lokasi. Eri memanggil jajaran Dishub Surabaya dan meminta pembenahan dilakukan mulai dari kelengkapan atribut petugas hingga penerapan pembayaran non-tunai.

“Saya kemudian memanggil Kepala Dinas Perhubungan beserta kepala bidangnya. Di lokasi saya perintahkan agar mereka bertindak tegas. Kalau ada anak buah yang bermain-main atau melakukan penyimpangan, segera dibenahi. Kalau terbukti melakukan pungutan liar (pungli), pecat,” tegasnya.

UPT Parkir Dievaluasi Total

Eri juga meminta evaluasi menyeluruh terhadap personel Unit Pelaksana Teknis Parkir. Ia menyebut petugas lama tidak boleh lagi bertugas di lokasi parkir setelah evaluasi dilakukan.

“Semua dipindahkan ke Satpol PP dan dicari personel baru. Tidak boleh ada satu pun petugas lama yang tetap bertugas di lokasi parkir,” katanya.

Sehari setelah evaluasi, Eri kembali meninjau sejumlah titik parkir. Menurutnya, perubahan pendapatan parkir mulai terlihat di lapangan.

Ia menyebut kendaraan tidak lagi menggunakan trotoar sebagai area parkir di depan kafe-kafe. Pembayaran non-tunai juga mulai dijalankan lebih konsisten.

“Saya sangat senang. Sebab seluruh area parkir di depan kafe-kafe tidak ada yang menggunakan trotoar. Masyarakat bisa berjalan dengan nyaman. Menurut saya, seperti itulah warga Surabaya,” ujarnya.

Dishub Ikut Jaga di Tanjung Anom

Di Jalan Tanjung Anom, juru parkir tetap dilibatkan dalam operasional. Namun, petugas Dishub ikut berjaga untuk memastikan pembayaran dilakukan secara non-tunai.

“Di Jalan Tanjung Anom memang tetap melibatkan juru parkir, tetapi petugas Dishub ikut berjaga untuk memastikan seluruh pembayaran dilakukan secara non-tunai,” katanya.

Baca Juga: Dishub: PAD Parkir Surabaya Naik 10 Persen

Model tersebut membuat transaksi lebih mudah dipantau. Pemkot Surabaya juga bisa melihat potensi pendapatan parkir berdasarkan data harian, bukan hanya laporan setoran yang diterima tanpa pengawasan langsung.

Eri menilai pola seperti ini perlu diterapkan di titik lain. Dengan pengawasan Dishub, potensi pendapatan parkir tiap lokasi dapat dihitung lebih akurat.

“Dishub harus menangani langsung seluruh titik parkir, tetapi juru parkir tetap diberdayakan di lokasi. Dengan cara itu potensi setiap titik parkir bisa diketahui, mulai dari Jalan Blauran, Embong Malang, Manyar, Dharmahusada, Dharmawangsa hingga lokasi-lokasi lainnya,” tuturnya.

Dokumentasi sosialisasi dan penerapan parkir digital di Jalan Tanjung Anom Surabaya. (Sumber: Humas Pemkot)

Uji Coba Seluruh Titik Parkir Sepekan

Selama masa uji coba, seluruh pendapatan parkir akan direkap setiap hari. Data itu akan menjadi bahan evaluasi sebelum pengelolaan dikembalikan kepada juru parkir.

“Karena itu saya meminta seluruh titik parkir ditangani langsung oleh Dishub selama satu minggu sebagai uji coba. Setelah itu bisa dikembalikan kepada juru parkir dengan catatan sistem pengawasannya tetap berjalan,” jelasnya.

Dengan skema ini, Pemkot Surabaya ingin memastikan juru parkir tetap diberdayakan, tetapi sistem pengawasannya tidak dilepas. Pembayaran non-tunai menjadi alat untuk membuat pengelolaan lebih transparan.

Eri juga meminta masyarakat aktif melapor jika menemukan juru parkir yang menolak pembayaran menggunakan voucher atau sistem non-tunai. Menurutnya, petugas Dishub harus segera turun dan mengganti juru parkir yang melanggar ketentuan.

“Bagi saya yang paling membahagiakan adalah evaluasi yang dilakukan Dishub tidak berhenti pada pembenahan, tetapi juga melahirkan inovasi,” katanya.

Warga Diminta Bayar Non-Tunai

Pemkot Surabaya mengajak masyarakat mendukung parkir digital dengan membiasakan pembayaran non-tunai. Eri menyebut sistem tersebut dijalankan untuk memenuhi keinginan warga dan memperkuat akuntabilitas pengelolaan parkir.

“Sebab sistem non-tunai ini saya jalankan sebagai amanah dari warga Surabaya dan sesuai dengan keinginan masyarakat. Karena itu saya mengajak seluruh warga Surabaya untuk membantu saya dengan membayar parkir secara non-tunai,” pungkasnya.

Dalam evaluasi terbaru, pendapatan parkir Jalan Tanjung Anom disebut naik dari sekitar Rp600 ribu menjadi Rp2,6 juta dalam satu malam setelah pembayaran non-tunai diawasi langsung oleh petugas Dishub. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya