Pemudi Mojokerto Rugi Rp28 Juta Gegara Saham Murah

|

18 Views
Pemudi Mojokerto Rugi Rp28 Juta Gegara Saham Murah

FinanSaya.com – Seorang pemudi Mojokerto dengan nama panggilan Sil membagikan pengalamannya saat berinvestasi saham.

Baru mengenal pasar modal sejak Oktober 2025, Sil kini menghadapi portofolio saham yang minus lebih dari Rp28 juta. Ia mengaku awalnya masuk ke dunia saham karena ingin belajar investasi dan mengembangkan pengetahuan keuangan.

“Saya tertarik masuk saham karena ingin belajar investasi dan mengembangkan pengetahuan keuangan. Selain itu, pengalaman pasangan saya yang pernah menjadi investor juga memberikan inspirasi dan dorongan bagi saya,” kata Sil saat menceritakan kisahnya pada tim FinanSaya, Kamis (4/6/2026).

Awalnya Coba Swing dan Day Trade

Sil memulai investasi saham dengan gaya swing trade atau day trade.

Namun, karena kesibukan, pemudi Mojokerto itu kemudian mengubah strategi menjadi investasi jangka panjang atau long term. Keputusan tersebut membuatnya kecolongan saat harga saham terus turun.

Floating loss yang awalnya dibiarkan dengan harapan harga bisa pulih justru semakin membesar.

“Saya memulai investasi saham awalnya itu swing atau day trade. Tapi karena kesibukan, saya memilih long term. Sempat kecolongan floating loss, saya biarkan, malah makin merosot sampai minus Rp28 juta lebih,” ungkapnya.

Saham Gorengan Jadi Sumber Kerugian Besar

Menurut Sil, kerugian terbesar dalam portofolionya berasal dari saham berharga murah yang ia sebut sebagai saham gorengan.

Pemudi mojokerto tersebut mengaku tertarik pada saham-saham murah karena melihat potensi keuntungan besar. Salah satu saham yang membuat portofolionya merosot berada di sektor properti.

Nilai saham itu turun lebih dari 83 persen. Sementara saham blue chip yang ia miliki hanya mencatat penurunan sekitar 9 persen.

“Lebih ke saham gorengan, karena saya suka saham harga murah. Untuk sahamnya di emiten properti penurunan lebih dari 83 persen. Kalau blue chip kebetulan minus 9 persen saja,” jelasnya.

Sempat Untung, Lalu Berbalik Turun

Keputusan membeli saham tidak sepenuhnya diambil sendiri.

Sil mengaku sempat mendapat rekomendasi dari teman dan pasangan. Meski begitu, ia juga sempat melakukan analisis sendiri dan bahkan memperoleh keuntungan besar pada awalnya.

Namun, kondisi pasar yang melemah membuat portofolionya berbalik turun. Pemudi mojokerto itu mengaku tidak menyangka IHSG bisa turun cukup dalam.

“Pertimbangan saya saat itu direkomendasikan teman, dan saya analisa memang sempat untung besar. Tapi karena long term, saya biarkan. Saya tidak tahu kalau IHSG bakal rontok seperti ini sampai 5.000-an,” ujarnya.

Baca Juga: Istilah Dasar dalam Saham Khusus untuk Pemula

Uang Dingin Bikin Lebih Tenang

Meski portofolionya minus puluhan juta rupiah, Sil mengaku masih bisa bersikap tenang.

Alasannya, dana yang digunakan untuk investasi merupakan uang dingin, bukan uang untuk kebutuhan harian. Karena itu, kerugian tersebut tidak langsung mengganggu kebutuhan sehari-hari.

“Wao, amazing. Saya tenang sih karena itu uang dingin. Tapi saya lebih bingung, kira-kira apakah IHSG bakal cepat rebound ke atas atau malah ke bawah,” tuturnya.

Sil juga mengatakan kerugian tersebut tidak berdampak langsung pada kebutuhan hidupnya. Namun, pemudi Mojokerto itu tetap merasa kecewa melihat kondisi pasar saham Indonesia yang menurutnya tertinggal dibandingkan indeks negara lain.

“Syukurlah tidak berdampak. Mungkin cukup kecewa saja sama pemerintah, karena harga indeks di negara lain bagus, tapi Indonesia saja turun,” katanya.

Mulai Evaluasi Cara Investasi

Floating loss besar membuat Sil mengevaluasi cara investasinya.

Ia kini lebih berhati-hati dalam memilih emiten, baik untuk trading jangka pendek maupun investasi jangka panjang. Sil juga menyadari pentingnya memperhatikan kualitas sekuritas, manajemen risiko, dan tidak mudah terbawa keinginan meraih keuntungan cepat.

“Mungkin iya, saya lebih memilih hati-hati emiten mana yang cocok buat long term ataupun day trade. Lebih pedulikan sekuritas saya dan tidak tamak,” ujarnya.

Bagi pemudi mojokerto tersebut, kerugian puluhan juta rupiah menjadi pelajaran mahal. Salah satu kesalahan yang harus dihindari investor pemula adalah sikap tamak saat melihat peluang keuntungan besar.

Tidak Kapok dengan Saham

Meski mengalami kerugian, Sil tidak sepenuhnya kapok dengan dunia saham.

Ia tetap memandang investasi saham sebagai sarana belajar mengelola keuangan, memahami cara kerja bisnis, dan membangun aset masa depan.

“Saya tertarik terjun ke dunia saham karena ingin belajar mengelola keuangan dan membangun aset untuk masa depan. Bagi saya, investasi saham bukan hanya tentang mencari keuntungan, tetapi juga tentang memahami cara kerja bisnis, ekonomi, dan pengambilan keputusan yang bijak,” pungkas pemudi Mojokerto tersebut. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya