Pemkot Minta Pagar Mal Surabaya Tak Terlalu Tinggi

|

4 Views
Pemkot Minta Pagar Mal Surabaya Tak Terlalu Tinggi

FinanSaya.com – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi berkoordinasi dengan sejumlah pengelola mal terkait pemasangan pagar di area pusat perbelanjaan. Pemkot Surabaya tidak meminta pagar dibongkar, tetapi mengingatkan agar ketinggiannya tidak berlebihan.

Menurut Eri, pagar mal Surabaya perlu tetap memperhatikan keamanan, kenyamanan, dan estetika kota. Ia tidak ingin pagar yang dipasang justru menimbulkan kesan seolah-olah Surabaya sedang tidak aman.

Koordinasi itu dilakukan setelah muncul perhatian masyarakat terhadap pagar di sejumlah mal. Eri menyebut hanya sebagian kecil mal yang memasang pagar dengan kondisi tersebut.

Pagar Mal Surabaya Jangan Timbulkan Kekhawatiran

Eri mengatakan pagar mal Surabaya tetap bisa dipasang sepanjang tidak membuat suasana kota terlihat tertutup atau menakutkan. Ia ingin area pejalan kaki tetap terang dan nyaman.

“Jadi insyaallah nanti kami koordinasikan, yang saya ingin ketika ada pagar itu ada, orang jalan itu semakin terang, tidak terlalu tinggi yang mencerminkan orang itu merasa takut gitu. Padahal kota Surabaya ini aman,” kata Wali Kota Eri, Senin (3/8/2026).

Eri menegaskan Pemkot Surabaya tidak mengambil langkah pembongkaran. Pemerintah kota hanya menyampaikan saran agar tinggi pagar mal Surabaya disesuaikan.

“Kenapa kami tidak menyampaikan itu (pembongkaran pagar mal Surabaya) karena tidak semua mal di Surabaya begitu. Hanya dua atau tiga mal saja,” tegasnya.

Dengan penyesuaian tersebut, pagar masih dapat berfungsi untuk pengaturan akses dan keselamatan, tetapi tidak mengurangi tampilan kota atau menciptakan kekhawatiran.

Bukan untuk Antisipasi Aksi Massa

Eri juga menepis anggapan bahwa pagar mal Surabaya dibuat untuk mengantisipasi aksi massa. Menurutnya, pagar tersebut lebih berkaitan dengan estetika dan keamanan pengunjung.

Ia menyebut pengelola mal memiliki alasan operasional dalam mengatur arus keluar masuk pengunjung. Salah satunya untuk mencegah pejalan kaki menyeberang sembarangan di jalan utama.

Contoh yang disampaikan Eri adalah kawasan Tunjungan Plaza di Jalan Basuki Rahmat. Di lokasi itu, pengunjung yang masuk dan keluar mal masih sering menyeberang langsung di badan jalan.

Menurut Eri, kebiasaan tersebut berbahaya bagi pejalan kaki maupun pengendara yang melintas. Pemkot Surabaya juga disebut sudah sering menegur warga yang menyeberang tidak pada tempatnya.

Pengunjung TP Diminta Gunakan JPO

Eri mengatakan sudah tersedia Jembatan Penyeberangan Orang atau JPO di kawasan tersebut. Karena itu, pengunjung diminta memanfaatkan fasilitas yang disediakan.

“Kalau orang menyeberang kan langsung di depan itu, jadi orang lompat menyeberangi. Kami juga sering tegur, agar orang tidak menyebrang di depan Tunjungan Plaza, karena sudah ada JPO (Jembatan Penyeberangan Orang). Mereka (pemilik mal) menyampaikan, diberi pagar sehingga bisa keluar ke kanan atau kiri dan bisa dipantau. Tapi saya bilang pagarnya jangan terlalu tinggi, dipikir nanti ada apa-apa atau rasa kekhawatiran, padahal tidak seperti itu,” papar Cak Eri.

Pagar tinggi yang dipasang di salah satu mal Surabaya (sumber: humas pemkot).

Dalam konteks tersebut, pagar mal Surabaya diposisikan sebagai alat pengatur arus pejalan kaki. Namun, pemkot tetap meminta desain dan ketinggiannya tidak menimbulkan persepsi negatif.

Eri ingin fungsi keamanan tetap berjalan tanpa menghilangkan rasa nyaman di ruang kota. Karena itu, komunikasi dengan pengelola mal menjadi penting agar penataan tidak berjalan sepihak.

Baca Juga: Praktik Pungutan Liar di Tugu Pahlawan Ditindak Pemkot

Barrier Beton Dipasang di Basuki Rahmat

Sebelumnya, Pemkot Surabaya melalui Dinas Perhubungan juga memasang barrier atau pembatas beton di Jalan Basuki Rahmat. Pemasangan ini bertujuan mencegah pejalan kaki langsung menyeberang sembarangan.

Eri mengatakan barrier beton dipilih untuk memberi rasa aman bagi pengendara. Jika memakai barrier plastik, pembatas tersebut mudah bergeser dan dapat membahayakan pengguna jalan.

Ia menilai fasilitas umum yang sudah disediakan harus digunakan sesuai fungsinya. JPO disediakan untuk pejalan kaki, sementara barrier dipasang agar arus lalu lintas lebih tertib.

Dengan demikian, penataan kawasan mal tidak hanya menyangkut pagar. Pemkot juga mengatur perilaku pengguna jalan, arus pejalan kaki, dan keselamatan pengendara.

Warga Diminta Jaga Fasilitas Umum

Eri mengajak warga dan pengguna jalan ikut menjaga fasilitas umum. Ia mengingatkan agar rambu larangan parkir, barrier, dan jalur yang sudah ditutup tidak dilanggar.

“Makanya kalau dilihat dahulu (barrier plastik) itu kan miring-miring nggak karuan. Maka ayo saling menjaga Surabaya dan saya berharap dijaga lah, kalau ada tanda larangan parkir jangan parkir (sembarangan), kalau sudah ditutup barrier jangan belok memotong jalan, agar apa? Nggak ada kecelakaan,” tandasnya.

Pemkot Surabaya menempatkan penataan pagar mal Surabaya sebagai bagian dari upaya menjaga rasa aman, estetika kota, dan keselamatan pejalan kaki.

Dalam penjelasan Eri, koordinasi dilakukan kepada pengelola mal Surabaya agar pagar tidak terlalu tinggi, sementara barrier beton di Jalan Basuki Rahmat tetap diarahkan untuk mencegah penyeberangan sembarangan dan mengurangi risiko kecelakaan. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya