Pelemahan Rupiah Terhadap Dolar Makin Jadi, Ini Kata Menkeu

|

7 Views
Pelemahan Rupiah Terhadap Dolar Makin Jadi, Ini Kata Menkeu

FinanSaya.com – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat. Data terbaru Bank Indonesia menunjukkan 1 dolar AS setara Rp17.832,35 pada 27 Mei 2026 pukul 17.45 WIB. Angka ini menjadi perhatian karena pelemahan rupiah terhadap dolar bergerak di level yang cukup tinggi.

Di tengah tekanan kurs tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa justru menegaskan pemerintah belum melihat adanya gangguan serius terhadap ketahanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN.

Purbaya menyebut pemerintah sudah memperhitungkan berbagai skenario ekonomi, termasuk saat harga minyak dunia mencapai 100 dolar AS per barel.

“Kami sudah hitung. Pada waktu simulasi harga minyak dunia mencapai 100 dolar AS per barel itu, asumsi rupiahnya juga sudah kami perhitungkan. Jadi enggak ada masalah,” kata Purbaya, Rabu, 27 Mei 2026, dikutip dari ketik.com.

Dolar Tembus Rp17.832

Kurs terbaru menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut.

Pada posisi Rp17.832,35 per dolar AS, masyarakat dan pelaku pasar tentu melihat pelemahan rupiah terhadap dolar sebagai sinyal yang perlu dicermati. Ketika dolar naik, biaya untuk membeli barang atau kebutuhan berbasis dolar ikut menjadi lebih mahal.

Dampaknya bisa berbeda bagi setiap pihak.

Importir bisa menghadapi biaya lebih besar. Pelaku usaha dengan bahan baku impor harus lebih hati-hati menghitung margin. Sementara masyarakat yang punya kebutuhan dolar, seperti pendidikan luar negeri atau perjalanan, perlu menyiapkan rupiah lebih banyak.

Namun dari sisi pemerintah, tekanan kurs saat ini belum dianggap cukup untuk mengubah postur APBN.

APBN Belum Dihitung Ulang

Purbaya memastikan pelemahan rupiah terhadap dolar belum membuat pemerintah perlu melakukan perhitungan ulang terhadap APBN.

“Saya enggak harus hitung ulang APBN-nya,” ujarnya.

Purbaya juga menilai pelemahan rupiah terhadap dolar saat ini tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi fundamental ekonomi nasional.

Ia menyebut fundamental ekonomi Indonesia masih dalam kondisi baik.

“Ini enggak masuk akal sebenarnya. Biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental,” ujar dia.

Sebagai informasi, sentimen global, arah suku bunga, permintaan dolar, harga komoditas, aliran modal asing, dan persepsi risiko terhadap negara berkembang bisa ikut menekan mata uang domestik.

Bond Yield Justru Turun

Namun, ada hal menarik di tengah pelemahan rupiah terhadap dolar.

Menurut Purbaya, imbal hasil obligasi atau bond yield justru turun. Kondisi ini terjadi karena pemerintah melakukan langkah stabilisasi di pasar Surat Berharga Negara atau SBN.

Ia menjelaskan, jajaran Direktorat Jenderal Perbendaharaan melakukan pembelian SBN agar yield obligasi tetap terkendali.

“Tapi gini, walaupun rupiah melemah, kan bond yield-nya turun. Karena aksi dari pemerintah, aksi dari teman-teman kita di Direktorat Jenderal Perbendaharaan, untuk sedikit membeli, supaya yield-nya agak terkendali,” pungkasnya.

Bagi pasar, yield SBN menjadi salah satu indikator penting.

Jika yield naik terlalu tajam, biaya pembiayaan pemerintah bisa ikut meningkat. Karena itu, stabilisasi di pasar SBN menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan investor.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Minta Pemain Valas Cepat Jual Dolar

Pemerintah Menahan Tekanan Pasar

Langkah pembelian SBN menunjukkan pemerintah tidak hanya memantau kurs, tetapi juga menjaga pasar surat utang.

Saat pelemahan rupiah terhadap dolar terjadi, tekanan bisa merembet ke instrumen lain. Investor bisa meminta imbal hasil lebih tinggi karena melihat risiko nilai tukar meningkat.

Dengan pembelian SBN, pemerintah berupaya menjaga agar yield tidak bergerak terlalu liar.

Strategi ini penting karena APBN tidak hanya sensitif terhadap kurs. APBN juga sensitif terhadap biaya pembiayaan. Jika yield obligasi naik terlalu tinggi, beban pembiayaan negara bisa ikut bertambah.

Simulasi Minyak Jadi Bantalan

Salah satu poin yang ditekankan Purbaya adalah simulasi harga minyak dunia.

Pemerintah sudah memasukkan skenario harga minyak 100 dolar AS per barel sekaligus asumsi nilai tukar rupiah dalam perhitungan ekonomi.

Kombinasi harga minyak tinggi dan pelemahan rupiah terhadap dolar memang bisa menjadi tekanan bagi APBN. Sebab, harga energi, subsidi, kompensasi, dan kebutuhan impor bisa ikut terdampak.

Namun Purbaya menyebut skenario tersebut sudah dihitung.

Karena itu, pemerintah belum melihat alasan untuk menghitung ulang APBN hanya karena rupiah kembali melemah.

Dampak ke Masyarakat Tetap Perlu Dicermati

Meski pemerintah menyebut APBN masih aman, dampak kurs tetap bisa terasa di masyarakat.

Pelemahan rupiah terhadap dolar dapat memengaruhi harga barang impor, produk elektronik, bahan baku industri, biaya logistik tertentu, hingga kebutuhan pendidikan dan perjalanan luar negeri.

Bagi pelaku usaha, tekanan kurs bisa membuat strategi harga perlu disesuaikan.

Bagi masyarakat, kondisi ini menjadi pengingat agar lebih hati-hati mengatur kebutuhan berbasis dolar. Jika ada rencana membayar sekolah luar negeri, membeli barang impor, atau menukar valas, pergerakan kurs perlu dipantau lebih sering.

Kurs tinggi juga bisa menjadi peluang bagi pemilik dolar, tetapi tetap perlu keputusan yang rasional. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya