FinanSaya.com – Singapura masih menjadi negara kreditur terbesar Indonesia pada Mei 2026. Berdasarkan Statistik Utang Luar Negeri Indonesia edisi Juli 2026, posisi utang luar negeri dari kreditur berdomisili di Singapura mencapai US$52,51 miliar.
Nilai tersebut setara sekitar 25 persen dari total utang Indonesia yang dikelompokkan berdasarkan negara pemberi pinjaman. Secara keseluruhan, posisi utang luar negeri berdasarkan negara kreditur mencapai US$209,76 miliar pada Mei 2026.
Jumlah itu meningkat sekitar 1,2 persen dibandingkan Mei 2025 yang sebesar US$207,26 miliar. Meski totalnya naik, pergerakan tiap negara tidak seragam.
Negara kreditur Singapura tetap berada di posisi pertama, tetapi nilainya turun secara tahunan. Pada Mei 2025, posisi utang dari kreditur berdomisili di Singapura masih sebesar US$58,13 miliar. Dengan demikian, posisi Mei 2026 turun sekitar 9,7 persen secara tahunan.
Negara Kreditur Terbesar Masih Singapura
Posisi Singapura sebagai negara kreditur terbesar tidak terlepas dari perannya sebagai pusat keuangan regional. Namun, data ini tidak selalu berarti seluruh kewajiban tersebut merupakan pinjaman langsung dari pemerintah Singapura.
Dalam statistik utang luar negeri, negara pemberi pinjaman menunjukkan domisili kreditur atau pemegang instrumen utang. Kreditur dapat berupa bank, perusahaan, investor institusi, atau pemegang surat berharga yang berkedudukan di negara tersebut.
Karena itu, besarnya posisi Singapura perlu dibaca sebagai gambaran lokasi negara kreditur, bukan semata hubungan pinjaman antar-pemerintah.
Secara bulanan, posisi Singapura justru naik tipis dari US$52,09 miliar pada April 2026 menjadi US$52,51 miliar pada Mei 2026. Namun, dibandingkan tahun sebelumnya, nilainya masih lebih rendah.
AS Kedua dan China Ketiga
Amerika Serikat berada di urutan kedua sebagai negara kreditur terbesar Indonesia. Pada Mei 2026, posisi utang dari kreditur berdomisili di AS tercatat US$27,99 miliar.
Nilai tersebut naik sekitar 5,4 persen dibandingkan Mei 2025 yang sebesar US$26,55 miliar. Namun, secara bulanan posisinya turun tipis dari US$28,01 miliar pada April 2026.
China menempati posisi ketiga negara kreditur dengan nilai US$25,52 miliar. Berbeda dari Singapura, posisi utang dari kreditur China tumbuh sekitar 7,5 persen secara tahunan dari US$23,74 miliar pada Mei 2025.
Secara bulanan, posisi China juga naik dari US$25,31 miliar pada April 2026. Kenaikan itu membuat jarak China dengan Amerika Serikat semakin sempit.
Pada Mei 2026, selisih posisi negara kreditur AS dan China sekitar US$2,47 miliar. Meski demikian, data tersebut tetap tidak menunjukkan bahwa seluruh kewajiban merupakan pinjaman langsung dari pemerintah kedua negara.
Lima Kreditur Kuasai 70 Persen
Jepang berada di peringkat keempat negara kreditur dengan posisi US$21,29 miliar pada Mei 2026. Angka ini relatif stabil dibandingkan Mei 2025 yang sebesar US$21,27 miliar.
Hong Kong menempati posisi kelima dengan nilai US$20,35 miliar. Posisi tersebut meningkat sekitar 3,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Utang Luar Negeri RI Naik Jadi US$444,4 Miliar
Jika digabungkan, lima negara kreditur terbesar, yaitu Singapura, Amerika Serikat, China, Jepang, dan Hong Kong, mencatat posisi sekitar US$147,66 miliar. Jumlah itu setara 70,4 persen dari total utang Indonesia yang dikelompokkan berdasarkan negara pemberi pinjaman.
Selain lima wilayah tersebut, beberapa negara lain juga memiliki posisi cukup besar. Utang dari Prancis tercatat US$9,03 miliar, Korea Selatan US$8,55 miliar, Jerman US$5,05 miliar, Inggris US$4,08 miliar, dan Belanda US$3,80 miliar.
Komposisi ini menunjukkan bahwa pembiayaan lintas negara Indonesia masih terkonsentrasi pada sejumlah pusat keuangan dan ekonomi besar.
China Naik dalam Satu Dekade
Dalam perspektif lebih panjang, struktur kreditur Indonesia berubah cukup besar. Pada 2013, posisi Singapura tercatat US$49,83 miliar, lalu naik hingga US$69,37 miliar pada 2019.
Setelah itu, nilainya bergerak turun, meskipun Singapura masih bertahan sebagai kreditur terbesar pada Mei 2026.
Perubahan lebih mencolok terlihat pada China. Pada 2013, posisi kreditur dari negara tersebut masih US$7,38 miliar. Pada Mei 2026, nilainya sudah mencapai US$25,52 miliar, atau meningkat lebih dari tiga kali lipat.
Sebaliknya, posisi Jepang turun dalam periode yang sama. Pada 2013, posisi kreditur Jepang tercatat US$32,83 miliar. Pada Mei 2026, nilainya menjadi US$21,29 miliar.
Perubahan tersebut memperlihatkan adanya pergeseran sumber pembiayaan lintas negara Indonesia selama lebih dari satu dekade, meski pergerakannya tidak selalu searah setiap tahun.
Data Perlu Dibaca Hati-Hati
Pada Mei 2026, total utang luar negeri Indonesia mencapai US$444,4 miliar. Dari jumlah tersebut, utang berdasarkan negara pemberi pinjaman sebesar US$209,76 miliar atau sekitar 47,2 persen dari total ULN.
Sisanya berasal dari organisasi internasional dan kelompok kreditur lain yang tidak dimasukkan ke kategori negara. Karena itu, angka negara kreditur tidak mencakup seluruh posisi utang luar negeri Indonesia.
Perubahan posisi tiap negara kreditur juga dapat dipengaruhi nilai tukar, transaksi pembayaran, penerbitan surat utang, serta perpindahan kepemilikan instrumen oleh nonresiden.
Pada Mei 2026, Singapura tercatat sebagai negara kreditur terbesar dengan US$52,51 miliar, disusul Amerika Serikat US$27,99 miliar, China US$25,52 miliar, Jepang US$21,29 miliar, dan Hong Kong US$20,35 miliar. (Sol)




