FinanSaya.com – Kisah investor ritel Keith Gill menjadi salah satu cerita paling terkenal dalam sejarah Wall Street modern. Ia bukan manajer investasi besar. Ia bukan pemilik hedge fund. Ia juga bukan investor institusional yang mengelola dana klien.
Dalam sidang Kongres Amerika Serikat pada Februari 2021, Gill menegaskan bahwa dirinya bukan hedge fund, tidak punya klien, tidak memberikan nasihat investasi berbayar, dan unggahannya tentang GameStop di media sosial merupakan pandangan serta analisis pribadinya. Ia juga menyatakan bahwa dirinya memakai informasi publik untuk mempelajari pasar dan menilai perusahaan tertentu.
Namun dari kisah investor ritel inilah, salah satu drama pasar saham terbesar ikut meledak.
Melalui Reddit dengan nama DeepFuckingValue dan YouTube dengan nama Roaring Kitty, Keith Gill membagikan analisisnya tentang GameStop, perusahaan ritel video game yang saat itu dipandang suram oleh banyak pemain besar.
Di kisah investor ritel ini, Gill melihat sesuatu yang berbeda dari pandangan umum. Ketika banyak pihak menilai GameStop sebagai bisnis lama yang sedang kalah oleh era digital, Gill melihat saham itu terlalu murah dibanding peluang perbaikannya.
Siapa Keith Gill?
Keith Gill adalah investor individu yang menjadi populer karena posisinya di saham GameStop. Dalam kesaksiannya, ia menjelaskan bahwa ia tumbuh di Brockton, Massachusetts, pernah bekerja di bidang operasi dan edukasi finansial, dan aktif menganalisis saham secara pribadi. Ia juga menyebut pekerjaannya di MassMutual bukan sebagai financial advisor dan ia tidak menjual sekuritas.
Bagian penting dari kisah investor ritel ini adalah latar belakangnya yang jauh dari citra Wall Street besar. Gill tidak datang dengan tim analis raksasa, akses data mahal, atau jabatan institusional yang kuat. Ia bekerja dengan riset publik, tesis investasi pribadi, dan komunitas online.
Menurut kesaksiannya, ia membeli call options GameStop pada 7 Juni 2019 setelah harga sahamnya turun dan menurutnya diperdagangkan di bawah nilai wajarnya. Ia kemudian meningkatkan posisinya sepanjang 2019 dan 2020 karena makin percaya bahwa harga saham GameStop terlalu murah.
Kenapa GameStop Dipandang Suram?
GameStop saat itu bukan perusahaan yang sedang dipuja pasar. Model bisnisnya sangat bergantung pada toko fisik video game. Sementara itu dalam kisah investor ritel ini, industri game bergerak semakin kuat ke arah digital download, streaming, dan penjualan online.
Pandangan negatif ini juga menjadi dasar bagi Melvin Capital Management untuk mengambil posisi short terhadap GameStop. Dalam kesaksiannya di Kongres AS, pendiri Melvin Capital, Gabriel Plotkin, menyebut Melvin telah melakukan short alias posisi jual terhadap GameStop sejak awal berdirinya perusahaan.
Hal ini, karena menurutnya model bisnis penjualan video game fisik di toko mulai digantikan oleh unduhan digital melalui internet.
Dari sisi hedge fund, tesis itu masuk akal, yakni bisnis lama, tekanan digital, dan risiko penurunan penjualan. Namun, pasar tidak selalu bergerak satu arah. Ketika terlalu banyak pihak berada di posisi yang sama, risiko bisa menumpuk.
Di sinilah GameStop berubah dari saham ritel biasa menjadi bahan bakar peristiwa pasar yang luar biasa.
Bagaimana Kisah Investor Ritel Ini Bermula?
Keith Gill tidak melihat GameStop hanya sebagai toko fisik yang akan mati. Ia menilai pasar terlalu pesimistis. Dalam kesaksiannya, Gill menyebut GameStop masih punya basis pelanggan besar, peluang dari siklus konsol baru, potensi perbaikan layanan, peningkatan kehadiran online, serta kemungkinan menambah lini produk seperti PC gaming dan aksesori.
Ia juga percaya GameStop punya peluang untuk bertransformasi dalam industri game yang besar. Menurut kisah investor ritel tersebut, perusahaan itu bisa mengejar pendapatan baru dari katalog game digital, konten digital, komunitas online, trade-in online, streaming, dan e-sports.
Di komunitas online, kisah investor ritel seperti ini mendapat perhatian. Namun, perhatian itu awalnya tidak sebesar yang banyak orang bayangkan. Gill bahkan menyebut final stream-nya pada 2020 hanya mencapai 96 concurrent viewers, dengan 529 subscribers di YouTube dan 550 followers di Twitter pada pagi Natal 2020.
Artinya, kisah investor ini tidak langsung meledak dalam semalam. Ia tumbuh dari analisis yang berulang, diskusi kecil, dan keyakinan yang perlahan menemukan momentum.
Short Selling dan Bahan Bakar Short Squeeze
Untuk memahami kisah investor ritel Keith Gill dan GameStop, kita perlu memahami short selling.
Short selling adalah strategi ketika investor meminjam saham, menjualnya, lalu berharap bisa membeli kembali saham itu di harga lebih murah. Jika harga turun, short seller untung. Jika harga naik, short seller rugi.
Risikonya besar karena harga saham secara teori bisa naik tanpa batas. SEC menjelaskan bahwa short seller bisa kehilangan lebih besar dari modal yang mereka investasikan karena harga saham dapat terus naik.
GameStop menjadi menarik karena short interest-nya sangat tinggi. Laporan SEC mencatat short interest GameStop pada 2021 sempat berada di sekitar 100% dan mencapai 109,26% pada 31 Desember 2020. SEC juga menjelaskan short interest dapat melebihi 100% jika saham yang sama dipinjamkan berulang dalam rantai transaksi short selling.
Kondisi seperti ini bisa menciptakan short squeeze. Ketika harga saham naik, short seller bisa dipaksa membeli saham untuk menutup posisi. Pembelian itu menambah tekanan beli, sehingga harga bisa naik lagi. Kenaikan lebih lanjut bisa memaksa short seller lain ikut menutup posisi. Efeknya bisa seperti bola salju.
Saat GameStop Meledak pada Januari 2021
Kenaikan GameStop pada Januari 2021 sangat ekstrem.
SEC mencatat harga GameStop mulai meningkat jelas pada 13 Januari 2021, ketika penutupan harga naik ke US$31,40 dari US$19,95 hari sebelumnya. Pada 22 Januari 2021, harga GameStop naik dari US$43 ke US$72 dalam sekitar tiga jam. Dengan kurs asumsi Rp17.839 per dolar AS, angka itu setara dari sekitar Rp767.077 ke sekitar Rp1,28 juta per saham.
Pada 27 Januari 2021, GameStop ditutup di US$347,51 per saham, atau sekitar Rp6,20 juta per saham dengan kurs yang sama. Sehari kemudian, harga intraday sempat menyentuh US$483, atau sekitar Rp8,62 juta per saham. SEC mencatat rata-rata volume perdagangan GameStop pada 13–29 Januari mencapai sekitar 100 juta saham per hari, naik lebih dari 1.400% dibanding rata-rata 2020.
Baca Juga: 7 Cara Bedain Saham Diskon dan Saham Bermasalah
Kenaikan seperti ini membuat sebagian investor awal memperoleh keuntungan luar biasa. Namun, bagi investor yang masuk terlambat di harga tinggi, risikonya juga luar biasa besar.
Dalam cerita kisah investor ritel ini, SEC mencatat setelah mencapai puncak intraday pada 28 Januari, harga GameStop turun lebih dari 86% sampai harga penutupan pada akhir minggu pertama Februari.
Nama Melvin Capital menjadi salah satu yang paling jelas terkait kerugian besar dalam saga GameStop di kisah investor ritel ini. Dalam sidang Kongres AS, anggota Kongres Andy Barr menyebut Melvin Capital kehilangan US$6 miliar dalam 20 hari perdagangan. Jika memakai kurs Rp17.839 per dolar AS, angka itu setara sekitar Rp107,03 triliun.
Apakah Kenaikan GameStop Murni karena Short Squeeze?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
SEC mencatat bahwa pada beberapa periode, kenaikan tajam harga GameStop terjadi bersamaan dengan short seller besar yang menutup posisi setelah mengalami kerugian signifikan. Dalam periode seperti itu, pembelian untuk menutup posisi short kemungkinan ikut mendorong harga naik.
Namun, SEC juga menyatakan bahwa pembelian oleh pihak yang menutup posisi short hanya merupakan sebagian kecil dari keseluruhan volume beli, dan harga GameStop tetap tinggi setelah dampak langsung short covering mereda.
Dari kisah investor ritel ini, SEC menyimpulkan bahwa sentimen positif, baik karena keyakinan pada fundamental GameStop maupun keinginan menekan short seller, ikut menopang kenaikan harga selama berminggu-minggu.
Ini penting untuk investor ritel. Kadang orang menyederhanakan GameStop hanya sebagai “ritel mengalahkan hedge fund”. Padahal, peristiwanya lebih kompleks: ada short interest besar, komunitas online, sentimen, aplikasi trading, opsi, likuiditas, pembatasan transaksi, dan struktur pasar.
Robinhood, Pembatasan Transaksi, dan Kontroversi Pasar
Kisah investor ritel di GameStop juga melebar ke masalah akses pasar.
Pada puncak volatilitas, beberapa platform trading membatasi transaksi pada GameStop dan saham meme lain. Laporan staf House Financial Services Committee menyebut pembatasan dan gangguan sistem perdagangan memberi tekanan turun pada saham meme serta membatasi akses investor ritel ke pasar.
Dalam laporan itu, nilai kepemilikan GameStop oleh pelanggan Robinhood turun dari puncak US$2,6 miliar sebelum pembatasan menjadi US$1,2 miliar pada hari berikutnya. Dengan kurs Rp17.839 per dolar AS, nilainya turun dari sekitar Rp46,38 triliun menjadi sekitar Rp21,41 triliun.
Laporan itu juga menyebut peristiwa meme stock membuka persoalan tentang praktik bisnis, manajemen risiko, payment for order flow, gamification, dan kesiapan broker menghadapi volatilitas ekstrem.
Kalimat “I Like the Stock”
Dalam sidang Kongres, Keith Gill menyampaikan kalimat yang kemudian menjadi sangat terkenal: “I like the stock.” Ia menyatakannya setelah menjelaskan bahwa dirinya tetap bullish terhadap potensi turnaround GameStop.
Kalimat itu menjadi simbol bagi banyak investor ritel. Kisah investor ritel tersebut sederhana, tetapi kuat. Ia mencerminkan keyakinan pribadi seorang investor terhadap tesis investasinya.
Namun, kisah investor ritel itu juga perlu dibaca dengan hati-hati. Gill sendiri menyatakan bahwa investasinya berisiko dan ia siap menerima kerugian jika analisisnya salah. Ia juga menyebut gaya investasinya agresif dan tidak cocok untuk kebanyakan orang. (Sol)
Disclaimer: Artikel ini hanya bertujuan sebagai informasi dan edukasi, bukan merupakan ajakan, rekomendasi, maupun saran investasi untuk membeli atau menjual aset tertentu. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan kondisi keuangan pribadi.




