FinanSaya.com – Kerugian terealisasi investor Bitcoin mencetak rekor baru pada 2026. Tekanan tersebut bahkan melampaui puncak realized loss yang terjadi saat pasar kripto jatuh besar pada 2022.
Berdasarkan analisis on-chain Axel Adler Jr yang dipublikasikan pada 24 Juli 2026, rata-rata bergerak 30 hari atau 30-day moving average untuk realized loss Bitcoin mencapai US$1,37 miliar pada 20 Februari 2026.
Angka kerugian terealisasi investor Bitcoin itu menjadi level tertinggi sepanjang riwayat data yang digunakan. Nilainya sekitar 19 persen lebih tinggi dibandingkan puncak siklus 2022 sebesar US$1,15 miliar pada 30 Juni 2022.
Namun, rekor kerugian tersebut belum otomatis berarti tekanan saat ini lebih dalam dalam ukuran relatif. Pasar Bitcoin pada 2026 sudah memiliki ukuran lebih besar dibandingkan 2022, sehingga nilai kerugian dalam dolar AS perlu dibaca bersama indikator lain.
Kerugian Terealisasi Investor Bitcoin Turun dari Puncak
Data terbaru menunjukkan tekanan jual mulai berkurang. Nilai kerugian terealisasi investor Bitcoin berdasarkan 30DMA turun menjadi sekitar US$597 juta.
Angka tersebut menyusut 56,5 persen dari puncak Februari 2026. Penurunan ini mengindikasikan gelombang kapitulasi paling tajam mulai mereda.
Meski begitu, kondisi tersebut belum cukup untuk menyatakan pasar sudah pulih. Tekanan jual memang melemah, tetapi permintaan baru belum terlihat cukup kuat untuk mengubah arah pasar secara meyakinkan.
Pada 30 Juni 2026, harga Bitcoin sempat menyentuh titik terendah siklus di US$58.535. Saat itu, realized loss tercatat sekitar US$804 juta.
Rasio keuntungan terhadap kerugian atau profit-to-loss ratio turun ke level 0,26. Rasio di bawah 1 menunjukkan nilai kerugian yang direalisasikan masih lebih besar daripada keuntungan yang dicairkan pelaku pasar.
Apa Itu Realized Loss Bitcoin
Realized loss atau kerugian terealisasi menggambarkan nilai kerugian dalam dolar AS dari Bitcoin yang berpindah ketika harganya lebih rendah dibandingkan harga saat koin tersebut terakhir bergerak.
Dengan kata lain, indikator ini mencatat kerugian yang diwujudkan melalui aktivitas on-chain. Ini berbeda dari penurunan nilai aset yang masih disimpan investor di dompet.
Penggunaan rata-rata bergerak 30 hari bertujuan meredam lonjakan harian. Dengan metode ini, arah tekanan jual dapat terlihat lebih jelas daripada hanya membaca data satu hari.
Namun, indikator on-chain tetap perlu dibaca hati-hati. Perpindahan Bitcoin tidak selalu berarti penjualan di pasar.
Koin bisa berpindah karena pengelolaan dompet, pemindahan kustodian, atau transaksi internal. Karena itu, realized loss lebih tepat dipakai untuk membaca kecenderungan perilaku pasar, bukan menghitung kerugian pasti setiap investor, maupun kerugian terealisasi investor Bitcoin.
Tekanan 2026 Belum Sedalam 2022
Secara nominal, realized loss 2026 lebih besar daripada puncak 2022. Namun, tekanan relatifnya belum tentu sedalam siklus sebelumnya.
Pada 2022, profit-to-loss ratio pernah merosot hingga 0,13. Sementara pada titik rendah 2026, rasio tersebut tercatat 0,26.
Perbandingan ini penting karena ukuran pasar Bitcoin telah berubah. Kapitalisasi yang lebih besar dapat membuat nilai kerugian dalam dolar AS terlihat lebih tinggi, meskipun tekanan relatif terhadap struktur pasar belum separah periode sebelumnya.
Baca Juga: Trader Ini Akumulasi Bitcoin Pasca Profit Jumbo dari Short
Saat ini, profit-to-loss ratio sudah naik dari 0,26 menjadi 0,43. Kenaikan itu menunjukkan kondisi membaik dari titik tertekan, tetapi masih jauh dari level seimbang 1,0.
Selama rasio masih di bawah 1, nilai kerugian yang direalisasikan masih lebih besar daripada keuntungan yang diwujudkan. Artinya, pasar belum kembali ke fase ketika investor secara umum lebih banyak merealisasikan profit.
Realized Profit Masih Lemah
Sisi lain yang membuat pasar belum kuat dan kerugian terealisasi investor Bitcoin adalah lambatnya pemulihan realized profit. Rata-rata 30 hari keuntungan terealisasi berada di sekitar US$257 juta per 23 Juli 2026.
adalah lambatnya pemulihan realized profit. Rata-rata 30 hari keuntungan terealisasi berada di sekitar US$257 juta per 23 Juli 2026.
Angka itu turun 92,7 persen dari puncak US$3,51 miliar pada 10 Desember 2024. Meski begitu, realized profit sudah naik 34,7 persen dari titik terendah lokal US$191 juta pada 14 Juni 2026.
Kondisi ini menunjukkan sebagian tekanan mulai mereda, tetapi minat beli dan realisasi keuntungan belum kembali kuat. Pemulihan profit berjalan lebih lambat dibandingkan penurunan realized loss.
Sejak Bitcoin mencapai rekor harga US$124.710 pada 6 Oktober 2025, jumlah hari ketika kerugian melampaui keuntungan mencapai 190 dari total 291 hari.
Selain itu, penurunan Bitcoin dari harga tertinggi sepanjang masa masih sekitar 47,8 persen. Data kerugian terealisasi investor Bitcoin ini memperlihatkan bahwa meredanya kapitulasi belum otomatis menjadi sinyal pembalikan tren.
Pasar Butuh Bukti Permintaan Baru
Axel Adler Jr menilai perbaikan yang lebih meyakinkan membutuhkan kenaikan realized profit ke kisaran US$400 juta hingga US$500 juta. Selain itu, profit-to-loss ratio perlu bergerak mendekati level 1.
Sebaliknya, risiko tekanan baru masih terbuka apabila harga Bitcoin kembali turun di bawah US$58.535. Jika rasio profit-to-loss juga jatuh melewati 0,26, pasar berpotensi memasuki gelombang realisasi kerugian berikutnya.
Dengan kondisi saat ini, kerugian terealisasi investor Bitcoin memang sudah turun lebih dari separuh dari puncak Februari 2026. Namun, realized profit masih sekitar US$257 juta per 23 Juli 2026 dan profit-to-loss ratio masih berada di sekitar 0,43. (Sol)




