Kenapa Uang Tunai Terasa Lebih Sayang Dibelanjakan?

|

3 Views
Kenapa Uang Tunai Terasa Lebih Sayang Dibelanjakan?

FinanSaya.com – Pernahkah Anda merasa lebih berat menyerahkan uang Rp100.000 dalam bentuk selembar uang tunai dibanding membayar nominal yang sama melalui QRIS, kartu debit, kartu kredit, mobile banking, atau dompet digital?

Secara matematis, jumlah uang yang keluar memang sama. Rp100.000 tetap Rp100.000. Namun, secara psikologis, cara pembayaran dapat memengaruhi bagaimana seseorang merasakan pengeluaran.

Ketika membayar dengan uang tunai, seseorang dapat melihat uang berpindah secara langsung dari tangannya. Lembaran uang yang tadinya ada di dompet menjadi berkurang. Kehilangan terasa nyata.

Sebaliknya, pembayaran digital hanya membutuhkan beberapa ketukan pada layar atau pemindaian kode QR. Transaksi terasa lebih cepat, praktis, dan abstrak. Dalam beberapa kondisi, proses mengeluarkan uang menjadi tidak terlalu “sakit”.

Fenomena ini berkaitan dengan konsep pain of paying, yaitu rasa tidak nyaman psikologis ketika seseorang harus mengeluarkan uang.

Uang Tunai Membuat Kehilangan Terlihat Nyata

Salah satu perbedaan terbesar antara pembayaran tunai dan digital adalah tingkat keterlihatan uang yang dikeluarkan.

Bayangkan Anda membawa uang tunai Rp500.000 di dalam dompet. Setelah berbelanja Rp200.000, Anda langsung melihat jumlah uang di dompet berkurang menjadi Rp300.000.

Perubahan tersebut sangat konkret. Ada benda fisik yang tadinya dimiliki, lalu berpindah ke orang lain.

Saat menggunakan pembayaran digital, pengalaman itu berbeda. Saldo rekening memang berkurang, tetapi Anda tidak melihat lembaran uang meninggalkan tangan. Transaksi sering kali hanya ditandai dengan angka pada layar, bunyi notifikasi, atau tulisan bahwa pembayaran berhasil.

Dilip Soman dalam penelitian Effects of Payment Mechanism on Spending Behavior yang diterbitkan di Journal of Consumer Research menjelaskan bahwa karakteristik mekanisme pembayaran dapat memengaruhi perilaku belanja dan kemampuan konsumen mengingat pengeluaran.

Pembayaran yang kurang terlihat dan kurang terasa pada saat transaksi dapat membuat hubungan antara membeli sesuatu dan kehilangan uang menjadi lebih lemah.

Dengan kata lain, uang tetap keluar. Namun, pengalaman psikologis kehilangan uang tidak selalu sama.

Ada Pain of Paying ketika Mengeluarkan Uang

Dalam ekonomi perilaku, membayar bukan sekadar aktivitas finansial. Mengeluarkan uang juga dapat menciptakan rasa tidak nyaman.

George Loewenstein dan Drazen Prelec dalam penelitian Anomalies in Intertemporal Choice menunjukkan bahwa keputusan konsumsi tidak hanya dipengaruhi manfaat yang diperoleh, tetapi juga cara seseorang mengalami biaya dari konsumsi tersebut.

Konsep ini kemudian banyak dikaitkan dengan pain of paying.

Ketika menggunakan uang tunai, rasa kehilangan terjadi hampir bersamaan dengan pembelian. Anda mendapatkan barang, tetapi pada saat yang sama harus menyerahkan sesuatu yang secara fisik bernilai.

Pembayaran digital dapat mengurangi sebagian pengalaman tersebut. Tidak ada uang yang berpindah tangan secara kasat mata. Karena itu, pembayaran terasa lebih terpisah dari aktivitas konsumsi.

Misalnya, membeli kopi Rp35.000 dengan uang tunai membuat seseorang harus membuka dompet, mengambil uang, menyerahkannya, lalu menerima kembalian. Ada proses fisik yang mengingatkan bahwa uang benar-benar keluar.

Namun, jika membayar dengan QRIS, transaksi bisa selesai dalam hitungan detik. Pengalaman belanjanya lebih halus. Justru karena terlalu mudah, pengeluaran kecil dapat lebih mudah diulang.

Pembayaran Digital Menciptakan Jarak Psikologis

Bayangkan dua situasi.

Dalam situasi pertama, Anda membeli makan siang seharga Rp75.000 dan harus mengeluarkan beberapa lembar uang tunai dari dompet.

Dalam situasi kedua, Anda hanya memindai kode QR, memasukkan PIN, lalu menekan tombol bayar.

Nominalnya sama, tetapi pengalaman mentalnya berbeda.

Transaksi kedua membutuhkan lebih sedikit interaksi dengan uang. Hal ini dapat menciptakan jarak psikologis antara konsumen dan pengeluaran.

Priya Raghubir dan Joydeep Srivastava dalam penelitian Monopoly Money: The Effect of Payment Coupling and Form on Spending Behavior menemukan bahwa bentuk pembayaran dapat memengaruhi perilaku belanja. Ketika bentuk pembayaran semakin jauh dari uang tunai, konsumen dapat memperlakukan nilai uang secara berbeda.

Uang digital tentu tetap uang nyata. Namun, representasinya lebih abstrak.

Anda tidak melihat selembar uang Rp100.000 keluar dari dompet. Anda hanya melihat angka di layar berubah menjadi angka lain. Perubahan angka tersebut bisa terasa kurang emosional dibanding kehilangan uang fisik.

Inilah alasan uang tunai sering terasa lebih “sayang” untuk dibelanjakan. Bentuk fisiknya membuat pengeluaran lebih terasa.

Kartu dan Pembayaran Nontunai Bisa Mendorong Belanja Lebih Besar

Efek cara pembayaran terhadap pengeluaran juga ditemukan dalam penelitian lain.

Drazen Prelec dan Duncan Simester melalui studi Always Leave Home Without It yang diterbitkan di Marketing Letters menemukan bahwa peserta penelitian bersedia membayar lebih tinggi ketika menggunakan kartu kredit dibandingkan ketika harus membayar dengan uang tunai.

Fenomena ini sering disebut sebagai credit card premium.

Salah satu penjelasannya adalah pembayaran dengan kartu mengurangi keterhubungan langsung antara aktivitas membeli dan kehilangan uang pada saat itu juga.

Pada pembayaran tunai, batas pengeluaran juga lebih kasat mata. Jika seseorang membawa uang tunai Rp300.000, maka secara fisik ia mengetahui bahwa kemampuan belanjanya terbatas pada jumlah tersebut.

Dengan pembayaran digital, batas itu tidak selalu terasa jelas. Selama saldo masih tersedia atau limit masih mencukupi, seseorang dapat terus melakukan transaksi.

Hal ini tidak berarti kartu, QRIS, dan dompet digital buruk. Bank Indonesia melalui informasi resmi QRIS menjelaskan QRIS sebagai standar pembayaran kode QR nasional yang memudahkan transaksi. Pembayaran digital dapat membantu efisiensi, keamanan, dan pencatatan.

Namun, dari sisi perilaku, kemudahan pembayaran perlu diimbangi dengan kontrol pengeluaran.

Baca Juga: Apa yang Terjadi Jika Uang Terlalu Banyak Beredar?

Uang Tunai Bisa Berfungsi sebagai Rem Mental

Uang tunai dapat berfungsi sebagai rem mental karena membuat batas anggaran lebih terlihat.

Misalnya, seseorang menetapkan anggaran nongkrong sebesar Rp400.000 setiap bulan, lalu memasukkan jumlah tersebut ke dalam satu amplop. Ketika uang di amplop mulai menipis, sinyal untuk mengurangi pengeluaran menjadi sangat jelas.

Metode sederhana ini bekerja karena uang terlihat secara fisik. Seseorang tidak perlu membuka aplikasi, membaca mutasi, atau menghitung ulang semua transaksi. Dompet atau amplop sudah memberi tanda.

Konsep ini sejalan dengan teori mental accounting yang diperkenalkan Richard Thaler dalam penelitian Mental Accounting and Consumer Choice. Menurut teori ini, manusia cenderung mengelompokkan uang ke dalam berbagai “rekening mental” berdasarkan fungsi atau tujuan tertentu.

Uang untuk makan, hiburan, investasi, transportasi, dan kebutuhan rumah tangga dapat diperlakukan secara berbeda meskipun secara ekonomi semuanya memiliki nilai yang sama.

Uang tunai membuat pembagian seperti ini lebih mudah divisualisasikan. Ketika uang hiburan habis, seseorang bisa melihatnya langsung.

Sebaliknya, ketika semua pengeluaran berasal dari satu rekening digital, batas antar kategori dapat menjadi kabur jika tidak ada sistem pencatatan yang jelas.

Bukan Berarti Pembayaran Digital Selalu Buruk

Pembayaran digital tidak berarti membuat seseorang pasti boros.

QRIS, kartu debit, mobile banking, dan dompet digital memiliki banyak keuntungan. Transaksi lebih praktis, tidak perlu membawa banyak uang fisik, pembayaran lebih cepat, dan catatan transaksi dapat dilihat kembali.

Bagi orang yang disiplin mencatat pengeluaran, pembayaran digital bahkan dapat membantu memantau keuangan. Mutasi rekening dan riwayat transaksi dapat menjadi bahan evaluasi bulanan.

Masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan pada kebiasaan penggunaannya.

Jika seseorang sering membeli secara impulsif, pembayaran digital yang terlalu mudah dapat mempercepat kebiasaan tersebut. Satu transaksi kecil terasa ringan. Namun, jika terjadi berkali-kali dalam sehari, totalnya bisa besar.

Cara Mengontrol Belanja Digital agar Tidak Kebablasan

Karena pembayaran digital terasa lebih ringan, seseorang perlu menciptakan gesekan tambahan agar tidak terlalu impulsif.

Pertama, tetapkan batas belanja mingguan. Bukan hanya batas bulanan, karena batas bulanan sering terasa terlalu jauh. Dengan batas mingguan, pengeluaran lebih mudah dipantau.

Kedua, pisahkan rekening kebutuhan dan rekening hiburan. Rekening kebutuhan digunakan untuk makan, transportasi, tagihan, dan kewajiban utama. Rekening hiburan dipakai untuk nongkrong, kopi, langganan, atau belanja kecil.

Ketiga, matikan fitur pembayaran sekali klik untuk aplikasi yang sering memicu belanja impulsif. Semakin mudah proses pembayaran, semakin kecil waktu untuk berpikir ulang.

Keempat, cek saldo sebelum membeli barang yang tidak mendesak. Kebiasaan sederhana ini mengembalikan rasa keterhubungan antara pembelian dan kondisi keuangan.

Kelima, gunakan uang tunai untuk kategori yang sering bocor. Misalnya, jika pengeluaran nongkrong sulit dikendalikan, coba gunakan uang tunai khusus untuk kategori tersebut selama beberapa minggu.

Keenam, lakukan review transaksi mingguan. Pembayaran digital memang abstrak saat transaksi, tetapi riwayatnya bisa menjadi alat kontrol jika rutin diperiksa.

Uang Tunai dan Uang Digital Tetap Perlu Sistem

Pada akhirnya, uang tunai dan uang digital hanyalah alat. Keduanya bisa digunakan dengan baik atau buruk tergantung kebiasaan finansial seseorang.

Uang tunai unggul dalam membuat pengeluaran terasa nyata. Namun, uang tunai juga punya kelemahan, seperti risiko hilang, sulit dilacak jika tidak dicatat, dan kurang praktis untuk transaksi tertentu.

Pembayaran digital unggul dalam kepraktisan dan pencatatan. Namun, pembayaran digital dapat membuat pengeluaran terasa terlalu mudah jika tidak disertai batas yang jelas.

Karena itu, pertanyaannya bukan semata-mata “mana yang lebih baik?”, melainkan “metode mana yang membantu saya lebih sadar saat mengeluarkan uang?”

Sebagian orang cocok memakai uang tunai untuk belanja harian. Sebagian lain tetap nyaman dengan pembayaran digital asalkan menggunakan anggaran, notifikasi, dan pencatatan rutin. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya