Kenapa Harus Belajar dan Adaptasi dengan AI Mulai Sekarang?

|

3 Views
Kenapa Harus Belajar dan Adaptasi dengan AI Mulai Sekarang?

Opini oleh Solomon Tama

FinanSaya.com – Artificial intelligence atau AI perlahan berubah dari teknologi yang hanya dibicarakan perusahaan teknologi menjadi alat yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. AI kini dapat membantu manusia dalam berbagai hal. Perubahan tersebut membuat kemampuan untuk belajar dan adaptasi dengan AI semakin penting.

Belajar dan adaptasi dengan AI bukan lagi hanya urusan programmer, data scientist, atau orang yang bekerja di perusahaan teknologi. Karyawan kantor, pelaku usaha, mahasiswa, pekerja kreatif, tenaga pemasaran, jurnalis, guru, pemilik UMKM, hingga pekerja lepas akan semakin sering bersinggungan dengan teknologi ini.

Alasannya mulai belajar dan adaptasi dengan AI sederhana. AI mulai masuk ke berbagai proses kerja, sementara kemampuan teknologinya terus berkembang. Orang yang memahami cara memanfaatkannya berpotensi bekerja lebih cepat, menyusun ide lebih banyak, dan menyelesaikan tugas rutin dengan lebih efisien.

Sebaliknya, orang yang sama sekali tidak mau mempelajarinya dapat menghadapi kesenjangan kemampuan dengan pekerja lain.

AI Mulai Menjadi Bagian dari Dunia Kerja

Salah satu alasan utama seseorang perlu belajar dan adaptasi dengan AI adalah penggunaannya yang semakin luas di dunia kerja.

Stanford Institute for Human-Centered Artificial Intelligence melalui AI Index Report secara berkala mencatat perkembangan AI, termasuk tren riset, adopsi industri, investasi, pendidikan, dan dampaknya terhadap masyarakat.

Perubahan serupa pernah terjadi ketika komputer, internet, mesin pencari, dan smartphone mulai digunakan luas. Pada awalnya, menggunakan teknologi baru mungkin dianggap kemampuan tambahan. Setelah pemakaiannya meluas, kemampuan tersebut berubah menjadi keterampilan dasar.

AI berpotensi mengikuti pola yang sama.

Karena itu, belajar dan adaptasi dengan AI sebaiknya tidak menunggu sampai perusahaan, kampus, klien, atau pekerjaan memaksa seseorang menggunakannya. Semakin awal seseorang memahami cara kerja dan batasannya, semakin mudah ia menyesuaikan diri.

Kekhawatiran terbesar terhadap perkembangan AI adalah hilangnya pekerjaan manusia. Kekhawatiran tersebut wajar, tetapi dampaknya tidak sesederhana manusia digantikan mesin sepenuhnya.

International Labour Organization atau ILO melalui publikasi Generative AI and Jobs membahas bagaimana generative AI dapat memengaruhi pekerjaan. Salah satu poin penting dalam kajian ILO adalah banyak pekerjaan terdiri dari beragam tugas, dan hanya sebagian tugas yang berpotensi diotomatisasi atau dibantu oleh AI.

Artinya, pertanyaan yang lebih relevan bukan hanya, “Apakah pekerjaan saya akan digantikan AI?”

Pertanyaan yang lebih praktis adalah, “Bagian mana dari pekerjaan saya yang bisa berubah karena AI?”

Seorang akuntan mungkin tetap dibutuhkan, tetapi proses membaca dokumen dan merapikan data bisa terbantu AI. Penulis tetap dibutuhkan, tetapi riset awal dan penyusunan kerangka dapat dipercepat. Tenaga pemasaran tetap diperlukan, tetapi pembuatan variasi materi promosi dan analisis respons pelanggan bisa menjadi lebih cepat.

Dengan cara pandang ini, AI tidak hanya dilihat sebagai ancaman. Kecerdasan buatan juga menjadi alat yang dapat mengubah cara tugas dikerjakan, jika seseorang mampu belajar dan adaptasi dengan AI.

Orang yang Gunakan AI Bisa Menjadi Lebih Produktif

Alasan berikutnya untuk belajar dan adaptasi dengan AI adalah produktivitas.

Penelitian Erik Brynjolfsson, Danielle Li, dan Lindsey Raymond berjudul Generative AI at Work yang diterbitkan oleh National Bureau of Economic Research mempelajari penggunaan asisten AI pada pekerjaan layanan pelanggan. Penelitian tersebut menemukan bahwa akses belajar dan adaptasi dengan AI dapat meningkatkan produktivitas, terutama bagi pekerja yang lebih baru atau kurang berpengalaman.

Riset Harvard Business School bersama Boston Consulting Group berjudul Navigating the Jagged Technological Frontier juga menunjukkan bahwa AI dapat membantu pekerja menyelesaikan tugas tertentu dengan lebih cepat dan lebih baik. Namun, riset yang sama memberi catatan penting: AI dapat menurunkan kualitas hasil ketika digunakan untuk tugas yang berada di luar kemampuan teknologi tersebut.

Di sinilah literasi menjadi penting untuk belajar dan adaptasi dengan AI.

Menggunakan AI bukan sekadar mengetik pertanyaan lalu menerima jawabannya. Pengguna perlu tahu kapan AI berguna, bagaimana memberi konteks, bagaimana mengevaluasi hasilnya, dan kapan keputusan harus tetap berada di tangan manusia.

Keunggulan bukan hanya dimiliki oleh orang yang punya akses untuk belajar dan adaptasi dengan AI, tetapi oleh orang yang tahu cara menggunakannya dengan benar.

Belajar AI Tidak Harus Menjadi Programmer

Sebagian orang enggan belajar AI karena menganggapnya terlalu teknis. Padahal, kebanyakan pekerja tidak harus memahami cara membangun model machine learning atau menulis algoritma AI.

Bagi banyak orang, langkah awal yang lebih penting adalah memahami belajar dan adaptasi dengan AI sebagai alat bantu kerja.

Contohnya, AI dapat digunakan untuk merangkum dokumen, membuat daftar ide, menyusun kerangka tulisan, menerjemahkan teks, membuat draft email, membandingkan argumen, membersihkan data sederhana, atau membuat simulasi pertanyaan wawancara.

Namun, pengguna tetap perlu memahami batasannya. AI dapat menghasilkan informasi yang keliru. AI bisa terdengar yakin meskipun jawabannya salah. AI juga tidak boleh diberi data rahasia sembarangan, seperti informasi pelanggan, dokumen internal perusahaan, data keuangan sensitif, atau identitas pribadi.

National Institute of Standards and Technology melalui AI Risk Management Framework menekankan pentingnya mengelola risiko AI, termasuk keandalan, keamanan, privasi, transparansi, dan akuntabilitas. Prinsip ini relevan bagi siapa pun yang memakai AI dalam pekerjaan.

Jadi, belajar AI bukan hanya belajar prompt. Belajar AI juga berarti belajar memeriksa, membatasi, dan mempertanggungjawabkan hasilnya.

Baca Juga: Mampukah Kecerdasan Buatan Gantikan Akuntan?

Keterampilan Kerja Juga Sedang Berubah

Perubahan AI terjadi bersamaan dengan perubahan kebutuhan keterampilan.

World Economic Forum melalui Future of Jobs Report 2025 menempatkan AI, big data, berpikir analitis, kreativitas, ketahanan, fleksibilitas, kepemimpinan, dan kemauan belajar sepanjang hayat sebagai bagian dari keterampilan penting yang akan semakin dibutuhkan.

Hal ini menunjukkan bahwa beradaptasi dengan AI bukan berarti menyerahkan seluruh pekerjaan kepada mesin. Justru kombinasi manusia dan teknologi yang semakin bernilai.

AI dapat memproses informasi dengan cepat, tetapi manusia tetap dibutuhkan untuk menentukan tujuan, memahami konteks, mempertimbangkan dampak, berkomunikasi, membuat keputusan, dan bertanggung jawab atas hasil akhir.

Misalnya, AI bisa membantu membuat draft proposal. Namun, manusia tetap perlu memastikan apakah proposal tersebut sesuai kebutuhan klien, masuk akal secara bisnis, tidak melanggar etika, dan tidak memuat klaim yang tidak dapat dibuktikan.

AI dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi nalar manusia tetap menjadi pengendali.

Risiko Jika Menggunakan AI Sembarangan

Belajar dan adaptasi dengan AI tidak boleh hanya membahas manfaat. Risiko juga perlu dipahami.

Risiko pertama adalah informasi keliru. AI dapat menghasilkan jawaban yang terdengar rapi tetapi tidak akurat. Karena itu, informasi penting harus tetap diverifikasi dengan sumber resmi.

Risiko kedua adalah kebocoran data. Jangan memasukkan data rahasia perusahaan, data pelanggan, nomor identitas, informasi medis, atau dokumen sensitif ke layanan AI tanpa memahami kebijakan privasi dan aturan organisasi.

Risiko ketiga adalah ketergantungan. Jika semua pekerjaan diserahkan kepada AI tanpa dipahami, kemampuan berpikir pengguna bisa melemah. AI seharusnya membantu proses berpikir, bukan menggantikan tanggung jawab berpikir.

Risiko keempat adalah hasil yang terlalu umum. AI sering memberikan jawaban yang terdengar benar, tetapi kurang sesuai konteks. Pengguna perlu menambahkan pengalaman, data, contoh, dan pemahaman lokal agar hasilnya lebih berguna.

Risiko kelima adalah masalah etika dan hak cipta. Dalam pekerjaan kreatif, pendidikan, dan bisnis, penggunaan AI perlu memperhatikan sumber, izin, orisinalitas, dan aturan platform.

Cara Mulai Belajar AI dari Nol

Untuk mulai belajar dan adaptasi dengan AI, seseorang tidak perlu langsung mengambil kursus teknis yang berat. Mulailah dari pekerjaan harian.

Pertama, pilih satu tugas kecil. Misalnya merangkum artikel, menyusun daftar ide konten, membuat draft email, memperbaiki struktur presentasi, atau membuat daftar pertanyaan untuk riset pelanggan.

Kedua, bandingkan hasil kerja dengan dan tanpa AI. Perhatikan bagian mana yang lebih cepat, mana yang tetap perlu diperbaiki, dan mana yang sebaiknya tidak diserahkan kepada AI.

Ketiga, belajar memberi instruksi yang jelas. Jelaskan tujuan, konteks, format jawaban, batasan, dan contoh hasil yang diinginkan. Instruksi yang kabur biasanya menghasilkan jawaban yang umum.

Keempat, biasakan memverifikasi. Jangan langsung percaya hanya karena jawaban terdengar meyakinkan. Untuk data, hukum, kesehatan, keuangan, dan keputusan penting, gunakan sumber resmi atau tenaga profesional yang relevan.

Kelima, buat batasan penggunaan. Tentukan data apa yang boleh dimasukkan dan data apa yang tidak boleh dibagikan ke AI.

Keenam, terus perbarui kemampuan. AI berkembang cepat. Namun, tidak semua perkembangan perlu dikejar. Fokus pada alat dan kebiasaan yang benar-benar membantu pekerjaan atau tujuan pribadi. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya