FinanSaya.com – IHSG tinggalkan level terendah per hari Senin, 15 Juni 2026 mulai pagi. Pergerakan rebound tersebut terjadi setelah Indeks Harga Saham Gabungan melanjutkan penguatan tajam pada perdagangan pagi ini. Berdasarkan data Google Finance pukul 10.19 WIB, IHSG berada di level 6.263,38 atau naik 4,26 persen setara 255,73 poin.
Kenaikan tersebut membuat IHSG semakin menjauhi level terendahnya dalam 52 minggu terakhir. Data Google Finance menunjukkan posisi IHSG tinggalkan level terendah IHSG dalam periode itu berada di sekitar 5.317.
Pada perdagangan pagi ini, IHSG dibuka di level 6.118,72 dan sempat menyentuh level tertinggi harian 6.263,50. Sementara itu, posisi terendah hari ini berada di level 6.118,08.
Penguatan pasar saham Indonesia kali ini ditopang lonjakan sejumlah saham Badan Usaha Milik Negara, terutama dari sektor perbankan. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI menjadi salah satu penggerak utama setelah naik 210 poin atau 5 persen ke level Rp4.410 per saham.
Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI juga menguat 120 poin atau 4,21 persen ke posisi Rp2.970 per saham. Sementara itu, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BBNI melonjak 210 poin atau 5,9 persen menjadi Rp3.770 per saham.
IHSG Tinggalkan Level Terendah Berkat Saham BUMN
Dorongan terhadap IHSG tidak hanya datang dari saham bank BUMN. Saham BUMN sektor pertambangan juga mencatat kenaikan kuat pada perdagangan pagi ini, yang membuat IHSG tinggalkan level terendah bulan ini.
Saham PT Aneka Tambang Tbk atau ANTM menguat 220 poin atau 7,72 persen ke level Rp3.070 per saham. Saham PT Timah Tbk atau TINS bahkan melonjak 7,88 persen, sedangkan saham PT Telkom Indonesia Tbk atau TLKM naik 2,80 persen.
Sebelumnya, pada pukul 09.10 WIB, IHSG sudah melesat lebih dari 3,5 persen ke level 6.221,44. Penguatan itu menjadi kelanjutan tren positif yang telah terjadi sepanjang pekan lalu.
Sentimen pasar juga diperkuat oleh penguatan rupiah. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia pukul 10.20 WIB, rupiah menguat 163 poin atau 0,91 persen ke posisi Rp17.697 per dolar AS.
Pada waktu yang sama, IHSG tercatat melesat 262 poin atau 4,36 persen ke posisi 6.269 setelah dibuka di level 6.118. Penguatan rupiah biasanya menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat membantu menekan kekhawatiran terhadap arus modal keluar dan beban emiten yang memiliki kebutuhan valuta asing.
Selain itu, penguatan juga terlihat pada kelompok saham unggulan. Data pembukaan perdagangan yang dikutip Antara menunjukkan indeks LQ45 naik 13,38 poin atau 2,24 persen ke posisi 601,83, ketika IHSG dibuka menguat 111,07 poin atau 1,85 persen ke level 6.118,73. Kenaikan LQ45 memberi sinyal bahwa reli tidak hanya terjadi pada indeks utama, tetapi juga menjangkau saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid.
Baca Juga: IHSG Awal Pekan Loyo, 5 Saham Ini Jadi Beban
Jika dibandingkan dengan posisi terendah 52 minggu di sekitar 5.317, level IHSG pada pukul 10.19 WIB di 6.263,38 menunjukkan kenaikan sekitar 17,8 persen. Dengan jarak tersebut, IHSG tinggalkan level terendah yang sempat menjadi perhatian pelaku pasar dalam beberapa waktu terakhir.
Dari pergerakan tersebut, pelaku pasar juga perlu melihat volume transaksi dan sebaran kenaikan saham. Reli yang ditopang banyak sektor biasanya lebih sehat dibandingkan penguatan yang hanya bergantung pada beberapa saham berkapitalisasi besar.
Pemulihan hampir 18 persen dari titik terendah itu menunjukkan sentimen investor mulai membaik setelah pasar saham domestik sempat berada dalam tekanan. Namun, kenaikan besar dalam waktu relatif cepat juga membuat pelaku pasar perlu mencermati daya tahan reli tersebut.
Saham Perbankan Besar Jadi Penentu Arah
Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi faktor penting IHSG tinggalkan level terendah, karena memiliki bobot besar terhadap pergerakan indeks. Ketika BMRI, BBRI, dan BBNI bergerak serempak menguat, dampaknya langsung terasa pada IHSG.
Kinerja saham tambang BUMN juga ikut memperkuat indeks. Kenaikan ANTM dan TINS memberi tambahan dorongan dari luar sektor perbankan, sehingga penguatan IHSG tidak hanya bertumpu pada satu kelompok saham.
Meski IHSG tinggalkan level terendah, pelaku pasar masih akan mencermati keberlanjutan penguatan ini. Pergerakan saham bank besar, emiten tambang BUMN, saham Telkom, serta aliran dana asing menjadi faktor yang dapat menentukan apakah momentum kenaikan dapat bertahan.
Pada perdagangan pagi Senin, kombinasi kenaikan saham perbankan, tambang, telekomunikasi, rupiah, dan LQ45 membuat IHSG tinggalkan level terendah dengan jarak yang semakin lebar. Posisi 6.263,38 menjadi acuan sementara pasar untuk melihat apakah indeks mampu menjaga level psikologis di atas 6.200. (Sol)




